Laporkan Masalah

Analisis Daya Saing Dan Perubahan Struktural Karet Indonesia 2000-2010

Hotman Sidauruk, Prof. DR. Mudrajat Kuncoro,

2011 | Tesis | S2 Magister Manajemen

Penanganan komoditi oleh Pemerintah adakalanya kurang memanfaatkan peralatan ekonomi yang ada, misalnya pengembangan suatu komoditi hendaknya memperhatikan keunggulan komparatif komoditi tersebut dibanding dengan negara lain yang juga menghasilkan komoditi yang sama. Keunggulan komparatif suatu komoditi dapat diukur dengan salah satu alat ukur ekonomi yang disebut Revealed Comparative Advantage (RSCA). Karet sebagai salah satu komoditi unggulan (ditinjau dari sudut penerimaan devisa) sektor non migas, masih ditangani secara partial oleh pemerintah yakni dengan memberikan hak pengaturan pembatasan ekspor apabila harga dibawah dari yang ditetapkan kepada pihak swasta yaitu GAPKINDO dan belum ditangani secara lintas sektoral, kecuali timbul masalah. Dalam perkembangannya komoditi karet ternyata tidak mengalami perubahan secara struktural yang diukur dengan Index Perubahan Struktural (IPS). Hal ini menunjukkan bahwa penanganan karet membutuhkan dukungan yang lebih intensif lagi. Dua alat ekonomi tersebut dipergunakan pada penelitian tesis ini untuk mendukung pandangan bahwa karet perlu ditangani dan didukung pemerintah untuk lebih meraih nilai tambah yang lebih tinggi demi peningkatan ekonomi secara umum dan peningkatan kesejahteraan petani karet pada khususnya. Ditemukan bahwa keunggulan komparative karet khusunya karet alam yang sangat tinggi yakni tahun 2000-2005 sebesar 0,93 meningkat menjadi 0,94 tahun 2006, menjadi 0,95 tahun 2007 , tahun 2008 kembali 0,94 dan tahun 2009 stabil 0,94 dari batas maximum 1,00. Hal ini membuktikan bahwa keunggulan komparative Indonesia di komoditi karet khususnya karet alam sangat tinggi dan malah masuk kategori 3 komoditi teratas disamping pulp & kertas serta serat tekstil. Dari sudut perubahan industri karet juga belum menunjukkan perubahan secara struktural baik ke sektor sekunder apalagi sektor tertier. Karet Indonesia masih berada pada industri primer dan hal ini ditunjukkan oleh IPS karet yang masih didominasi oleh karet alam, buka karet olahan. Tahun 2000 ekspor karet mentah adalah 97%, Karet olahan 3%, tahun 2004 sampai tahun 2009 malah ekspor karet olahan berkurang persentasenya menjadi hanya 1%. Dan ekspor karet alam 99%. Hal ini tidak menunjukkan adanya Perubahan Struktural Karet. secara persentase. Dengan RSCA yang tinggi dan belum terjadi perubahan IPS tersebut penanganan komoditi karet dilaksanakan oleh Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian. Khusus menyangkut penentuan ekspor karet diberikan kepada GAPKINDO untuk melaksanakan kerja sama Tripatit dengan negara Malaysia, dan Thailand. Kondisi tersebut merupakan ketertinggalan komoditi karet disatu sisi, namun ketertinggalan tersebut merupakan peluang disisi lain, hal inilah yang mendorong penulis untuk mengamati kondisi perkaretan Indonesia 2000-2010 ini, disamping kondisi pasar karet dunia yang cukup menjanjikan, dimana permintaan karet alam dunia ke depan akan semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan perekonomian dunia. Pemanfaatan karet sintetis diperkirakan akan berkurang dengan meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan. Produksi karet Malaysia dan Thailand diperkirakan akan terus mengalami penurunan karena kebijakan pemerintahnya lebih berkonsentrasi pada industri hilir dan juga telah mengalihkan sebagian areal tanaman karet menjadi areal kelapa sawit. Thailand diperkirakan akan menghadapi kendala dalam upaya peningkatan karet alamnya karena keterbatasan akan ketersediaan lahan yang berlokasi di wilayah bagian utara dengan kondisi marginal sehingga produktivitasnya lebih rendah serta keterbatasan dalam jumlah tenaga kerja. Indonesia sebagai negara paling berpeluang untuk mengembangkan produksi karetnya, karena memiliki keunggulan comparative khususnya karet alam, ketersediaan lahan, tenaga kerja, kesesuaian iklim dll menjadikan indonesia sangat mungkin meraih peluang ini.

Sometimes comodity policy handle by government not use economic tools, for example developing of one comodity should be concern of comparative advantage of that comodity compare to other country who produce the similar comodity too. One of Economic tools for comparing advantages is RSCA (Revealed Comparative Advantage (RSCA). Rubber as one of our superior comodity (viewed by source of income) from non oil and gas sector, still managed by government partially, which is shown by appointment of GAPKINDO as a body to act on behalf of Indonesia, except there are problem. Development progress og rubber comodity in fact there is no structural which is measured with IPS (Index Perubahan Structural). This fact express that rubber policy need more intensiveness attention from government. The two economic tools are used in this thesis research to proof that rubber comodity should be handled by government of the Republic Of Indonesia to grab more high value, economic escalation and farmer welfare as a specificly. Find that comparative advantage of rubber specifically natural rubber is very high, those are from 2000-2005 RSCA 0,93 increase to 0,94 in the year 2006, and 0,95 on 2007 , but 2008 decrease a little bit to 0,94 and stabil in 2009 on point 0,94 from maximum 1,00. This measerement shown that natural rubber comodity ha comparative advantage and categorized as one of three biggest RSCA beside pulp and textile that Indonesia has. From view of industrial tranformation, Indonesian rubber industri also not shown transformation, form primer to secondary, moreover to tertier sector. Indonesian rubber still stand on primer sector, and this is shown by IPS still dominated by natural rubber. On year 2000 amonut export of natural rubber is 97% and processing is 3%. On the contrary from 2004 to 2009 export of natural rubber increase to be 99% and processing rubber only 1%. This data shown that there is no transformation indexs With high RSCA and no transformation index, ruuber development policy wgich is now hold by Minitry Of Trade and Ministry Of Agriculture, GAPKINDO on behalf of Indonesia in tripartee cooperation with Malaysia and Thailand shoul be evaluated or refresh. Those condition above are weakness of rubber in one sides, but also opportunity in other sides. This situation motivates the writer to observe indonesian rubber condition on 2000-2010, besides expaectation of the global rubber market in the future are grown in accordance with economic escalation and increasing of awareness of environmental sustainability Malaysian and Thailand rubber production estimated should be decrease because the government policy to concentrated on the downstream sector and also divert part of the rubber area to palm oil area. Thailand and Malaysia also facing the limitation of area, which is located in the north side of Indonesia with marginal condition, so it means those area are less productivity than Indonesian area, also limitation avalability of labour Indonesia as a very potential country to develop the rubber comodity, because of higher RSCA especially in natural rubber, availability of land and labour, compatibility of climate and others should be make Indonesia grab this opportunity.

Kata Kunci : Revealed Comparative Advantage (RSCA), Index Perubahan Struktural (IPS), karet alam, ekspor karet, produksi karet, pasar karet


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.