PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA DI PESISIR KOTA BANDA ACEH PASCA TSUNAMI
MARDUATI, Prof. Dr. Sumijati Atmosudiro
2011 | Tesis | S2 ArkeologiBencana gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 lalu, telah merubah wajah pesisir Kota Banda Aceh. Bencana besar itu telah menghilangkan beberapa peninggalan jejak sejarah Aceh. Sudah tujuh tahun tsunami terjadi, namun kondisi Cagar Budaya di lokasi tersebut semakin memprihatinkan, karena kurangnya perhatian. Akibatnya, Cagar Budaya tersebut menjadi semakin rusak. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui tinggalan Cagar Budaya yang masih tersisa di pesisir Kota Banda Aceh pasca tsunami. Potensi Cagar Budaya yang masih tersisa ditelusuri sistem pengelolaannya. Sistem pengelolaan yang tidak sesuai menurut undang-undang, dianggap menyimpang dari pelestarian. Penyimpangan tersebut dicari penyebabnya dan dinawarkan solusi pemecahan masalah terhadap penyimpangan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data melalui: a) observasi langsung di lapangan terhadap Bangunan Cagar Budaya yang masih tersisa, b) Studi pustaka berupa data dari sumber-sumber pustaka yang berhubungan dengan teori dan sejarah, c) wawancara dengan pengelola, masyarakat sekitar situs, pengunjung situs, dan pemerintah Kota Banda Aceh untuk menjaring data, terkait dengan Cagar Budaya serta pengelolaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan yang dilakukan, sebagai usaha pelestarian Cagar Budaya, khususnya di pesisir Kota Banda Aceh, masih rendah, baik sebelum tsunami maupun sesudah tsunami. Potensi Cagar Budaya banyak hilang. Hilangnya potensi Cagar Budaya tersebut karena adanya faktor alam dan manusia. Faktor alam menimbulkan dampak kerusakan yang sangat parah adalah gempa diikuti tsunami, sementara faktor manusia adalah aktor yang merusak situs dengan membongkar, menambah, dan mengganti dengan bangunan baru. Pelaksanaan pengelolaan selama ini juga tidak terlepas dari konflik. Konflik terjadi, karena kurangnya sosialisasi tentang pentingnya potensi Cagar Budaya tersebut dilestarikan. Analisis data dilakukan dengan berpedoman pada kerangka kerja pengelolaan sumberdaya arkeologi. Kerangka kerja penelitian ini merujuk pada konsep Cultural Resource Management (CRM) yang meliputi: a. identifikasi potensi Cagar Budaya, b. penentuan nilai penting Cagar Budaya, c. mencermati pengelolaan yang telah dilakukan, d. menelaah kebijakan pelestarian, e. merancang program ke depan, dan f. kontrol dan evaluasi kerja. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai kajian arkeologis dalam upaya pengelolaan Cagar Budaya serta menjadi salah satu bahan kajian untuk penelitian selanjutnya yang relevan.
The earthquake and tsunami on December 26, 2004, has changed the face of the coastal city of Banda Aceh. Major disaster has vanished some historical heritage of Aceh. It has been seven years since the tsunami occurred, but the condition of Cultural Heritage in location become more and more alarming, because of the lack of attention. As a result, Cultural Heritage has become increasingly damaged. Study aims to identify the cultural heritage along the seashores of Banda Aceh post-Tsunami. This paper wants to know how cultural heritage was managed. The management which is not based on government regulations is considered a deviated conservation. The researcher wants not only to know the causes of such deviation and also to offer the solution over it. This study used qualitative approach with descriptive methods of analysis. Data collection techniques, such as: a) direct observation in the field of heritage buildings that still remain, b) Study of literature in the form of data from literature sources related to the history of Aceh, c) interviews with managers, the people around the site, visitors to the site, and Banda Aceh city government to gather data related to archaeological resources and its management. The results showed that the management carried out, as heritage conservation efforts, especially in the coastal city of Banda Aceh, remains low, both before the tsunami and after the tsunami.Cultural Heritage lost a lot of potential. The loss of potential heritage is caused by natural and human factors. Natural factor is an earthquake followed by tsunami, while the human factor is the actor who damaging and dismantling the heritage, add, and replace it with new buildings. Implementation of management so far is also not without conflict. Conflict occurs due to lack of socialization on the importance of these potential heritage preserved. Data analysis is done by referring to archaeological resource management framework. The framework of this study refers to the concept of Cultural Resource Management (CRM) that includes: a. identification of potential cultural reserve, b. determination of important heritage value, c. management which has been done, d. designing conservation policies, e. designing solutions to the program forward, and f. monitoring and evaluation work. This research is expected to be useful as an archaeological study in cultural heritage management efforts and become one of the study materials relevant for future research.
Kata Kunci : Bangunan Cagar Budaya, Culture Resource Management (CRM), Pesisir Kota Banda Aceh-area tsunami