PROGRAM SIMPAN PINJAM KELOMPOK PEREMPUAN (SPP) DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA MISKIN DI KECAMATAN PANJATAN KAB KULON PROGO (Studi Kelompok SPP di Desa Garongan, Kanoman dan Cerme)
IKA WIJAYANTI, Drs. Soetomo, M.Si.
2011 | Tesis | S2 Sosiologi minat Kebijakan dan Kesejahteraan SosialPenelitian mengenai Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) didasarkan pada banyaknya jumlah penduduk miskin di Kecamatan Panjatan. Kemiskinan disebabkan sulitnya mengakses modal, baik untuk mengembangkan usaha maupun membuka usaha. Untuk melihat keberhasilan dari program SPP di Kecamatan Panjatan tahun 2009, penelitian ini menggunakan analisis before after, yaitu dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah menerima program. Partisipasi perempuan dilihat dari keaktifan dalam tahapan-tahapan program. Pengembangan dan keberlanjutan usaha merupakan tolak ukur dari peningkatan kesejahteraan penerima dana. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif untuk mendalami, memahami serta menjelaskan fenomena yang terjadi. Data yang digunakan berasal dari kelompok-kelompok SPP, tim UPK, dan Kepala Desa. Data-data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Kecamatan Panjatan adalah salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Kulon Progo. Secara umum wilayah Kecamatan Panjatan merupakan daerah datar dengan ketinggian sampai dengan 100 meter dari permukaan air laut. Potensi yang ada di Kecamatan Panjatan seperti pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, industri rumah tangga dan pertambangan. Berdasarkan data jumlah penduduk tahun 2009, Kecamatan Panjatan memiliki jumlah penduduk 42.411 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 20.811 jiwa dan perempuan sebanyak 21.677 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 12.000 KK. Temuan dalam penelitian ini adalah tingkat partisipasi perempuan cukup baik. Walaupun masih ada yang dipengaruhi oleh aparat. Dalam tahapan-tahapan program masyarakat diberi kapasitas dan wewenang untuk mengelola program secara mandiri sehingga mereka yang menentukan yang terbaik buat mereka. Dana SPP terbukti memberikan manfaat kepada penerima dana, karena sebagian besar dapat meningkatkan usaha dan usaha mereka tetap berlanjut walaupun sudah tidak meminjam dana SPP kembali terutama untuk RTM. Beberapa penerima dana SPP tidak menggunakan dana untuk usaha, dana malah digunakan untuk konsumsi kebutuhan yang mendesak. Penelitian ini juga menemukan tidak konsistenya pembagian dana SPP, karena banyak dana yang diberikan ke perempuan dengan status non RTM. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberikan saran bahwa, (1) sebaiknya masyarakat terutama perempuan diberi penjelasan lebih intensif mengenai pentingnya pemberdayaan perempuan melalui program SPP, (2) Dana yang diturunkan jangan memakan waktu lama karena akan digunakan untuk modal usaha penerima dana SPP (3) dana SPP harus seluruhnya diberikan kepada perempuan dengan status RTM (4) perlunya pendampingan berkala kepada penerima dana SPP.
The study about Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP, Women Group’s Saving and Loan) is based on the number of poor population in Panjatan Sub-district. The poverty is mainly because of difficulty in accessing working capital both for starting and developing business. To observe the success of the program in the sub-dictrict in 2009, the study uses Before After analysis that is by comparing the condition before and after receiving the program. Women’s participation can be seen from their involvement during the program’s phases. Business development and sustainability becomes the parameter of the fund beneficiaries’ improved welfare. The study uses qualitative-descriptive method to explore, understand and explain the emerging phenomenon. The data taken from SPP groups, UPK team and village chief are collected through observation, in-depth interviews and documentation. Panjatan Sub-district is one of the sub-districts in Kulonprogo District which is in general occupied by flat lands at 100 m above the sea level with farming, husbandry, fisheries, plantation, home industry and mining as its potential resources. Based on 2009 data, the sub-district is inhabited by 42,411 population consisting of 20,811 male and 21,677 female population, meanwhile 12,000 of whom are household heads. The finding of the study reveals that the women’ participation is quite good despite influence by local apparatus. During the phases of the program, the community is given capacity and authority to self-manage the program to allow them to find the best one for themselves. The SPP fund proves to benefit the beneficiaries as it mostly can promote and sustain their business although they no longer borrow SPP fund especially for RTM. Some beneficiaries, in fact, have misused the fund. Instead of using the fund for running their business, they used it for fulfilling their urgent needs. The study also finds out inconsistent distribution of the fund as some has been disbursed to non RTM women. Based on the finding, the researcher suggests that (1) the community, particularly women should be given more intensive dissemination on the urgency of women empowerment through SPP program, (2) it should not take a long time to disburse the fund as the beneficiaries will soon use it for working capital (3) the SPP fund should all be distributed to RTM women (4) periodic assistance should be given to the fund beneficiaries.
Kata Kunci : Program SPP, Pemberdayaan Perempuan, Rumah Tangga Miskin, dan Kesejahteraan.