PERSEPSI MASYARAKAT BALI TERHADAP PENYAKIT RABIES
I Made Kerta Duana, Dra. Nida UI Hasanat, M.Si.
2011 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/PPKLatar belakang: Rabies adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat. Penyakit ini dapat menyerang semua jenis binatang berdarah panas, dan manusia. Di Indonesia, rabies masih merupakan penyakit endemik pada wilayah Indonesia bagian timur. Penyakit rabies di Propinsi Bali pertama kali ditemukan di Kabupaten Badung. Penyakit rabies di Bali ditularkan melalui gigitan anjing. Populasi anjing di Bali sangat padat, diperkirakan sekitar 540.000 ekor anjing atau sekitar 96 ekor/km². Merebaknya rabies di Bali perlu dijadikan pembelajaran oleh semua pihak untuk adanya perubahan pola pikir dan perilaku dalam pemeliharaan anjing serta upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit rabies. Tujuan: Mengetahui persepsi masyarakat Bali terhadap penyakit rabies, upaya pencegahan dan penanggulangannya. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD). Subjek penelitian terdiri dari masyarakat yang berisiko tertular rabies, Kepala P2MPL Propinsi Bali, kepala puskesmas, tokoh adat dan penderita suspek rabies. Data dianalisis dengan dengan metode perbandingan tetap (constant comparative method) yang terdiri dari 4 proses kegiatan, yaitu: reduksi, kategorisasi, sintesisasi dan interpretasi. Hasil dan Pembahasan Pemeliharaan anjing oleh masyarakat Bali merupakan kebiasaan turuntemurun dan tidak dilarang secara agama ataupun oleh aturan adat. Pemeliharaan anjing dengan diliarkan berpengaruh terhadap cepatnya penyebaran penyakit rabies kepada anjing dan manusia. Tingginya kasus gigitan anjing dan banyaknya korban akibat penyakit rabies menimbulkan kekhawatiran terhadap gigitan anjing di masyarakat. Hal ini juga berpengaruh terhadap perubahan pola pengobatan akibat gigitan anjing. Belum efektifnya program pemerintah seperti vaksinasi, eliminasi, promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat menyebabkan penyakit rabies semakin meningkat dan menyebar ke berbagai daerah di Bali. Kesimpulan Pelaksanaan program pencegahan dan penanggulangan rabies belum optimal. Hal ini berakibat pada rendahnya kesadaran masyarakat untuk mendukung program pemberantasan rabies. Hal yang perlu diperhatikan adalah kurangnya peran serta masyarakat dan penyuluhan yang kurang efektif selain peningkatan efektivitas pelaksanaan vaksinasi dan eliminasi anjing dengan tetap memperhatikan nilai budaya masyarakat.
Background: Rabies is a viral disease that causes acute encephalitis (inflammation of the brain) in warm-blooded animals, and human. The rabies virus infects the central nervous system, ultimately causing disease in the brain and death. Rabies in Bali was firstly discovered in Badung District. Rabies was transferred by dog bite. Bali has enourmous dog population, the number reach approximately 540.000 animals or about 96 animals per square kilometer. Meanwhile, domesticated dog population only about 30 percent, the rest is wild dog that live on the street. Rabies in Bali need to be considered by all parties to change the mindset and the behaviour of keeping dog as pet, also efforts in solving of rabies Objective: To recognizing the perception of Balinese people regarding rabies, preventing and solving efforts of rabies. Method: This research is a qualitative research using phenomenology approach. The data is collected by conducting indepth interview technique and focus discussion group (FGD). The subject of the research consists of community with risk of rabies infection in Bali. The data is analysed by using constant comparative method, consists of 4 activity processes; reduction, chategorisation, sintesisation, and interpretation. Result and Discussion: Dog domestication by Balinese community has been conducted for hundreds of year, passed on from one generation to the next, and no prohibition from religion or tribe regulation. Keeping dog at home then set them free will accelerate rabies infections to other dog and human. The high number of dog bite and victims of rabies has caused unsecurity in the community. This will also affect the changing pattern of medication of dog bites. Conclusion: The ineffectiveness of government program to combat rabies, such as vaccination, elimination, health promotion and community empowerment, stimulate the spread of rabies throughout Bali. Some matters that need to be notified are the lack of people’s participation and ineffective illumination, also promoting effective implementation of vaccination and eliminating dog while still considering the culture value of local community.
Kata Kunci : persepsi, rabies, anjing, promosi kesehatan