Laporkan Masalah

SANTRI TANGGAP BENCANA (SANTANA): Sebuah Studi tentang Respons Kelompok Agama terhadap Bencana Alam di Lamongan, Jawa Timur

MOHAMMAD ROKIB, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.Phill

2011 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Bencana alam seperti banjir yang rutin terjadi di Indonesia telah menyebabkan banyak relawan yang muncul dari berbagai arena, termasuk arena agama. Sejauh ini, kemunculan relawan dari arena agama kurang mendapat perhatian dari para peneliti ilmu sosial-budaya. Untuk mengisi kekurangan tersebut, tulisan ini terpusat pada pengalaman relawan kelompok agama bernama Santana (Santri Tanggap Bencana) di Lamongan, Jawa Timur. Kelompok ini adalah bagian dari sebuah pesantren bernama Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) yang menekankan aspek-aspek religius dan berusaha merealisasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Kelompok ini memberikan makna keagamaan terhadap peristiwa bencana di samping berusaha memberikan pertolongan fisik pada korban bencana. Tujuan studi ini adalah mendeskripsikan secara etnografis respons kelompok Santana atas bencana banjir tidak hanya sebagai fenomena alam tetapi juga fenomena sosial-budaya. Studi ini memeriksa hubungan antara makna bencana dan praktik sosial yang dilakukan Santana. Melalui cara kerja etnografis, studi ini menemukan banyak simbol yang dimunculkan Santana terkait dengan bencana alam. Dengan menggunakan konsep Spradley tentang relational theory of meaning (1979), simbolsimbol tersebut dianalisa agar menunjukkan makna secara tepat. Di samping itu, makna respons Santana juga diidentifikasi melalui simbol-simbol kunci sebagai tafsir atas praktik sosial mereka (Ortner, 1973). Studi ini menyatakan bahwa makna bencana bagi Santana didominasi oleh pengetahuan keagamaan. Dengan merujuk pada teks-teks agama, bencana dan korban bencana dipandang sebagai orang lemah (mustad’afin). Implikasinya, konsep mustad’afin mendorong Santana untuk menolong korban bencana yang dikategorikan sebagai orang miskin dan yatim. Konsep ini menginspirasi Santana untuk merealisasikan aktifitas tanggap bencana. Komitmen mereka terhadap ajaran agama melalui konsep mustad’afin telah menggerakkan tidak hanya pemberian pertolongan material tetapi juga penguatan spiritual terhadap korban bencana.

Natural disasters which occur regularly in Indonesia have caused many volunteer groups to emerge from different group of society, including religious arena. However, the emergence of religious volunteer groups has received considerably less scholarly attention. This paper focuses on the experiences of the religious volunteer group called Santana (santri tanggap bencana) in Lamongan, East Java. The group is part of religious education institution (pesantren) which emphasizes religious aspects and attempts to realize religious values in everyday life. The group gives religious meaning to the experience of disaster and the efforts to help to the victims. The aim of this study is to describe the ethnography of Santana’s response to the flood disaster in Lamongan as not only a natural but also a cultural phenomenon and a social practice. The study examines the relation between the meaning of disaster and the social practices conducted by Santana. Through the ethnographic fieldwork, I found a large number of religious symbols referring to disaster. These symbols are intertwined with one another. By using Spradley’s concept of relational theory of meaning (1979), I analyze symbols that refers to the other symbols in order to pinpoint the exact meaning. I also identify the meaning of disaster response through key symbols as the interpretation of social practice (Ortner, 1973). This study reveals that the meanings of natural disaster are predominantly based on religious knowledge. Referring to the religious text, disaster victims are categorized as weak people (mustad’afin). Islamic tenets require Santana to helping victims through their interpretation of mustad’afin concept as poor people and orphan. This concept has inspired Santana to realize social activism. Their commitment to the religious tenets involves not only giving material aid but also promoting spiritual empowerment. This gives insight into the dynamic of how religious groups manifest their religious value by providing both material and spiritual aid.

Kata Kunci : bencana alam, tanggap bencana, mustad’afin.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.