Laporkan Masalah

PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA PADA MASYARAKAT PAPUA: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA TERHADAP NOVEL TANAH TABU KARYA ANINDITA SISWANTO THAYF

Lalu Alwan Haryadi, Prof. Dr. C. Soebakti Soemanto, S.U.

2011 | Tesis | S2 Sastra

Masalah dalam penelitian ini adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap penduduk asli Papua yang berada di sekitar perusahaan pertambangan yang digambarkan dalam novel Tanah Tabu (TT) karya Anindita Siswanto Thayf. Tujuannya utama penelitian ini adalah untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan persoalan pelanggaran HAM dan persoalan lain yang menyangkut ketimpangan dan problematika di Papua yang digambarkan dalam novel TT. Penelitian ini menggunakan teori sosiologi sastra sebagai pisau analisis. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dan menggunakan metode pengumpulan data dan analisis data. Hasil penelitian yang disusun dalam tesis ini menunjukkan bahwa : 1) nilai HAM tidak begitu saja terumuskan di dalam novel TT, tetapi tercermin di balik cerita-cerita yang dituturkan oleh pengarang; 2) novel TT sebagai karya sastra memberikan petunjuk adanya pelanggaran nilai-nilai HAM yang dialami sekarang dan menyoroti pelanggaran terhadap nilai-nilai HAM di masa mendatang yang masih kabur; 3) hadirnya pelanggaran nilai-nilai HAM dalam novel TT sebagai objek formal dalam penelitian ini sangat bermanfaat sebagai titik tolak refleksi atas keadaan yang terjadi pada masa kini; 4) refleksi pelanggaran HAM dalam novel TT melalui perspektif hak asasi pribadi, sosial budaya, ekonomi, hukum dan peradilan, dan politik menunjukkan bahwa pelanggaran HAM tersebut terjadi akibat kemiskinan, kebodohan, kultur yang patriarkis, ekspliotasi sumber daya alam, kepentingan politik, bisnis, arogansi oknum aparat, dan kurangnya perhatian penguasa terhadap penduduk asli Papua; 5) kualitas pelayanan publik yang masih memposisikan dirinya sebagai birokrat bukan sebagai pelayan masyarakat, hal ini akan menghasilkan pelayanan publik yang buruk dan cenderung untuk timbulnya pelanggaran HAM; dan 6) sentralisasi kekuasaan yang terjadi selama ini terkadang tidak memuaskan masyarakat, bahkan berdampak terhadap timbulnya berbagai pelanggaran HAM. Sementara itu, otonomi khusus daerah yang diterapkan di Papua masih belum efektif dalam pelaksanaannya karena belum siapnya pemerintah daerah dan masyarakat Papua dalam mengelola daerahnya sendiri.

The problem in this study is a violation of Human Rights (HAM) against indigenous Papuans in the vicinity of mining companies portrayed in the novel Tanah Tabu (TT) by Anindita Siswanto Thayf. The main aim of this study is to reveal and describe the issues of human rights violations and other issues relating to inequality and the problems in Papua, which is described in the novel TT. This study uses sociological analysis of literature as a knife. This type of research is qualitative and descriptive study using data collection methods and data analysis. The results are compiled in this thesis showed that: 1) the value of human rights are not just formulated in a novel TT, but is reflected behind the stories told by the author; 2) TT's novel as a literary work gives a hint of the values of human rights violations suffered by current and highlight violations of human rights values in the future is still vague; 3) the presence of violations of human rights values in the novel TT as a formal object in this study is very useful as a starting point for reflection over the circumstances that occurred in the present; 4) reflection of human rights violation in the novel TT through the perspective of individual rights, social, cultural, economic, legal and judicial, and political show that human rights violations occurred as a result of poverty, ignorance, a patriarchal culture, ekspliotasi natural resources, political interests, businesses, apparatus arrogance, and lack of attention to the ruling against indigenous Papuans; 5) quality of public services is still positioned it self as a bureaucrat rather than as a public servant, this will result in poor public services and tend to the emergence of human rights violations; and 6) the centralization of power that occurred during this sometimes does not satisfy the community, even impacting on the incidence of various human rights violations. Meanwhile, the special autonomy in Papua region is still not effective in its implementation because the unprepared local government and the Papuan people in managing their own country.

Kata Kunci : novel TT, sosiologi sastra, Papua, dan pelanggaran HAM.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.