Laporkan Masalah

PERJUMPAAN ‘ISLAM BANJAR’ DAN ‘MODERNITAS’ Negosiasi Gaya Hidup Anak Muda Banjar di Banjarmasin Kalimantan Selatan

Mariatul Asiah, Dr. Y. Argo Twikromo, MA.

2011 | Tesis | S2 Antropologi

Kota Banjarmasin sejak lama dikenal sebagai kota seribu sungai yang kental dengan nuansa religius. Kini, tampaknya pembangunan diarahkan untuk mengkonstruksi citra kota ini sebagai kota yang modern dan religius. Simbolsimbol modernitas itu hadir melalui mall, kafe, warnet, tempat bilyard, dengan kesemarakan dan berbagai aktivitas yang menyertainya. Di lain pihak, simbolsimbol religiusitas Banjar pun tampak dari keberadaan masjid dan langgar, lengkap dengan maraknya kegiatan-kegiatan keagamaan. Semua itu ditawarkan untuk menjadi pilihan masyarakat, khususnya pada anak muda Banjar. Tampaknya, hibriditas merupakan hasil dari proses negosiasi mereka di tengah himpitan nilai-nilai 'Islam Banjar' dan 'modernitas' yang berkontestasi dalam balutan anek tawaran tersebut. Budaya hibrid tampak dalam gaya hidup anak mudah Banjar yang selain menjalankan keislamannya dalam berbagai kegitan keagamaan, tak melepaskan pula ketertarikan mereka pada kehidupan modern dan mengambil bagian dalam gemerlap mall dan kafe. Masjid dan mall bagi anak muda Banjar merupakan arena perjumpaan modernitas dan Islam Banjar yang terus berkembang dan berubah. kemodernan atau pun kesalehan anak muda Banjar mereka tampilkan melalui apa saja yang mereka kenakan, media apa yang mereka gunakan, dan sebagainya. Mereka pergi ke mall, kafe, karaoke dan hiburan lainnya, namun tetap rajin sholat dan aktif ke pengajian. Secara khusus, pencitraan diri sebagai anak muda yang modern dan religius itu tampak dalam cara mereka berpakaian, mengenakan asesori, dan bagaimana mereka mengartikulasikan dirinya diruang publik. Diruang-ruang itulah mereka menampilkan diri sebagai anak muda yang 'gaul tapi tetap islami'. Itulah pilihan gaya hidup yang mereka jalni dalam menyambut modernitas sekaligus menegaskan identitasnya sebagai muslim banjar. Tesis ini saya garap dengan metode penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data yang saya gunakan ialah observasi partisipasi, wawancara, dan membaca bahan pustaka. metode analisis yang saya gunakan ialah metode interpretif. tesis ini bertujuan melihat bagaimana anak muda Banjar mengkonstruksi identitasnya dalam konteks perubahan yang begitu pesat dan bagaimana mereka menjadi bagian dari kehidupan modern dengen tetap menegaskan identitasnya sebagai Urang banjar.

Banjarmasin City has long been known as a city of a thousand rivers and is thick with religious nuances. Now, it seems that development is directed to construct the image of this city as the modern and religious. The symbols of modernity comes through the malls, cafes, internet cafes, billiard places, with the splendor and variety of activities that accompany it. On the other hand, the symbols of Banjarese religiosity were apparent on the presence of mosques and langgar, complete with the rise of religious activities. All of those are offered to the people, especially to the youth of Banjar. Apparently, hybridization is result of negotiation process of the youth in the middle of the crush of values of 'Islam Banjar' and 'modernity' which are contestating in their various bid. Hybrid culture apparent in the lifestyle of the youth who live their life as moslem by active in various religious activities, do not let go of all their interest in the realities of modern life and take part in the glitzy malls and cafes. Mosques and malls, for the youth of Banjar, are arenas meeting of modernity and the Islam Banjar which is evolving and changing. Modernity or the young Banjarese piety can be seen through what they do, where they go, what they talk, what they wear, and what media they use, and so forth. They went to the mall, cafe, karaoke and other entertainment, but remain diligent in prayer and active to the recitation. In particular, imaging theirself as youth who are seemed modern and religious in the way they dress, wearing accessories, and how they articulate themselves in public spaces. In these spaces they present themselves as young people who 'hanging out but still Islamic'. Those are the lifestyle choices that they live in welcoming modernity and at the same time assert their identity as Banjarese. I did this thesis using the method of qualitative research. To collect data, I used the method as follows: participation-observation, interviews, and analysis of library materials. The aim of this thesis is to look at how young people construct their identity in the context of so rapidly changes and how they become part of modern life while still assert their identity as Banjarese.

Kata Kunci : Anak muda Banjar, identitas, modernitas, Islam Banjar, Hibridisasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.