PENCAPAIAN KB PRIA VASEKTOMI DI KECAMATAN DLINGO DAN KECAMATAN SEWON KABUPATEN BANTUL
NOVITRISIA WIDOWATI, SH, Dr. Agus Heruanto Hadna, M.Si.
2011 | Tesis | S2 Mag.Studi KebijakanSalah satu metode kontrasepsi pria dalam Program Keluarga Berencana adalah vasektomi, namun pencapaiannya masih jauh tertinggal karena adanya beberapa hambatan dalam pelaksanaannya. Pencapaian KB pria MOP di Kabupaten Bantul dapat dikatakan lebih bagus dari pada Kabupaten/ Kota lainnya di D.I. Yogyakarta. Di Kabupaten Bantul, Dlingo merupakan kecamatan perdesaan yang peningkatan pencapaiannya peserta KB MOP sangat tajam dalam kurun waktu tiga tahun terakhir antara 2007-2009. Kondisi ini bertolak belakang dengan Sewon sebagai kecamatan perkotaan. Dari keadaan ini rumusan penelitian adalah mengapa terdapat perbedaan pencapaian kesertaan KB pria vasektomi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan pencapaian dan hasilnya memberikan manfaat dalam upaya peningkatan kesertaan KB pria vasektomi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang membandingkan kondisi di dua kecamatan, dengan menggunakan sumber data primer dan data sekunder. Subjek dalam penelitian mempertimbangkan keakuratan dan validasi informasi sehingga jumlah tergantung pada hasil yang dikehendaki. Uji keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. Teknik analisis data yang dilakukan adalah reduksi, penyajian data dan verifikasi atau penarikan kesimpulan sementara yang kemungkinan akan menjawab masalah. Hasil penelitian yang mempengaruhi kesertaan pria vasektomi adalah peran dari tokoh masyarakat yang menjadi peserta aktif KB pria vasektomi. Mereka menjadi tokoh panutan dalam KB Pria vasektomi. Yang diperkuat dengan sikap dan perilaku petugas, dukungan teman, tokoh masyarakat/ tokoh agama dan paguyuban yang aktif memberikan kontribusi yang besar dalam peningkatan kesertaan, serta paguyuban sebagai wadah untuk sosialisasi dan motivasi. Hasil penelitian merekomendasikan up date data, dialog dengan tokoh masyarakat/ tokoh agama juga sosialisasi tentang vasektomi. Untuk menjaga kelestarian dan meningkatkan jumlah kesertaan KB pria perlu dilakukan pengiatan, pembinaan paguyuban KB pria sehingga dapat terwujudnya harapan untuk meningkatkan kesejahteraan. Pemberian penghargaan kepada peserta KB vasektomi dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana atas kinerjannya.
One of male contraception methods in family planning program is vasectomy; however, its achievement has been still far behind due to several obstacles in its implementation. The achievement of MOP male contraception in Bantul district is considered as better compared to that of in other regencies / municipality in Yogyakarta. In Bantul, Dlingo is a rural sub-district with highest achievement of MOP family planning participants during the last three years of 2007-2009. Such a condition is contrary to that found in Sewon as an urban subdistrict. Based on the fact, the research problem formulation concerned with why there were differences in the achievement of male vasectomy participation level. This study aimed to identify factors influencing the differences in the achievement, and its results would be beneficial in improving the participation level of vasectomy male contraception. This was a qualitative study comparing the conditions of the two subdistricts through the use of primary and secondary data. Subjects in the research considered information accuracy and validation; hence, its number was subject to the expected results. Data validity testing was performed by utilizing triangulation. Data analysis techniques involved data reduction, presentation, and verification, or tentative conclusion drawing possibly answered the research problem. The result of the research which influenced vasectomy male participation involved was role of public/ religious leaders became active participant of vasectomy. They were became figure for their society. This was supported by officers’ attitude and behavior, peer support, public/ religious leaders and community association that actively provided greater contribution in improving participation, and association as the media of socialization and motivation. The results recommended to perform data updating, dialogues with public leaders/religious leaders, and also socialization concerning vasectomy. To maintain and increase the male contraception participation level, it is necessary to perform establishment, activation, supervision on the association of male contraception participants; therefore, it can realize the expectation on welfare improvement. Recognition awarded to vasectomy participants and Family Planning Field Officer for their achievement is also necessary.
Kata Kunci : vasektomi, sosialisasi, penghargaan.