Laporkan Masalah

KELOMPOK ETNIS DALAM PELUKAN ELITE LOKAL (Studi Tentang Politik Etnis Dalam Pemilukada Kota Ternate Tahun 2010)

Irmon Machmud, SIP, Wawan Mas'udi, S.I.P., M.P.A.

2011 | Tesis | S2 Politik dan Pemerintahan

Studi ini menekankan pada politik etnis yakni bagaimana instrumentasi (komodifikasi) etnis di di arena elektoral khususnya dalam pemilukada Kota Ternate tahun 2010. Dengan kata lain etnis atau etnisitas menjadi “jualan” atau dikapitalisasi oleh para elite lokal dalam upaya memperebutkan sumber-sumber kekuasaan. Etnis menjadi instrumentasi penting dalam arena kontestasi politik lokal tersebut. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analytic descriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan merujuk pada data primer dan data sekunder. Sementara data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam (indepth interview) kepada mereka (informan) yang mempunyai kompetensi atau berkaitan erat dengan masalah yang diteliti, serta dokumentasi. Secara teoritis, etnis di sini hanya menjadi instrumentasi oleh para elite lokal atau dalam konsepsi Marx etnis hanya menjadi komoditas (dikomodifikasi). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa instrumentasi (komodifikasi) etnis di arena politik seperti dalam pemilukada Kota Ternate Tahun 2010 oleh elite lokal terlihat dari dimulainya pencalonan atau kandidasi calon Walikota dan calon Wakil Walikota Ternate yang beririsan etnis oleh partai politik dan calon independen. Irisan atau kombinasi etnis secara jelas nampak pada pasangan para kandidat: Ikbal-Vaya (Sanana-Makian), Sidik-Saiful (Ternate- Makian), Burhan-Arifin (Tidore-Ternate), dan Wahda-Hidayat (Makian-Ternate). Pemaketan berdasar etnis tidak hanya dilakukan oleh partai tetapi juga “ikut dijodohkan“ oleh kekuatan di luar partai, seperti kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore serta dua penguasa formal yakni Walikota Ternate dan Gubernur Maluku Utara. Temuan lain menunjukkan instrumentasi etnis juga terlihat dari bagaimana pola pendekatan elite (para kandidat) kepada kelompok etnis. Hal ini tercermin dari beberapa kegiatan bertema sosial seperti barifola (bedah rumah), Legu Gam (pesta rakyat), dan investasi di bidang pendidikan untuk etnis tertentu. Para kandidat pun rame-rame memperebutkan atau membentuk serta memimpin langsung organisasi etnis untuk memperoleh dukungan politik dari elemen etnis. Instrumentasi (komodifikasi) etnis yang lain terlihat dari bagaimana elite memproduksi isu atau wacana etnis sebagai upaya memudahkan mobilisasi massa etnis. Atas dasar temuan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa etnis atau etnisitas menjadi instrumentasi dan komoditas oleh para elite lokal di arena politik elektoral (pemilukada). Etnis dikomodifikasi sedemikian rupa sebagaimana yang dijelaskan dalam temuan di atas untuk memenangkan kontestasi politik lokal demi memperebutkan sumber-sumber kekuasaan. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi keilmuan di bidang ilmu politik dan secara praksis memberikan pelajaran penting bagaimana elite lokal memperlakukan kelompok etnis/ etnisitas dan tidak hanya sekedar menjadi komoditas yang diperjualbelikan di arena politik.

This study emphasized ethnic politics, namely how ethnic instrumentation (commodification) in electoral arena, specifically in local election 2010 in Ternate City. In other word, ethnic or ethnicity has become “merchandise” or being capitalized by local elites in effort to seize resources of power. It is highly argued that ethnic become important instrumentation in the arena of local political contestation. This research has using analytic descriptive design, qualitative approach as well as referred to both primary and secondary data. While, the data got from field observation, indepth interview to informants who have relevant competence or tightly related to the research problem, and also documentation. Theoretically, the ethnic just become instrumentation of local elites or in refer to Marxian term, ethnic just become commodity (commodificated). This research has shown that ethnic instrumentation (commodification) by local elites in political arena, like in local election 2010 in Ternate city, it has shown from commence of candidacy for mayor and vice mayor of Ternate city who are cutting off ethnicity by political party and independent candidate. The ethnic cross-cutting or combination is obvious in the candidate pairs: Ikbal-Vaya (Sanana-Makian), Sidik-Saiful (Ternate-Makian), Burhan-Arifin (Tidore-Ternate), and Wahda-Hidayat (Makian-Ternate). The combination of candidate based on ethnicity has not only used by parties but also “combined as well“ by power of outside party, such as sultanate of Ternate and Tidore, as well as two formal rulers, they are Mayor of Ternate city and Governor of North Maluku. Another findings has shown ethnic instrumentation also visible from how was the pattern of elite approach (the candidates) toward ethnic groups. This matter could be seen from several social activities such as barifola (cut open of house), Legu Gam (people party), and investment in education field for certain ethnics. The candidates have together seizing or establishing or managing directly ethnic organizations to obtain political support from elements of ethnic. Instrumentation (commodification) of other ethnics has visible from how the elites produced ethnic issues or discourses in efforts to make instant mobilization of ethnic mass. Based on the above research findings, so it is could be concluded that ethnic or ethnicity has become instrumentation and commodity by local elites in the arena of electoral politics (local election). The ethnic has been commodificated in such a manner as described in the above findings to gain victory in the local political contestation for seizing of political resources. This research is expected to make contribution of knowledge in the field of political science and practically gives outstanding lessons about how local elites have treated ethnic groups/ethnicity, and also not just become commodity that being sold in political arena.

Kata Kunci : Elite Lokal, Instrumentasi (Komodifikasi) Etnis, Pemilukada


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.