TEAMWORK MULTIPROFESI DALAM KONTEKS KETERBATASAN TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS SANGAT TERPENCIL DI KABUPATEN LEBONG PROPINSI BENGKULU
Purnomosidi, dr. Mubasysyir H., MA.
2011 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Untuk menyelenggarakan program-program di puskesmas dengan keterbatasan tenaga kesehatan diperlukan sebuah teamwork multiprofesi. Teamwork yang solid akan memudahkan manajemen mendelegasikan tugas-tugas organisasi. Tujuan Penelitian: Untuk meneliti dan menganalisis teamwork multiprofesi dalam konteks keterbatasan tenaga kesehatan di puskesmas sangat terpencil di Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu. Secara khusus penelitian ini ingin melihat gambaran keterlibatan multiprofesi yang ada di puskesmas dalam melaksanakan program pusksemas serta bagaimana penerapannya dalam konteks keterbatasan tenaga kesehatan di Puskesmas sangat terpencil di Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu. Metode Penelitian: Penelitian deskriptif dengan metode kualitatif, menggunakan wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Subjek pada penelitian ini adalah 8 orang pegawai yang ada di puskesmas sangat terpencil yang terdiri dari dokter umum, dokter gigi, sarjana kesehatan masyarakat, perawat dan bidan. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa keterbatasan tenaga kesehatan dapat membentuk teamwork multiprofesi. Tenaga kesehatan yang ada mau tak mau harus membentuk teamwork sebagai respon atau coping strategi, Walaupun rangkap tugas terjadi. Dengan teamwork multiprofesi, pekerjaan berat akan menjadi ringan. Tenaga kesehatan yang terdiri dari berbagai profesi dalam menjalankan semua program yang ada dipuskesmas dengan bekerjasama, walaupun terdiri dari berbagai multiprofesi tenaga yang ada dapat bekerjasama satu dengan yang lainnya dalam menjalankan program yang ada di puskesmas. Sebanyak 90% dari responden yang ada di Puskesmas Ketenong mengatakan bahwa multiprofesi di Puskesmas Ketenong dapat bekerjasama, walaupun situasi di lapangan menunjukkan bahwa tenaga kesehatan yang ada lebih mementingkan solidaritas bukan profesionalisme. Kesimpulan: Hasil penelitian ini membuktikan bahwa kerja tim (Teamwork) merupakan respon atau koping strategi dari keterbatasan tenaga di Puskesmas Ketenong. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kerjasama yang terjadi lebih mementingkan solidaritas daripada profesionalisme. Keterbatasan tenaga belum tentu dapat membentuk teamwork multiprofesi, karena teamwork multiprofesi dipengaruhi oleh komitmen/kemauan dalam bentuk rasa tanggung jawab akan tugas dan peran.
Background: To implement programs at health centers with limited health staff requires multiprofessional teamwork. Solid teamwork will enable the management to delegate organizational tasks. Objective: To study and analyze multiprofessional teamwork in the context of limited health staff at very isolated health center of District of Lebong Bengkulu. In particular the study would get an overview of multiprofessional involvement at health center in implementing programs of health center and the practice of multiprofessional teamwork in the context of limited health staff at very isolated health center in District of Lebong Bengkulu. Method: This descriptive study used qualitative method. Data were obtained through indepth interview and documentation study. Subject consisted of 8 staff at very isolated health center comprising general practitioner, dentists, bachelor of public health, nurses and midwives. Result: Limited availability of health staff could build multiprofessional teamwork. Health staff available had to build teamwork as a coping strategy despite dual duties. Multiprofessional teamwork could make hard job easier to do. Health staff comprising various professions could cooperate and become teamwork undertaking all programs at health center. Ninety percent of respondents at Ketenong Health Center said that multiprofessionals could work in team based on solidarity rather than on professionalism. Conclusion: Teamwork was a coping strategy for limited health staff at Ketenong Health Center. Teamwork was based more upon solidarity than professionalism. Limited staff could not always build multiprofessional teamwork. The teamwork was influenced more by commitment/willingness for responsibility to duties and role than by professionalism.
Kata Kunci : teamwork multiprofesi, keterbatasan tenaga, puskesmas sangat terpencil, Bengkulu