PENGARUH PERBAIKAN AGREGAT KASAR BANTAK DENGAN MENGGUNAKAN BUTON GRANULLAR ASPHALT PADA CAMPURAN HRS – BA
FRICE LAHMUDIN DESEI, Dr. Ir. Latif Budi Suparna, M.Sc.
2011 | Tesis | S2 Mag. S. & T.TransportasiUpaya mendapatkan suatu material yang sudah tersedia secara alami untuk digunakan sebagai material perkerasan jalan adalah yang diinginkan. Namun disamping memerlukan jumlah deposit yang cukup besar, material juga harus mampu memberikan parameter-parameter spesifikasi yang diisyaratkan. Penelitian ini mencoba memanfaatkan material bantak yang memiliki kadar keausan dan tingkat penyerapan di bawah standar untuk diperbaiki sifat-sifatnya sehingga bisa memenuhi syarat spesifikasi. Penelitian dilakukan dengan cara membuat rancangan penyelaputan agregat kasar menggunakan Buton Granular Asphalt (BGA) yang ditambahkan Aspal Peremaja, kemudian diuji kadar keausan dan tingkat penyerapannya yang selanjutnya dijadikan sebagai aggregat kasar pada campuran aspal panas HRS- Base. Untuk mendapatkan kadar aspal optimum ada 5 variasi kadar aspal dibuatkan benda uji, masing-masing sebesar 5%, 5,5%, 6%, 6,5%, dan 7%, kemudian seluruh benda uji dilakukan pemeriksaan sifat-sifat Marshall. Pengujian selanjutnya adalah pengujian durabilitas serta pengujian kuat tarik aspal (Indirect Tensile Strengt Test). Hasil penelitian menunjukkan nilai abrasi aggregat kasar bantak semula sebesar 69,23% turun menjadi 32,5% sedangkan Nilai penyerapan yang semula sebesar 4,86% turun menjadi 2,63%. Dari pengujian Marshall menunjukkan, Nilai Density meningkat seiring penambahan kadar aspal, hal yang sama juga terhadap Nilai VFWA hanya benda uji dengan kadar aspal 6,5% dan 7% yang memenuhi syarat spesifikasi. Untuk Nilai VMA semua benda uji masih memenuhi syarat spesifikasi sedangkan Nilai VITM hanya benda uji dengan kadar aspal 6,5% yang memenuhi syarat. Nilai Stabilitas pada seluruh benda uji meningkat melampaui batas minimum yang disyaratkan, demikian halnya dengan Nilai Marshall Quotient. Nilai rata-rata dari sifat-sifat Marshall tadi didapatlah nilai kadar aspal optimum sebesar 6,65%. Untuk pengujian durabilitas menunjukkan bahwa campuran ini memiliki Indeks Kekuatan Sisa Marshall sebesar 91,5% angka ini memenuhi spesikasi yang disyaratkan minimum 80%, dengan nomor sampel benda uji terbaik adalah nomor 3. Sedangkan hasil uji ITS memberikan nilai Tensile Strength Ratio (TSR) dari benda uji perendaman 24 jam dan benda uji tanpa perendaman sebesar 81,27% hal ini memenuhi persyaratan minimum 80% (Asphalt Institute, 1996).
Efforts to obtain natural material to be used as pavement materials is wanted. However, besides the large requirement of deposits, material should also be able to provide specific parameters required. This research attempts to exploit the material bantak of which wear and absorption rate below the standard. By this research, the properties of this material will be tried to be improved to meet the specific requirement. Research is carried out by making coarse aggregate design covered by Buton Granular Asphalt (BGA) and added with fluxing asphalt. The fluxing asphalt will be tested for its levels of wear and absorption which is then served as a coarse aggregate in hot mix asphalt HRS-Base. To obtain the optimum asphalt content, 5 different specimens are created with asphalt content at 5%, 5.5%, 6%, 6.5%, and 7%. All the specimens are examined with the properties of Marshall. The next step is testing the durability and tensile strength of asphalt. The results showed bantak coarse aggregate abrasion value’s of 69.23% decrease to 32.5% while the value of the original absorption of 4.86% decrease to 2.63%. From the Marshall test, it can be seen that density values increase with the addition of bitumen. Similar thing happens to the VFWA value, but only specimens with binder content of 6.5% and 7% are eligible. For VMA value, all the specimens still meet specification required, while the value of VITM only specimen with of 6.5% asphalt content are eligible. Stability value of all specimens grows beyond the required minimum value, so does the Marshall Quotient value. From the average value of the Marshall Properties, optimum asphalt content is obtained. It is 6.65%. Durability testing shows that this mixture has Index of Retained Marshall of 91.5%. This figure meets the minimum specification required, 80%, with the most appropriate specimen is the number 3. The value of Tensile Strength Ratio (TSR) from specimen with 24 hours of immersion and specimens without immersion is 81.27%. It meets the minimum requirement of TSR which 80% (Asphalt Institute, 1996).
Kata Kunci : Bantak, BGA, Marshall test, ITS, HRS-Base.