Laporkan Masalah

STATUS KETAHANAN PANGAN, ASUPAN MAKANAN, DAN AKTIVITAS FISIK SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA OBESITAS PADA IBU RUMAH TANGGA MISKIN DI KOTA YOGYAKARTA

Digna Niken Purwaningrum, Prof. dr. Hamam Hadi, MS,Sc.D.

2011 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang : Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan utama di Indonesia. Status tidak tahan pangan rawan terjadi pada masyarakat miskin dan berhubungan dengan alokasi penggunaan pendapatan pada konsumsi pangan yang tinggi energi yang kemungkinan dapat menyebabkan obesitas. Selain ketahanan pangan dan faktor asupan, aktivitas fisik diduga berperan sebagai faktor risiko obesitas, terlebih pada individu yang tinggal di tempat yang kurang menguntungkan di perkotaan. Tujuan : untuk mengetahui faktor risiko terjadinya obesitas pada ibu rumah tangga miskin di Kota Yogyakarta. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol. Kasus adalah ibu rumah tangga miskin yang mengalami obesitas (IMT≥25), kontrol adalah ibu rumah tangga miskin yang tidak mengalami obesitas (IMT<25). Lokasi penelitian di Kelurahan Bumijo dan Pringgokusuman, Kota Yogyakarta. Penentuan sampel menggunakan metode purposive dengan menentukan kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel minimal kasus 69 orang dan kontrol 69 orang (1:1) dengan matching pada umur. Uji statistik chisquare, Mc.Nemar dan conditional logistic regression dilakukan untuk mengidentifikasi variabel yang merupakan faktor risiko. Hasil : Subyek penelitian terdiri dari 70 orang kasus dan 70 orang kontrol. Tidak ditemukan perbedaan karakteristik antara kedua kelompok. Status tidak tahan pangan lebih banyak terjadi pada kelompok kontrol (91,43%), proporsi asupan energi berlebih mencapai 32,86% pada kelompok kasus, lebih tinggi dari kelompok kontrol (24,29%). Asupan lemak berlebih pada kelompok kasus mencapai 30% sedangkan pada kelompok kontrol mencapai 28,57%. Aktivitas fisik yang rendah mencapai 40% pada kelompok kasus, sedangkan pada kelompok kontrol mencapai 10%. Uji Mc.Nemar menunjukkan status ketahanan pangan, asupan energi, asupan lemak tidak berhubungan bermakna dengan obesitas (p>0,05; OR 0,67 ; 1,5 ; 1,1). Sebagian besar (95,71%) subyek penelitian memiliki asupan serat yang rendah, asupan serat tidak berhubungan dengan obesitas. Aktivitas fisik berhubungan dengan obesitas (p=0,0001 ; OR 8). Uji conditional logistic regression menunjukkan aktivitas fisik merupakan faktor risiko dominan bagi terjadinya obesitas (R2=0,1916). Kesimpulan : Status ketahanan pangan belum menjadi faktor risiko obesitas pada rumah tangga miskin di Yogyakarta, asupan energi dan asupan lemak memberikan kontribusi terhadap terjadinya obesitas walaupun pengaruhnya lebih kecil dibandingkan aktivitas fisik.

Background: Poverty is a major problem in Indonesia. Status of food insecurity is prone to happen to poor community and is associated with the allocation of income for food consumption of high energy that may cause obesity. Apart from factor of food security status and food intake, physical activity is believed to have role as risk factor of obesity, particularly in individual living in disadvantaged situation such as urban slump areas. Objective: To identify risk factors for the prevalence of obesity among poor housewives in Yogyakarta Municipality. Method: This was a case control study. The case group were obese poor housewives (BMI≥25); and the control group were non obese poor housewives (BMI<25). Locations of the study were Bumijo and Pringgokusuman, two areas which have the highest number of poor family in Yogyakarta municipality. Samples were taken purposively using inclusion and exclusion criteria. Each group consisted of minimum 69 people (1:1) matched according to age. Chi square statistical test, Mc.Nemar and conditional logistic regression were used to identify variables of risk factor. Result: There was no difference in characteristics of the two groups. Food insecurity more commonly happened in the control group (91.43%), proportion of excessive energy intake reached 37.86% in the case group, higher than the control group (24.29%). Excessive fat intake in the group reached 30% whereas in the control group 28.57%. Less physical activity reached 40% in the case group, and 10% in the control group. The result of Mc. Nemar test showed status of food security status, energy intake and fat intake had no significant association with obesity (p>0.05; OR 0.67; 1.5; 1.1). Intake of dietary fiber had no significant associated with obesity (p>0,05). Physical activity was associated with obesity (p=0.0001; OR 8). The result of conditional logistic regression showed physical activity was dominant risk factor for the prevalence of obesity (R2=0.1916). Conclusion: Food security status was not a risk factor for obesity in poor families living in Yogyakarta municipality; energy intake and fat intake contributed to the prevalence of obesity though the influence was smaller than physical activity.

Kata Kunci : faktor risiko, obesitas, ibu, miskin


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.