KONSTRUKSI PERAN GENDER DALAM DISKURSUS AIR SUSU IBU Studi Perempuan Buruh Pabrik di Propinsi DIY
DESINTHA DWI ASRIANI, S.Sos, Dr. Dewi aryani S.
2011 | Tesis | S2 SosiologiPenelitian ini mengkaji tentang relasi antara pilihan peran gender perempuan dengan keberadaan diskursus Air Susu Ibu (ASI). Latar belakang yang dicermati adalah terus menurunya jumlah ibu menyusui terutama secara eksklusif. Padahal aktivitas menyusui selama enam bulan (eksklusif) merupakan salah satu yang diperhatikan dalam pencapaian MDG’s 2015. Oleh karena itu pemerintah atau negara memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan idealisasi tersebut. Sementara di sisi yang lain, perempuan yang menyusui selama enam bulan bahkan mencapai usia bayi 2 tahun juga bukan persoalan sederhana. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan pilihan perempuan yang sangat dinamis. Perempuan saat ini tidak hanya menjadi objek dimana keberadaannnya sering hanya sebagai makhluk domestik. Namun perempuan juga memilki kemampuan untuk berada di ranah publik terutama sebagai buruh. Kondisi inilah yang ditengarai menjadi dilema bagi perempuan ketika dihadapkan pada diskursus ASI. Untuk dapat menyusui dengan maksimal perempuan buruh membutuhkan fasilitas-fasilitas pendukung baik secara infrastruktur seperti tempat memerah juga secara sosial seperti dukungan dan kemudah akses informasi. Dan perempuan buruh cenderung mengalami keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Maka aktivitas menyusui terancam kembali mengarah pada upaya untuk mendomestifikasikan perempuan. Perempuan seperti hanya memiliki pilihan yang dikotomis, menyusui atau bekerja yang bermuara pada melekatnya peran gender feminin dimana nilai tentang kelemahan (lack) menjadi sesuatu yang harus disandangnya. Namun penelitian yang menggunakan pendekatan agen dan struktur (Bourdieu 1984) menemukan beberapa pengalaman yang menarik. Perempuan sebagai agen memiliki kemampuan yang cair dalam menentukan pilihannya. Dirinya tidak hanya terkotak pada ruang publik atau domestik untuk menunjukan kediriannya. Keberadaan di publik yang tidak sesuai dengan kehendaknya untuk tetap menyusui justru menunjukan bahwa di ruang publik tersebut memiliki unsur diskriminatif terhadap perempuan. Demikian halnya wacana untuk tetap menyusui yang tidak disertai dengan perangkat-perangkat pendukung di tempat kerja juga akan menjebak perempuan pada pengekangan. Oleh karena itu perempuan sebagai subjek memiliki pilihan yang di luar batas dikotomis tersebut yakni menjadi perempuan yang adrogini. Dalam konsep androgini inilah perempuan memiliki keluwesannya dalam memilih. Dirinya tidak perlu khawatir terjebak pada dua pilihan yang sebetulnya tidak dapati dipertentangkan. Kesadaran tentang androgini mampu melahirkan strategi-strategi bagi perempuan untuk selalu menyandingkan seluruh pilihannya seperti bekerja sekaligus menyusui. Dengan demikian peran gender yang androgi merupakan peran yang tidak terbatas pada jenis kelamin, ruang dan waktu.
This research has the focus on the study about women understanding toward their gender role when they are faced by the values contained in the breastfeeding discourse. The women awareness to understand and have the behavior based on the character of androgyny gender role gives the interesting description in their process in facing the breastfeeding discourse that apparently contains the patriarchy values. By using Bourdieu theory about structure and agency, the experience subject of labor women becomes the important thing to describe the dynamic that happen. Labor women as the representation of the women participation in the public area apparently are not adequate to give the answer about the structure which has the commitment toward the empowerment. This reality is signed by the emergence of new trap for women that are still in the patriarchy logic where the gender role is still in limited dichotomy. The binary opposition becomes so clear when women face with breastfeeding discourse. Women return to be placed in two choices without the negotiation space, working or breastfeeding. However, as an agent, as outlined in the habitus concept, women always have strategy to face that structure oppression. The awareness or existence of the androgyny gender role becomes the foundation of women behavior to produce the capital in fighting the mainstream of patriarchy strengthened by breastfeeding discourse. The ownership of capital, lastly, can make women run their choices including breastfeeding and becoming the productive subject all at once. The research with the ethnography approach emphasizing on thick description element has the advantage to form the inspirational discourse about women. Women are the various subjects that should be in the policy corridor or the structure providing the chance of fluid negotiation. Besides, the emergence of the awareness of the androgyny gender role is also the adequate contributive part for the effort to create the gender equality. In the androgyny understanding, the gender role is not in dichotomy on the sex, space, and time but it is centered on the subject awareness to choose.
Kata Kunci : Woman, Androgyny, Breastfeeding