SUBJECTIVE WELL-BEING DOSEN INDONESIA YANG MENGAJAR DI PERGURUAN TINGGI DI MALAYSIA
Made Sukarsih, Prof. Dr. Endang Ekowarni
2011 | Tesis | S2 PsikologiPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi subjective wellbeing Dosen Indonesia yang mengajar di perguruan tinggi di Malaysia. Aspekaspek subjective well-being yang diteliti terdiri dari kepuasan hidup, afek positif dan afek negatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif fenomenologi bersifat deskriptis-analisis dengan wawancara mendalam untuk menggali dan mengumpulkan informasi dari 6 orang reponden, yang terdiri dari 3 orang respoden mengajar di perguruan tinggi negeri dan 3 responden mengajar di perguruan tinggi swasta. Karakteristik responden penelitian adalah laki-laki, berusia 40-60 tahun (dewasa madya), pengalaman bekerja di Malaysia 10 tahun dan keluarga ditinggal di Indonesia. Lokasi penelitian ini dilakukan di Universiti Tun Hussein Onn (UTHM) Batu Pahat, Johor Bahru dan Legenda Education Group di Mantin, Negeri Sembilan. Proses penelitian ini yaitu dengan epoche (mengesampingkan penilaian, bias dan pertimbangan terhadap sesuatu), phenomenological reduction (menuangkannya ke dalam bahasa yang dapat menjelaskan apa yang seseorang alami), imaginative variation (mencapai deskripsi struktural dari pengalaman, faktor-faktor yang mendasar dan mempengaruhi apa yang telah dialami), dan syntesis of meaning and essence (mengintegrasikan dasar dari deskripsi tekstural dan struktur yang menjadi satu pernyataan sebagai esensi pengalaman dari fenomena yang dialami secara keseluruhan). Teknik analisis dan interpretasi data dengan membuat transkrip verbatim wawancara, memahami dan mencari pernyataan dalam wawancara, bracketing, horizontalization, cluster of meaning, imaginative variation dan kemudian dipadukan menjadi satu kesimpulan.Hasil penelitian menunjukan bahwa dosen Indonesia yang bekerja di Malaysia secara umum memiliki subjective well-being yang bervariasi. Tidak semua aspek seperti: pekerjaan, kondisi ekonomi, pendidikan, kesehatan, kehidupan sosial, kepuasan dalam diri mereka bernilai tinggi. Karena mereka masih merasakan emosi-emosi negatif ditempat kerja. Meskipun mereka memiliki kepuasan yang tinggi terhadap kehidupan mereka secara umum.
This study aims to describe the condition of subjective well-being Indonesian lecturer that has taught in universities in Malaysia. Subjective wellbeing aspects examined consisted of life satisfaction, positive affect and negative affect. The research method employed the qualitative phenomenology descriptiveanalysis with in-depth interviews to explore and gather information from 6 respondents, consisting of 3 respondents teaching in public universities and 3 respondents teaching in private universities. The respondents were male, aged 40- 60 years (middle adulthood), with 10 years working experience in Malaysia and left the family in Indonesia. The study was conducted at Universiti Tun Hussein Onn (UTHM) Batu Pahat, Johor Bahru and Legenda Education Group in Mantin, Negeri Sembilan. Research process is epoche (by neglecting judgments, biases and consideration upon anything), phenomenological reduction (by expressing into a language which can describe what one's experience), imaginative variation (achieve the structural description of experience, the factors fundamental and influencing what has been experienced), and synthesis of meaning and essence (integrate the basis of textural and structural descriptions into a single statement as the essence of the experience of the phenomenon as a whole experienced). Analysis method and data interpretation are to make a verbatim transcript of the interview, understand and seek for statements in the interview, bracketing, horizontalization, clusterization of meaning, imaginative variation and combined into general conclusion. The result showed that the Indonesian lecturers working in Malaysia in general have various the subjective well-being. Not all the aspects such as: work, economic conditions, education, wellness, social life, satisfaction in themselves valuable. Because they still feel the negative emotions in workplace. Although they have a high satisfaction of their lives globally.
Kata Kunci : Subjective well-being, kualitatif fenomenologi, dosen Indonesia di Malaysia.