EPIDEMIOLOGI FILARIASIS DI DESA MUARA PADANG KECAMATAN MUARA PADANG KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN
Erwin Edyansyah, Prof. Dr. dr. Soeyoko, DTM&H., S.U.
2011 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Dasar dan BiomedisLatar Belakang : Filariasis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia terutama di daerah pedesaan. Di Indonesia berdasarkan survei yang dilaksanakan pada tahun 2000-2004, terdapat lebih dari 8000 orang menderita klinis kronis filariasis. Propinsi Sumatera Selatan sampai tahun 2009 terdapat 186 penderita filariasis kronis. Kabupaten Banyuasin jumlah kasus kronis filariasis pada tahun 2009 tercatat sebanyak 130 penderita. Jumlah penderita kasus kronis filariasis di Kecamatan Muara Padang ada 7 orang dengan 1 orang penderita kronis filariasis berada di Desa Muara Padang. Penduduk Desa Muara Padang belum pernah dilakukan pemeriksaan survei darah jari sejak dimulainya program eliminasi tahun 2002 sampai dengan sekarang. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui epidemiologi filariasis malayi di Desa Muara Padang, Kecamatan Muara Padang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan survei darah jari, pemeriksaan darah hospes reservoar (kucing), pemeriksaan L3 pada nyamuk dan pemeriksaan periodisitas mikrofilaria. Hasil : Hasil penelitian Survei Darah Jari 520 sampel tidak ditemukan positif mikrofilaria. Prevalensi filariasis 0%. Ditemukan 1 orang elefantiasis yang pembengkakan kaki di bawah lutut, menunjukkan filariasis malayi. 1 orang yang mengalami adanya gejala limfangitis desendens yang disertai dengan demam, sakit kepala, lemah tetapi kemudian hilang dan timbul kembali yang menunjukkan gejala awal filariasis malayi, namun dari hasil pemeriksaan darah tepinya tidak ditemukan mikrofilaria. Pemeriksaan darah hospes reservoar (kucing) dari 17 sampel tidak ditemukan mikrofilaria B. malayi tetapi ditemukan filaria hewan yaitu Dirofilaria repens sebanyak 11 sampel. Pemeriksaan dan pembedahan nyamuk dari 701 ekor nyamuk tidak ditemukan L3. Pemeriksaan periodisitas tidak dilakukan karena tidak ditemukannya penduduk yang positif mikrofilaria. Simpulan : Hasil survei darah jari tidak ditemukan penduduk yang positif mikrofilaria B. malayi, jadi prevalensi filariasis 0%. Pemeriksaan darah hospes reservoar (kucing) tidak ditemukan mikrofilaria B. malayi, tetapi ditemukan filaria hewan yaitu mikrofilaria Dirofilaria repens. Setelah dilakukan pembedahan terhadap 701 ekor nyamuk tidak ditemukan L3. Periodisitas mikrofilaria tidak dilakukan karena tidak ditemukan penduduk yang positif mikrofilaria.
Background : Filariasis is still a public health problem in Indonesia especially in rural areas. In Indonesia, based on a survey conducted in 2000-2004, there were more than 8000 people suffering from chronic clinical filariasis. South Sumatra Province until the year 2009, there were 186 patients with chronic filariasis. The number of chronic cases of filariasis in Banyuasin District in the year 2009 recorded as many as 130 patients. The number of patients with chronic filariasis cases in the District of Muara Padang there are 7 persons, and 1 person with chronic filariasis lives in the village of Muara Padang. A survey examination finger blood elimination program has never done in Muara Padang villagers since the start of the year 2002 up to now. Objective : The aims of this study is to determine the epidemiology of filariasis malayi in the village of Muara Padang, Padang Muara District, Banyuasin Regency, South Sumatra. Methods : This study is a descriptive cross sectional design. Data collected by finger blood survey, blood tests reservoir host (cat), L3 in the mosquito inspection and examination of the periodicity of microfilaria. Results : The results showed, 520 finger blood samples found no microfilaria. Prevalence of filariasis 0%. Found 1 persons elefantiasis the swelling leg below the knee, showing filariasis malayi. 1 person experiencing the symptoms of descending lymphangitis accompanied by fever, headache, weakness, but then disappear and come back to showed the early symptoms of filariasis malayi, but in the blood examination found no microfilaria. Blood tests reservoir host (cat) of 17 samples was not found microfilaria B. malayi but found that animal filaria Dirofilaria repens as many as 11 samples. Examination and dissection of mosquitoes from 701 mosquitoes no was found L3. Periodicity of inspection was not done because no finding of a positive population microfilaria. Conclusion : The survey results found no finger blood positive microfilariae of B. malayi in the population, so the prevalence of filariasis 0%. Blood tests reservoir host (cat) was not found microfilaria B. malayi, but discovered that animal filaria Dirofilaria repens microfilaria. No L3 of B. malayi was found in the 701 mosquitoes desection. Periodicity of microfilaria is not done because it no find a positive population microfilaria.
Kata Kunci : epidemiologi, filariasis, survei darah jari