PERAMALAN DAN PERINGATAN DINI BANJIR KOTA SOLO BERDASARKAN DATA HUJAN
BONDAN WAHYUSARI KUSUMO, Prof. Dr. Ir. Sri Harto Br., Dip.H.
2011 | Tesis | S2 Teknik SipilBanjir yang terjadi di kota Solo, selanjutnya disebut sebagai Kota Surakarta, pada 26 Desember 2007 merupakan banjir besar yang terjadi selain banjir Maret 1966. Debit puncak banjir Desember 2007 mencapai 2075 m3/s sedangkan kapasitas pengaliran di outlet Jurug di Kota Surakarta hanya 1500 m3/s. Penelitian ini bertujuan menganalisa besarnya hujan yang berpotensi menyebabkan banjir, mengetahui besarnya waktu peringatan serta kemungkinan penggunaan sistem peramalan dan peringatan dini banjir Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan software HEC-HMS untuk pemodelan hidrologi dengan daerah kajian dari pintu spillway Waduk Wonogiri hingga outlet Jurug di Kota Surakarta. Daerah hulu waduk tidak dimodelkan hanya limpasan waduk diasumsikan konstan 0 dan 400 m3/s. Peramalan banjir dilakukan untuk hujan kala ulang 2, 5, 10, 25, 50, 100, 250 dan 500 tahun menggunakan dua nilai ambang, yaitu kapasitas pengaliran di Jurug sebesar 1500 m3/s dan debit puncak banjir tahun 1966 sebesar 2000 m3/s. Tanpa limpasan Waduk Wonogiri, ambang 1500 m3/s di Jurug diidentifikasi pada jam ke 17.1 dan ambang 2000 m3/s pada jam ke 18.1 dari saat dimulainya hujan. Dengan limpasan dari waduk 400 m3/s, ambang 1500m3/s di Jurug diidentifikasi pada jam ke 15.6 dan ambang 2000 m3/s pada jam ke 15.9 dari saat dimulainya hujan. Waktu peringatan yang dimiliki Kota Surakarta sebesar 5.6-6 jam sebelum banjir. Status Siaga Banjir untuk Kota Surakarta akan dikeluarkan apabila hujan rerata DAS telah mencapai 95 mm pada kondisi ada limpasan dari Waduk Wonogiri atau 131 mm pada kondisi tidak ada limpasan waduk.
Flood disaster in Solo or Surakarta on December 26, 2007 was one of big events beside that in year 1966. The flood peak in December 2007 reached 2075 m3/s while flow capacity at Jurug was 1500 m3 /s. The objectives of this study are to analyze rainfall depth which will most likely cause flood in Surakarta, the expected warning time available to mitigation actions, and to analyze the possibility of flood forecasting and warning system. This study was using HEC-HMS to model the Upper Bengawan Solo watershed, spread from spillway of Wonogiri Dam to Jurug at Surakarta. Catchment area of Wonogiri Dam was not modeled, only the outflow to the downstream area instead, which was assumed to be constant 0 and 400 m3 /s. Flood forecasting was held for rainfall with annual exceedance probability 0.5; 0.2; 0.1; 0.04; 0.02; 0.01; 0.004 and 0.002 for two thresholds, i.e 1500 m3 /s as flow capacity at Jurug and 2000 m3 /s as peak flow of flood event in 1966. Without any flow from Wonogiri Dam, 1500 m3 /s at Jurug can be identified after 17.1 hours while 2000 m3 /s after 18.1 hours since the beginning of the rainfall. During 400 m3 /s of constant outflow from Wonogiri Dam, threshold 1500 m3 /s and 2000 m3 /s can be identified after 15.6 hours and 15.9 hours since the beginning of the rainfall, respectively. By that time of recognition, the expected warning time for Surakarta was 5.6-6 hours prior the flood event. The flood warning will be issued after average rainfall depth reached 95 mm with additional 400 m3 /s of constant outflow from Wonogiri Dam or 131 mm when there is no outflow from Wonogiri Dam.
Kata Kunci : peringatan dini, banjir, Surakarta