EVALUASI KESESUAIAN LAHAN DAN OPTIMASI PENGGUNAAN LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) (Studi Kasus di Kecamatan Batee dan Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie Propinsi Aceh)
DEWI SRI JAYANTI,S.TP., Dr. Ir. Sunarto Goenadi, DAA.
2011 | Tesis | S2 Mekanisasi/Teknik PertanianSeiring terus bertambahnya jumlah penduduk dunia, permintaan pasar untuk komoditi kakao (Theobroma cacao L.), juga akan meningkat. Salah satu cara meningkatkan produksi kakao adalah dengan memperluas lahan penanaman. Pengembangan lahan untuk tanaman kakao juga tidak terlepas dari ketersediaan lahan. Sentra pengembangan tanaman kakao di Aceh terdapat di Kabupaten Pidie. Untuk menentukan potensi suatu wilayah bagi pengembangan kakao, diperlukan penilaian kesesuaian lahan. Saat ini pengembangan tanaman kakao belum dilaksanakan berdasarkan kesesuaian lahan. Tujuan penelitian adalah mengetahui kelas kesesuaian lahan tanaman kakao; mengetahui pengaruh karakteristik lahan untuk pengembangan kakao dan memperoleh tingkat kelayakan usahatani; dan optimalisasi penggunaan lahan berdasarkan kelas kesesuaian lahan. Studi kasus dilakukan di Kecamatan Batee dan Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie. Kelas kesesuaian lahan didapatkan dengan mencocokkan sifat fisik dan kimia dari lahan usahatani serta mengoverlaikan peta-peta yang sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman kakao dengan Arcview dan ArcGIS. Selanjutnya dihitung tingkat kelayakan usahatani kakao dan dilakukan optimasi menggunakan POM-QM for Windows untuk mendapatkan lahan optimum dengan keuntungan maksimum. Kelas kesesuaian lahan yang didapatkan, di Kecamatan Batee: kelas S1 (sangat sesuai) sebesar 35,42% (2.572,622 ha); S2 (sesuai) sebesar 20,31% (1.922,737 ha) dan N (tidak sesuai) sebesar 44,27% (3.572,008 ha); di Kecamatan Padang Tiji: kelas S1 (sangat sesuai) sebesar 2,72% (306,173 ha); S2 (sesuai) sebesar 92,50% (10.429,770 ha); dan N (tidak sesuai) sebesar 4,79% (539,606 ha). Sedangkan hasil analisis program linier menunjukkan bahwa luas lahan yang optimal digunakan seluas 3.475,065 ha. Keuntungan maksimum yang dapat diperoleh dengan luas lahan 3.475,065 ha adalah Rp 29.756.057.638,21 dimulai pada tahun produksi ke-7. Luas lahan aktual saat ini di Kecamatan Batee seluas 4.495,359 ha dan di Kecamatan Padang Tiji seluas 10.735,943 ha yang merupakan sumberdaya yang dapat ditingkatkan. Hal ini berarti masih besarnya ketersediaan luas lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman kakao.
As the continued increase in world population, market demand for commodity cacao (Theobroma cacao L.), also will increase. One of matter to increase cacao production is to expand planting area. Development of land cacao can not be separated from the land availability. In Aceh, central of cacao development located in Sub-province of Pidie. To determine the potential of an area for cacao development, land suitability evaluation is required. Today, cacao development has not been realized based on land suitability class. The purposes of the study are firstly to determine the land suitability class of cacao, secondly, to know the effect of land characteristics for the development of cacao farming and obtained a feasibility level, and thirdly, land use optimize based on land suitability class. Case study executed in Dictrict of Batee and District of Padang Tiji in Subprovince of Pidie. Land suitability class is obtained by comparing the physical and chemical characteristic of existing land from farming system land along with overlapping of suitable maps as according to growth standard of cacao with using ArcGIS. Furthermore, calculated rates of cacao farming feasibility and optimization done using the POM-QM (Production and Operation Management- Quantitative Methods) for Windows to obtain the optimum land with maximum profit. Result of land suitability in District of Batee are: class S1 (very suitable) in the level of 35,42% (2.572,622 ha); S2 (suitable) in the level of 20,31% (1.922,737 ha) and N (not suitable) in the level of 44,27% (3.572,008 ha); in District of Padang Tiji: class S1 (very suitable) in the level of 2,72% (306,173 ha); S2 (suitable) in the level of 92,50% (10.429,770 ha); and N (not suitable) in the level of 4,79% (539,606 ha). While the result of linear programming analysis showed that the optimum land used covering an area in the width of 3.475,065 ha. The maximum profit to be gained by 3.475,065 ha is Rp 29.756.057.638,21 at the began the 7th year of production. The actual land in District of Batee is in the width of 4.495,359 ha and District of Padang Tiji in the width of 10.735,943 ha area which is a resource that can be improved. This means that still the land avaibility that can be utilized for the devepoment of cacao crop.
Kata Kunci : kesesuaian lahan, tanaman kakao, program linier, optimasi