MEDIA DAN BUDAYA PENJAJAGAN PASANGAN HIDUP PADA MASYARAKAT BATAIK MANDAILING PADANG LAWAS DI SUMATERA UTARA
M. Arief Efendi Hasibuan, S.Sos. I., Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, MA.
2011 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan MediaProses saling mengenal bagi setiap individu sudah merupakan naluri bagi manusia yang hidup di dunia. Manusia diciptakan agar dapat saling mengenal untuk bisa saling berinteraksi satu dengan individu lainnya. Perkenalan bagi setiap orang banyak macam ragam tujuannya, ada yang ingin berteman, memperbanyak relasi, dan bahkan ada yang ingin kenal lebih jauh sebagai pendamping hidunya kelak. Proses penjajagan dalam menentukan pasangan hidup ini di setiap daerah mungkin ada, namun berbeda namanya. Di Padang Lawas proses penjajagan pasangan hidup ini dikenal dengan nama Marhusip. Marhusip merupakan tradisi berbisik antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan pada malam hari dalam menentukan pasangan hidup dengan berbalas pantun. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana tradisi marhusip ini berjalan dan bagaimana keberadaannya setelah dipergunakannya handphone di kalangan remaja di Padang Lawas. Selain itu juga hendak dilihat implikasi kultural yang ditampilkan oleh remaja setelah mereka menggunakan handphone. Penelitian ini menggunakan metode penelitian entografis, dengan teknik pengambilan data wawancara dan observasi di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan mendasar dalam penggunaan media sebagai alat untuk menjajagi pasangan hidup yaitu dari media marhusip ke media SMS melalui sarana handphone. Menggunakan marhusip si lakilaki bisa langsung mendapatkan jawaban dari si perempuan. Sementara pada SMS, si laki-laki harus menunggu lama untuk bisa mendapatkan jawaban dari si perempuan. Keterbatasan marhusip terdapat pada masalah waktu kegiatan, yaitu hanya malam hari saja; sedangkan handphone tidak terikat oleh batasan waktu tertentu. Implikasi dari penggunaan media handphone dalam proses penjajagan pasangan hidup ini dapat dilihat dalam bentuk: a. Hilangnya sifat kolektif-kolegial para laki-laki yang dulunya pada waktu marhusip masih dilakukan. b. Hilangnya rasa malu, munculnya sifat berani serta tumbuhnya sikap egois pada diri si perempuan. c. Penggunaan media SMS di satu sisi berhasil mengurangi konsep ketidakadilan gender, sementara di sisi lain juga semakin menumbuhkan sensitifitas relasi kuasa perempuan terhadap laki-laki.
A process of getting to know other people’s characters is actually a part of human instinct. Men are created this way in order to be able to interact with other individuals. Relationships, based on its goals, are varied ranging from gaining friends, relations, to finding life-partners. The process of getting to know someone (in order to find a life-partner) and getting intimate with that individual exist in almost every region in Indonesia, although they may have different names. In Padang Lawas, such process is called Marhusip. Marhusip is a tradition in which whisper is employed by a man toward a woman, and vice versa, in order to determine whether he/she is the right life-partner candidate. This tradition is conducted by whispering some pantun (Indonesian specific type of poem). This research is done in order to analyze how this tradition is conducted now especially in the aftermath of cellphone trend widespreading among Padang Lawas teenagers. This research also wishes to see cellphone’s cultural implications to this tradition. Since this research is an ethnography research, it requires interview and field documentation. This research shows that there have been basic changes in the employment of media to find life-partners in Padang Lawas; from marhusip to cellphone’s text messaging. Using marhusip a man can immediately get an answer from a woman. Whereas using text message, a man has to wait longer for a woman’s reply. Nevertheless, marhusip has a shortcome in time; it can only be done at night time, while cellphone has no specific time limitations. The implications of using cellphone in finding life-partner can be seen in: a. The lost of men’s collective-collegial which once existed in marhusip. b. The lost of shame, the birth of assertiveness and selfishness in women. c. The using of text message, in one hand, has successfully eliminated gender inequality, but on the other hand, has also grown women’s sensitivity over power relation toward men or even preserving its own gender injustice.
Kata Kunci : Marhusip, Short Message Service (SMS), Gender, Pasangan Hidup