Laporkan Masalah

DETERMINAN PENYEBAB TERJADINYA UNMET NEED PROGRAM KB DI INDONESIA (Analisis Data Survei Demografi dan Kesehatan IndonesiaTahun 2007)

HARRIET QIE, DR, Prof. Dr. Muhadjir Darwin, M.P.A.

2011 | Tesis | S2 Mag.Studi Kebijakan

Hasil SDKI 2007 menunjukkan sebanyak 9,1 persen dari perempuan status kawin adalah unmet need, dan 2 dari setiap 10 kelahiran yang terjadi dalam lima tahun sebelum survei merupakan kelahiran yang tidak direncanakan. Keluarga Berencana merupakan salah satu pilar fundamental keselamatan ibu (mengurangi kematian ibu dengan mengurangi jumlah kehamilan, jumlah aborsi, dan proporsi kelahiran yang berisiko tinggi) dan untuk memenuhi hak-hak reproduksi mereka. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan dan pengaruh dari faktor-faktor demografi (umur ibu, jumlah anak hidup), sosioekonomi (tingkat pendidikan ibu, status bekerja ibu, daerah tempat tinggal, tingkat kesejahteraan, pengalaman pernah menggunakan kontrasepsi, komunikasi dengan suami tentang KB, persetujan suami terhadap KB) dan budaya (pengetahuan tentang kontrasepsi) yang dianggap sebagai prediktor yang dapat mempengaruhi terjadinya unmet need. Langkah ini penting dalam meningkatkan pelayanan KB dan mempromosikan penerimaan kontrasepsi. Metode penelitian menggunakan analisis inferensial dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survey dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional Study. Dengan menggunakan data survei demografi dan kesehatan indonesia (SDKI) tahun 2007. Uji Statistik yang digunakan adalah Uji korelasi Spearman (bivariabel) dan Regresi Logistik Biner (multivariabel). Probabilitas dan kecenderungan dilihat dari nilai Odds Ratio (OR), CI 95% dan (p≤0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang bermakna antara umur ibu, jumlah anak hidup, status bekerja ibu, tingkat kesejahteraan, daerah tempat tinggal, komunikasi dengan suami tentang KB, suami setuju dalam penggunaan kontrasepsi dan pengetahuan terhadap terjadinya unmet need di Indonesia. Kecenderungan terjadinya unmet need lebih besar pada ibu yang berusia lebih dari 20 tahun, jumlah anak lebih dari 2 orang, ibu yang tidak bekerja, tingkat kesejahteraan yang rendah, tidak pernah berkomunikasi dengan suami tentang KB, suami tidak setuju terhadap penggunaan kontrasepsi dan pengetahuan ibu yang rendah tentang kontrasepsi. Dengan memenuhi kebutuhan program keluarga berencana dapat dianggap sebagai cara untuk menjamin hak-hak perempuan dan dapat memperkecil jumlah kematian ibu akibat aborsi dari kehamilan yang tidak diinginkan. Perempuan memiliki hak untuk memilih jumlah anak-anak yang diinginkan, waktu kehamilan, dan mengambil bagian dalam pengambilan keputusan di rumah. Perlunya pemberdayaan perempuan agar dapat menyelaraskan kedudukan sejajar dengan laki-laki. Dan partisipasi pria dalam ber- KB dengan mengedepankan tanggung jawab laki-laki dalam kesehatan reproduksi.

The SDKI result, 2007 show that as much as 9.1 percent of married status women is unmet need, and 2 of every 10 births that occurred in five years before survey conducted is an unplanned birth. Family planning is one of fundamental pillars of mother safety (to reduce the maternal deaths by reducing the number of pregnancies, number of abortions, and the births proportion at high risk) and to fulfill their reproductive rights. This research is to find out the relationship and influence of demographic factors (maternal age, number of living children), socioeconomic (mother's education level, working status of mother, residence area, welfare level, experience in using contraception, communication with husbands about family planning, the husbands consent to family planning) and cultural (knowledge of contraception) are considered as predictors that may influence the occurrence of unmet need. This step is important in improving the family planning services and promoting the contraception acceptance. The research method uses an inferential analysis conducted to determine the relationship between two variables. This research is quantitative with survey method using the Cross Sectional Study Approach and Indonesian Health and Demographic Survey Data (IDHS) in 2007. The statistical test used is the Spearman Correlation Test (bivariate) and Binary Logistic Regression (multivariate). Probability and trends is seen from the Odds Ratio (OR), CI 95% and (p <0.05). The results shows that there is significant influence between maternal age, number of living children, working status of mothers, welfare level, residence area, communication with husbands about family planning, husband consent in using contraception and knowledge on the occurrence of unmet needs in Indonesia. The tendency of unmet need is greater at women who are over 20 years old, the number of children more than two, mothers who do not work, lower welfare levels, never communicate with husbands about family planning, the husband does not agree to use contraception and the lower knowledge of mothers on contraception. By fulfilling the necessary of family planning programs can be considered as a way to ensure the women's rights and minimize the number of maternal deaths due to abortion of an unwanted pregnancy. Women have the right to choose the desired number of children, time of pregnancy, and take part in decision making at home. The need for women empowerment in order can equal the status with men. And man participation in family planning by promoting male responsibility in reproductive health.

Kata Kunci : Unmet need program KB, aborsi, hak reproduksi, kontrasepsi, sosio-demografi.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.