Laporkan Masalah

RESPON ANTIBODI TERHADAP MEROZOITE SURFACE PROTEIN-1 (MSP-1) DAN APICAL MEMBRANE ANTIGEN-1 (AMA-1) Plasmodium falciparum PADA PENDUDUK DAERAH ENDEMIS RENDAH DAN ENDEMIS SEDANG DI INDONESIA

Dian Nugraheni, Dr. dr. Mahardika A. Wijayanti, DTM&H., M.Kes.

2011 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Tropis

Latar Belakang. Malaria di Indonesia tersebar di hampir seluruh propinsi dengan tingkatan endemisitas dan transmisi yang bervariasi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui respon antibodi IgG terhadap Merozoite Surface Protein-1 (MSP-1) dan Apical Membrane Antigen-1 (AMA-1) Plasmodium falciparum pada penduduk yang tinggal di daerah endemis rendah dan di daerah endemis sedang di Indonesia untuk dikaitkan dengan tingkat endemisitas malaria di wilayah tersebut. Metode. Pengukuran antibodi dilakukan terhadap sampel darah penduduk daerah endemis rendah (Purworejo) dan endemis sedang (Lampung Selatan). Saat transmisi tinggi, dari Purworejo diambil sampel darah pada November 2008- Januari 2009, dan Lampung pada Desember 2008-Februari 2009. Saat transmisi rendah, sampel darah diambil dari kedua daerah tersebut pada Mei 2009-Juli 2009. Usia penduduk yang diambil sampel darahnya dikelompokkan menjadi 0-5, 6-10, 11-20, 21-30, 31-40 dan >41 tahun. Pengukuran antibodi dilakukan dengan metode indirect ELISA menggunakan protein rekombinan MSP-119 dan AMA-1 P. falciparum sebagai antigen penangkap. Sampel dinyatakan positif mengandung antibodi jika memiliki titer diatas (mean + 3 SD) nilai titer kelompok sampel individu dengan titer rendah dari minimal 120 sampel. Persentase seropositif antar kedua daerah dianalisis dengan Mantel-Haenzel dan Chi-Square, perbedaan rerata titer antibodi antar kedua daerah dianalisis dengan Kruskal-Wallis dan Mann- Whitney. Hubungan titer antibodi dengan usia individu dianalisis dengan korelasi Pearson. Hasil. Saat transmisi tinggi maupun rendah seroprevalensi antibodi anti P.f.MSP- 1 dan anti P.f.AMA-1 pada penduduk di Purworejo lebih rendah secara bermakna dibanding dengan Lampung. Di Purworejo, rerata titer maupun hubungan titer antibodi anti P.f.MSP-1 dan anti P.f.AMA-1 dengan usia saat transmisi tinggi dan rendah tidak menunjukan adanya perbedaan. Di Lampung, rerata titer antibodi anti P.f.MSP-1 dan anti P.f.AMA-1 pada saat transmisi tinggi lebih tinggi secara bermakna dari transmisi rendah, sedangkan hubungannya dengan usia menunjukkan adanya korelasi positif pada kedua masa transmisi. Kesimpulan. Respon antibodi anti P.f.MSP-1 dan anti P.f.AMA-1 berupa titer dan seroprevalensi memberikan gambaran bahwa Purworejo merupakan daerah malaria tidak stabil dan Lampung merupakan daerah malaria stabil. Hasil ini sejalan dengan teori sebelumnya bahwa seroprevalensi merupakan parameter yang baik untuk membedakan tingkat transmisi.

Background. Malaria is distributed in almost all provinces in Indonesia in different levels of endemicity and transmission. In this study, antibody responses against Plasmodium falciparum Merozoite Surface Protein-1 (P.f.MSP-1) and Apical Membrane Antigen-1 (P.f.AMA-1) is measured in populations living in low and medium endemic malaria areas in Indonesia to evaluate the level of malaria endemicity in the region. Methods. Serum antibody are measured from blood samples collected from people living in low endemic malaria in Purworejo and medium endemic malaria in South Lampung during high transmission season (November 2008-January 2009 in Purworejo, December 2008-February 2009 in Lampung) and during low transmission season (May 2009-July 2009) in both regions. Blood samples are grouped in age groups as 0-5, 6-10, 11-20, 21-30, 31-40 and >41 years. Antibody titer is measured by indirect ELISA method using recombinant P.f.MSP-119 and P.f.AMA-1. The samples are considered seropositive if the titer is above cut off value (mean +3SD) titers of seronegative cluster from minimal of 120 samples). Percentage of seropositive individuals from both regions is analyzed with Mantel- Haenzel and Chi-Square, differences of mean antibody titer is analyzed with Kruskal-Wallis and Mann-Whitney, significances of correlation between antibody titers and age is analyzed with Pearson Correlation. Results. During high and low transmission season, seroprevalence of anti P.f MSP-1 and anti P.f AMA-1 antibodies in most of age groups in Purworejo is lower than in Lampung. In Purworejo, mean antibody titers and correlation of antibody titer with age of anti P.f MSP-1 and anti P.f AMA-1 antibodies during high and low transmission season are not different. Meanwhile, in Lampung, mean antibody titers and correlation of antibody titer with age of anti P.f MSP-1 and anti P.f AMA-1 antibodies during high and low transmission season shows a significant difference. Conclusion. Antibody anti P.f MSP-1 and anti P.f AMA-1 response as titers and seroprevalence gives an image that Purworejo is an unstable malaria area and Lampung is a stable malaria area. This study is analogous to previous theories that seroprevalence is a good parameter for assessing malaria transmission levels.

Kata Kunci : titer antibodi, seroprevalensi, transmisi, P.f.MSP-1, P.f.AMA-1.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.