AKSEPTABILITAS DAN PEMANFAATAN PUSAT INFORMASI DAN KONSULTASI KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA (PIK-KRR) PADA SISWA SMU DI KOTA BIMA NTB
Arie Afrima, dr. Ova Emilia, SpOG., M.M.Ed., Ph.D.
2011 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/KIALatar Belakang: Tahap remaja merupakan masa transisi antara anakanak dan dewasa, hampir 1 diantara 6 manusia di bumi ini adalah remaja dan 85% diantaranya hidup di negara berkembang. Masa dimana seringkali menghadapi risiko-risiko kesehatan reproduksi, sehingga diperlukan pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja. Sekolah merupakan salah satu pusat penyampaian informasi kesehatan reproduksi yang logis. Masalah yang dihadapi adalah pemanfaatan Pusat Informasi dan Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) di sekolah masih kurang, banyak faktor yang menyebabkan rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh remaja tersebut antara lain karena akses terhadap pelayanan, kebutuhan remaja,sikap dan pelayanan kesehatan reproduksi yang diberikan kurang diterima oleh remaja. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan akseptabilitas dengan pemanfaatan PIK-KRR di sekolah pada siswa SMU di Kota Bima. Metode Penelitian: Rancangan cross sectional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 312 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan indepth interview. Pengambilan sampel dengan simple random sampling. Analisis data terdiri dari analisis univariabel, bivariabel menggunakan Chi-Square dan mutivariabel menggunakan analisis regresi logistik. Hasil: Analisis bivariabel menunjukkan hubungan yang bermakna antara pemanfaatan dengan akseptabilitas, kebutuhan dan sikap terhadap kesehatan reproduksi (p<0,05). Analisis multivariabel antara pemanfaatan dengan akseptabilitas menunjukkan hubungan yang bermakna (RP=1,5; CI95%=1,21-1,91). Variabel pemanfaatan dengan akseptabilitas tetap mempunyai hubungan yang bermakna setelah di kontrol variabel kebutuhan (RP=1,4; CI95%=1,18-1,85) begitu juga setelah mempertimbangkan variabel sikap pemanfaatan dengan akseptabilitas secara konsisten menunjukkan hubungan yang bermakna (RP=1,4; CI95%=1,11-1,95) artinya siswa yang menerima (acceptable) terhadap PIK-KRR dan mempunyai sikap positif terhadap kesehatan reproduksi akan meningkatkan pemanfaatan PIK-KRR sebanyak 1,4 kali dibandingkan siswa yang tidak menerima PIK-KRR. Kesimpulan: Pemanfaatan PIK-KRR di sekolah mempunyai hubungan dengan akseptabilitas, kebutuhan dan sikap terhadap kesehatan reproduksi.
Background: Adolescent period is a transition period from childhood to adulthood. One sixth of people on earth are adolescents and 85% of them live in developing countries. Adolescents often encounter risks of reproductive health so that reproductive health service becomes necessary for adolescents. School is a center of the dissemination of reproductive health information. The problem is that PIK-KRR in schools is under utilized. Factors causing underutilization are access to service, needs of adolescents, and acceptability of students to PIKKRR. Objectives: To study the relationship between acceptibility to PIK-KRR and utilization to PIK-KRR in schools by senior high school students at Bima Municipality NTB. Method: The study used cross sectional with quantitative as well as qualitative approaches. Subjects were 312 high school student. Data were obtained through questionnaire and indepth interview and analyzed using univariate, bivariate with Chi-square and multivariate with logistic regression. Result: The result of bivariate analysis showed there was significant association between utilization and acceptability, need and attitude toward reproductive health (p<0.05). The result of multivariate analysis showed there was significant association between the utilization and acceptability (RP=1.5; CI95%=1.21-1.91). There was significant association between the utilization and acceptability after the control of variable of need (RP=1.4; CI95%=1.18-1.85) and with the control of variable of attitude consistently there was significant association between the utilization and acceptability (RP=1.4; CI95%=1.11-1.95). This meant that students accepting PIK-KRR had positive attitude toward reproductive health than those not accepting PIK-KRR. Conclusion: The utilization of PIK-KRR in school was associated with acceptability, need and attitude toward reproductive health.
Kata Kunci : akseptabilitas, pemanfaatan PIK-KRR dan remaja