UNSUR MORAL TENTANG KEMATIAN : TINJAUAN SEMIOTIK-PRAGMATIK TERHADAP NOVEL PERJALANAN KE AKHIRAT KARYA DJAMIL SUHERMAN
SINGGIH SAMPURNO, S.Pd., Dr. Novi Siti Kussuji I., M.Hum.
2011 | Tesis | S2 SastraPerjalanan ke Akhirat (PkA) karya Djamil Suherman (DS) merupakan novel yang mula-mula terbit sebagai cerita bersambung dalam majalah Sastra No. 3-7 Tahun II, 1962. Novel PkA dinyatakan meraih hadiah kedua pada majalah tersebut. PkA merupakan novel bertemakan agama yang memuat tanda-tanda yang menarik dan mendapat tanggapan pembaca, baik dalam negeri maupun luar negeri. Tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan pandangan kematian dalam novel PkA, makna “kehidupan†setelah kematian melalui tanda-tanda dalam novel PkA, dan pesan moral tentang kematian dalam novel PkA. Penelitian ini menggunakan teori semiotik-pragmatik. Hal ini didasarkan bahwa karya sastra merupakan sistem tanda yang bermakna dan tanda-tanda tersebut baru mendapat makna apabila diberi makna oleh pembacanya. Metode yang digunakan adalah semiotik-pragmatik. Pada tataran semiotik, pusat pemaknaan atau kata kunci terletak pada “kehidupan†setelah kematian dalam novel PkA. Tataran pragmatik digunakan untuk mengungkap pesan moral tentang kematian berdasarkan hasil pemaknaan “kehidupan†setelah kematian dalam novel PkA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan kematian dalam novel PkA didasarkan pada pandangan Islam. Pandangan Islam terhadap kematian berdasarkan Alquran dan Hadis yang menyatakan bahwa setelah kematian ada kehidupan, yaitu akhirat. Pemaknaan “kehidupan†setelah kematian melalui tanda-tanda dalam novel PkA adalah peristiwa kematian, alam kubur, hari kiamat, hari kebangkitan, mahsyar, safaat, hari penghisaban, dan neraka dan surga. Hasil pemaknaan tersebut sebagai dasar untuk mengungkap unsur moral tentang kematian. Unsur moral yang dapat diungkap dalam novel PkA adalah (a) unsur moral tentang peristiwa kematian, yaitu ikhlas dan sabar, tabah, dan beramal yang baik; (b) unsur moral tentang alam kubur atau alam barzah, yaitu berusahalah mati syahid dan hindari bunuh diri; (c) unsur moral tentang hari kiamat dan kebangkitan, yaitu jauhi riba, kendalikan hawa nafsu: (d) unsur moral tentang hari kebangkitan, yaitu hindari perilaku bebas dalam bidang seni, jauhi munafik, dan hindari takabur; (e) unsur moral tentang penghisaban, yaitu anjuran menikah dan hormati martabat wanita, beribadah dengan ikhlas dan iman, jangan pindah agama (murtad), iman pada takdir Allah, dan jadilah orang tua yang baik; (f) unsur moral tentang neraka dan surga, yaitu ikhlas menerima kematian anak yang belum baligh, jauhi syirik, dan jauhi hasut, fitnah, dengki, dan curiga.
Perjalanan ke Akhirat (PkA) by Djamil Suherman (DS) represented a novel that was originally published as serial stories in Sastra magazine No. 3-7, Year II, 1962. PkA was given second award of the magazine. It was a novel with religious theme containing interesting signs that found responses of both domestic and international readers. The study aimed at uncovering the insight of death, the meaning of “life†after death through the signs and the moral messages of death found in the novel. It used semiotic-pragmatic theory on the ground that literature works represented meaningful sign system and the the meaning of the signs was given by the readers. It employed semiotic-pragmatic method. At semiotic level the center of the meaning or the key word was “the life†after death in the novel. Pragmatic level was used to uncover the moral messages of the death based on the meaning of “the life†after death in the novel. The results of the study showed that the insight of death in the PkA was based on Islamic insight. It was based on al-Quran and al-Hadits suggesting that there would be a life after death, which was the hereafter or the beyond (akhirat). The meaning of “the life†after death was given through the signs found in the novel, which were death happening, the place and time between death and the Last Judgement (barzakh), judgement day, resurrection, gathering place on the day of resurection (mahsyar), blessing (safaat), the Last Judgement (hisab) and the final determination of heaven or hell. The morals found in the novel were (a) the morals of death happening, which were being patient and sincere or with whole heart and soul in facing death; (b) the morals of the barzakh were trying to die as martyr while fighting for Islam principles and not commiting suicide; (c) the morals of the judment day and the resurrection were not practicing usury, controlling appetite and desire, (d) the morals of the Last Judgement were avoiding the freedom in art area, denying hipocrisy and arogance; (e) the morals of the final determination were following the advise to marry and paying respect to women dignity, being submissive to Allah with whole heart and soul and firm faith, not being apostate, believing in Allah’s decree, and being good mothers and wives; (f) the morals of hell and heaven were wholheartedly accepting the death of children before maturity, denying the belief in more than one God (syirik), not agitating, not being libelous, not being envy, and not being suspicious.
Kata Kunci : unsur moral, kematian, semiotik-pragmatik