Laporkan Masalah

KAJIAN POTENSI DAN PENGEMBANGAN EKOWISATA BIRDWATCHING DI TAMAN NASIONAL MANUPEU TANAH DARU

Benediktus Rio Wibawanto, Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc.

2011 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru yang terletak di Sumba, dengan luas 87.984 ha memiliki keanekaragaman burung yang cukup tinggi yang dapat dijadikan potensi untuk pengembangan ekowisata birdwatching. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode daftar jenis Mackinnon pada empat jalur birdwatching di Padiratana dan Kambata Wundut, tercatat sebanyak 57 jenis burung yang terbagi dalam 32 famili. Melalui penilaian (skoring) analisis daya tarik burung untuk wisata berdasarkan indikator kelangkaan dihasilkan 3 jenis burung yang termasuk dalam kategori sangat menarik yaitu burung Julang sumba (Rhyticeros everetti) dan Kakatua sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata) dan Punggok wengi (Ninox rudolfi) serta 21 jenis burung menarik dan 33 jenis burung kurang menarik Penentuan jalur birdwatching prioritas untuk pengembangan ekowisata birdwatching melalui analisis menggunakan Indeks Neu menghasilkan jalur birdwatching 2 Kambata Wundut sebagai prioritas pertama, jalur 4 Sungai Bronjong Padiratana pada prioritas 2, jalur 1 Padiratana pada prioritas 3 dan prioritas terakhir jalur 3 Kanabuwulang. Didukung kekuatan seperti budaya megalitik Sumba dan aksesbilitas yang mudah, melalui analisis SWOT dihasilkan rekomendasi strategi agresif dalam pengembangan ekowisata birdwatching di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru yaitu menjadikan Padiratana dan Kambata Wundut sebagai model ekowisata birdwatching kolaboratif, pemberdayaan masyarakat, penyusunan produk ekowisata birdwatching yang inovatif serta meningkatkan marketing dan promosi.

Manupeu Tanah Daru National Park located in Sumba Island, with an area of 87,984 ha, has a relatively high diversity of birds that can be used as the potential for birdwatching ecotourism development. Based on the research by using MacKinnon Listing Species Method, in all birdwatching track in Padiratana and Kambata Wundut, resulted 57 birds species that are divided in 32 families. Through scoring analysis of bird attraction for tourism, based on scarcity indicators, resulted 3 species of birds in very interesting category, there are Sumba hornbill (Rhyticeros everetti) and Sumba cockatoo (Cacatua sulphurea citrinocristata), Sumba boobook (Ninox rudolfi), 21 species in attractive and 33 species in low atrractive category. Determination of birdwatching track priority for ecotourism development through Neu Index Analysis, resulted second track in Kambata Wundut as a first priority, fourth track in Padiratana at second, first track in Sungai Bronjong Padiratana at third priority and third track in Kanabuwulang at last priority. Supported strengths such as the Sumba megalithic culture and easy accessibility, through SWOT analysis recommended aggressive strategies of birdwatching ecotourism development in Manupeu Tanah Daru National Park there are set Padiratana and Kambata Wundut area as collaborative birdwatching ecotourism model, community development, innovative birdwatching ecotourism products and marketing and promotion improvement.

Kata Kunci : Taman Nasional Manupeu Tanah Daru, pengembangan ekowisata birdwatching, Sumba.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.