Laporkan Masalah

ALTERNATIF PENGELOLAAN SITUS LAMLAGANG DI KECAMATAN BANDA RAYA, KOTA BANDA ACEH

Ida Hasanah, S.Hum, Prof. Dr. Inajati Adrisijanti

2011 | Tesis | S2 Arkeologi

Situs Lamlagang merupakan salah satu peninggalan sumber daya arkeologi Islam di Kota Banda Aceh, di dalam situs tersebut terdapat dua buah kompleks makam yaitu Kompleks Makam Raja Reubah dan Kompleks Makam Raja Jalil. Selama ini kondisi kedua kompleks makam tersebut mengalami kerusakan. Di sisi lain, masyarakat serta stakeholder lain kurang menunjukkan kepeduliannya terhadap sumber daya arkeologis itu, terutama terhadap Kompleks Makam Raja Reubah. Bahkan terkadang beberapa kegiatan masyarakat berdampak negatif terhadap kelestarian sumber daya arkeologis tersebut. Kompleks Makam Raja Reubah sendiri dalam pengelolaannya berpeluang menciptakan konflik. Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut maka ada dua permasalahan yang difokuskan dalam penelitian ini yaitu bagaimana selama ini masyarakat Banda Aceh memaknai arti penting Situs Lamlagang, dan alternatif pengelolaan seperti apa yang diberikan terhadap pengelolaan Situs Lamlagang. Secara keseluruhan penelitian ini menggunakan kerangka kerja CRM mulai dari identifikasi lokasi dan objek sampai kepada alternatif pengelolaan yang ditawarkan dalam pengelolaan Situs Lamlagang. Penelitian ini menggunakan metode analisis perbandingan kualitatif. Tahap pengumpulan data yang dilakukan adalah: Observasi langsung, studi pustaka, serta wawancara. Data-data yang ditemukan akan dianalisis dengan memakai analisis artefak, analisis nilai penting objek amatan, serta analisis persepsi stakeholder dengan menggunakan dua buah alat bantu analisis yaitu analisis pemetaan konflik, dan analogi bawang bombai. Merujuk kepada analisis yang dilakukan terlihat bahwa permasalahan yang timbul dalam pengelolaan Situs Lamlagang disebabkan kurangnya pemahaman Masyarakat Lamlagang serta stakeholder lain terhadap peraturan-peraturan hukum yang mengatur tentang BCB, begitu juga dengan pemahaman stakeholder terhadap nilai penting situs, serta minimnya koordinasi yang dilakukan oleh stakeholder dalam pengelolaan situs. Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang terjadi di Situs Lamlagang maka ditawarkan alternatif pengelolaan yang meliputi perlindungan dan pemanfaatan situs tersebut. Adanya alternatif pengelolaan diharapkan akan memberikan nilai positif dalam pengelolaan Situs Lamlagang begitu juga terhadap sumber daya arkeologi lainnya yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam.

Archaelogical Site of Lamlagang is one of Islamic Archaelogical heritages in Banda Aceh. This site consist of two tomb complexes. They are tomb complex of King Reubah and King Jalil. In present day, both tomb complexes are in terrible condition. On the other site, the society and other stakeholders show less attention for both Archaelogical resources, particularly to the tomb complex of King Reubah. Sometimes, several community activities give negative impact to these Archaelogical resources. Furthermore, in its management, the tomb complex of King Reubah also has a potential opportunity to create conflict. Based on the statements above, it can be concluded that there are two points of problem. First, how the society of Banda Aceh considered the significance of lamlagang site. Second, what kind of management alternative that can be implemented. Overal, the researcher uses CRM framework to identify location, object and alternative management that offered in managing archaelogical Site of Lamlagang. In addition, this research is employed by using qualitative comperative analysis method. In collecting the data, researcher utilises direct observation, library research, and interview. All the data are analyzed based on artifact analysis, significance analysis of object observations, and stakeholder analysis by using two analysis instruments: namely, the analyzes of conflict mapping and the analogy of onion. Based on the analysis above, it can be summurized that the problems which appear in managing the site of Lamlagang are caused by lack of understanding of the society and other stakeholders on the legal rules governing about the BCB, lack of understanding of stakeholders about the importance of the site, and lack of coordination made by stakeholders in managing the site. Based on the problems that occur on the Site Lamlagang, it offers an alternative management which includes the protection and utilization of the site. The existence of alternative management is expected to give a positive value in the management of Lamlagang Site as well as upon other archaeological resources that exist in Nanggroe Aceh Darussalam.

Kata Kunci : Pengelolaan, Situs Lamlagang, Masyarakat, Desa Lamlagang, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.