IMPLEMENTASI LEMBAGA KEUANGAN MIKRO (LKM) KELOMPOK USAHA BERSAMA (KUBE) DI YOGYAKARTA
Dwi Astuti Andariani, S.ST, Danang Arif Darmawan, S.Sos., M.Si.
2011 | Tesis | S2 Sosiologi minat Kebijakan dan Kesejahteraan SosialPemerintah telah banyak melakukan program pemberdayaan masyarakat yang diperuntukkan bagi penduduk miskin dengan tujuan agar jumlah penduduk miskin bisa berkurang, tetapi realitanya program-program tersebut dalam implementasinya banyak yang tidak tepat sasaran dan tidak sesuai dengan kebutuhan penduduk miskin. Program LKM KUBE merupakan salah satu upaya pemerintah untuk membantu permasalahan yang di hadapi oleh fakir miskin dengan cara mengorganisir fakir miskin dalam kelompok usaha bersama dan menjadikan mereka sebagai anggota lembaga keuangan mikro kelompok usaha bersama dengan tujuan agar mereka mampu menjalin kerjasama dalam kelompok, meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan melalui kelompok, meningkatkan kepedulian sosial antar anggota kelompok dan mendekatkan keluarga miskin dengan akses permodalan sehingga dengan adanya LKM KUBE diharapkan fakir miskin mampu mengakses modal usaha dan mampu meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan sosial mereka. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana implementasi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) KUBE di Yogyakarta. Implementasi tersebut meliputi: a. Input (Sumber Daya Manusia, dukungan keuangan, peralatan, bahan, pemasaran, cara pengelolaan LKM Kube), b. proses, c. output (hasil fisik) dan d. outcomes (manfaat). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Data penelitian diperoleh diperoleh dari informan dan partisipan. Informan kunci dalam penelitian antara lain pengelola, pengawas, pengurus, anggota, pembina, dan pendamping LKM KUBE. Penentuan informan dilakukan dengan teknik Purposive Sampling. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi berperan serta (participan observation), wawancara mendalam (indepth interview) dan studi dokumentasi. Pemeriksaaan keabsahan data dilakukan dengan peningkatan ketekunan, Triangulasi (sumber, teknik dan waktu), dan menggunakan bahan referensi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori yang dikemukakan oleh James P. Lester dan Joseph Stewart (2000) dalam Winarno (2005:102), Implementasi pada sisi yang lain merupakan fenomena yang komplek yang mungkin dapat dipahami sebagai proses, keluaran (output) maupun sebagai hasil. Sedangkan aspek pemberdayaan menggunakan konsep pemberdayaan yang di kemukakan oleh Jim Ife. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dalam implementasinya LKM Kube memberikan manfaat secara ekonomi maupun sosial kepada anggotanya. Tetapi karena kesalahan dalam penentuan sasaran, mengakibatkan LKM Kube baru dapat diakses oleh kelompok masyarakat yang tergolong rentan dan miskin. Sedangkan kelompok fakir miskin yang seharusnya menjadi sasaran utama dari program ini justeru kurang dapat mengakses LKM Kube.
The government has implemented several community empowerment programs for poor in accordance to decrease the number of them. However, these programs are not well targeted and inappropriate to the poor’s needs. LKM KUBE program is designed as one of the government’s efforts to help the poor’s problems by organizing them into joint business group (kelompok usaha bersama) and putting them as the members of LKM KUBE in order to make them being able to build cooperation in their groups, to enhance their knowledge and skill through the groups, to increase their charity between the groups’ members, and also to bring them nearer with investment access. Through LKM KUBE, as it is hoped, the poor are able to access venture capital and increase their income and social prosperity. Problem formulation in this research is how the LKM KUBE has been implemented in Yogyakarta. Those implementations cover: a. Input (Human Resources, financial support, tools, material, marketing, management LKM KUBE), b. process, c. output (physics) and d. outcomes (advantage). Methods that had been used in this research is qualitative. Data had been gathered from the informants and participants. Key informants in this research are the manager, the supervisor, the board manager, members, the coach, and the associate of LKM KUBE. The informant determination was done through Purposive Sampling technique. Meanwhile, data collection technique used participant observation, indepth interview, and documentation studies. The examination of data validity had been done through increasing the diligence, triangulation (sources, technique, and time), and references. In this research, theory that had been used by the researcher is James P Lester’s and Joseph Stewart’s (2000) in Winarno’s (2005: 102). Implementation on the other side is a complex phenomenon that might be understood either as output or result. Meanwhile, the empowerment aspect uses Jim Ife’s empowerment concept. This research had concluded that in its implementation, KLM KUIBE has given a lot of advantages both economically and socially toward the members. Only because of mistakes on target determination, LKM KUBE can only be accessed by vulnerable population. Therefore, the poor group that should be the main target from this program were actually less able to access LKM KUBE.
Kata Kunci : Implementasi, Lembaga Keuangan Mikro KUBE, Pemberdayaan masyarakat dan fakir miskin