SIKAP ANTIKORUPSI SURAT KABAR DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Analisis Wacana terhadap Editorial Flores Pos dan Pos Kupang Tahun 2009-2010
Yonas Klemens Gregorius Dori Gobang, Dr. Phil. Ana Nadhya Abrar, M.E.S.
2011 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Ilmu KomunikasiKehadiran surat kabar dalam sistem komunikasi massa mendorong perubahan. Demikian juga keberadaan surat kabar daerah di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam hal ini Flores Pos dan Pos Kupang menjadi media yang sangat penting dalam mendorong perubahan khususnya di wilayah kemiskinan dan korupsi masih merajalela. Hal ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi kedua surat kabar daerah tersebut mengingat keduanya adalah institusi media yang bermanfaat dalam mendorong kemajuan dan keadilan bagi masyarakat NTT. Surat kabar daerah harus dapat menunjukkan sikapnya yang jelas terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Ada berbagai ragam persoalan hidup yang menimpa masyarakat NTT yang perlu disikapi oleh kedua surat kabar ini. Salah satunya adalah masalah korupsi. Pertanyaannya, bagaimana sikap surat kabar daerah, Flores Pos dan Pos Kupang dalam menghadapi masalah korupsi di NTT selama tahun 2009-2010? Realitas NTT yang rakyatnya miskin dan pemerintahannya yang korup inilah yang mendorong peneliti untuk mengkaji sikap media (pers daerah). Peneliti menggunakan analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis/CDA) model Teun A. van Dijk. Data yang dikumpulkan adalah data teks editorial dari kedua surat kabar daerah, data kognisi penulis editorial dan data konteks sosial. Data teks editorial diperoleh dengan teknik dokumentasi berupa kliping editorial dari masing-masing surat kabar. Data kognisi penulis editorial diperoleh dengan teknik wawancara. Sedangkan data konteks sosial diperoleh dari laporan LSM PIAR tentang korupsi di NTT. Peneliti tidak hanya menganalisis teks semata-mata, tetapi juga menganalisis kognisi sosial dan konteks sosial. Temuan dalam penelitian ini adalah kedua surat kabar daerah, Flores Pos dan Pos Kupang memiliki sikap menolak korupsi. Perbedaannya terletak pada cara menyampaikan sikap antikorupsi. Hal ini dapat dilihat pada proses terbentuknya teks editorial yang melibatkan kognisi penulis dan konteks yang ada ketika teks editorial tersebut diproduksi. Cara menyampaikan pesan antikorupsi dari kedua surat kabar daerah ini tentu dipengaruhi oleh bermacam faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi produksi media adalah faktor dominasi kekuasaan pemilik media. Kedua surat kabar daerah ini memberikan corak yang berbeda dari aspek kepemilikan media. Flores Pos cenderung lebih independen dalam memproduksi teks editorial, sedangkan Pos Kupang cenderung dibatasi independensi sang penulis dalam memproduksi teks editorial. Catatan ini mempertegas bahwa realitas media sekarang dapat terkooptasi oleh kepentingan pemilik modal, pasar atau negara. Dengan ini pula mendukung konsep dasar analisis wacana van Dijk bahwa media tidak mutlak netral. Karena itu pembaca harus lebih kritis lagi untuk menilai sikap media.
Presence of newspaper in mass communication system leads to change. Existence of local newspaper in Nusa Tenggara Timur province (NTT) such as Flores Pos and Pos Kupang is very important in leading to change, particularly in area which poverty and corruption exist. It is special challenge for both newspapers, because they are media institution benefiting in supporting development and justice in NTT. Local newspaper should indicate clear standing against issues the society faces. There are various life problems the NTT society faces that both newspapers should consider. One of the issues is corruption. The question is how attitude of local newspaper, Flores Pos and Pos Kupang, in facing corruption in NTT in period of 2009-2010? Reality in NTT with poor people and corrupt government urged researcher to analyze position of media (local press). Researcher used Teun A. van Dijk’s Critical Discourse Analysis (CDA) model. Data collected was editorial text of newspapers, cognition data of editorial writer and social context data. Editorial text data was obtained with documentation technique in editorial clipping of each newspaper. Social context data was obtained from LSM PIAR’s report on corruption in NTT. Researcher did not only analyze text, but also analyze social cognition and social context. Finding in this research was that Flores Pos and Pos Kupang have anti corruption attitude. Their difference was on way they present anticorruption attitude. It may be seen in their process creating editorial text involving writer cognition and existing context when the editorial text is produced. The way the anticorruption message is delivered in both newspapers was influenced by various factors. One of the factors was media owner power domination. Both newspapers provided different pattern from media ownership aspect. Flores Pos tended to be more independent in producing editorial text, while Pos Kupang tended to limit writer independence in producing editorial text. The note confirms that reality of today media can be coopted by capital owner, market or state interest. It also supported basic concept of van Dijk’s discourse analysis that media is not absolutely neutral. Therefore, readers should be more critical in assessing media attitude.
Kata Kunci : Sikap surat kabar daerah, korupsi, editorial, analisis wacana