GANGGUAN BERBAHASA PADA ANAK AUTIS
FAJRIA FATMASARI, Prof. Dr. Stephanus Djawanai, MA.
2011 | Tesis | S2 LinguistikGangguan berbahasa sebagai salah satu gejala autis (Autistic Syndrome Disorder) telah ditemukan pada banyak anak pengidap autis. Namun, anak autis satu dan yang lainnya memiliki karakteristik gangguan berbahasa yang tidak sama. Pada tesis ini, gangguan berbahasa yang dimaksud merupakan ketidakmampuan Subjek dalam menarasikan peristiwa-peristiwa sosial secara runtut. Penelitian telah dilakukan dengan merekam percakapan kasual dengan Subjek di sekolah dengan mengemukakan berbagai topik. Setelah terkumpul, data percakapan kemudian ditranskripsikan dan diklasifikasikan. Data yang disajikan berupa transkripsi fonetis, ujaran-ujaran, dan wacana percakapan. Setelah itu, data dianalisis untuk mengetahui kompetensi berbahasa yang mengacu pada kompetensi fonologis dan bentuk-betuk ujaran, serta rekontekstualisasi pragmatis yang dapat terjadi pada saat percakapan berlangsung. Hasil dari analisis data adalah dikuasainya fonem konsonan dan vokal seperti /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/, /f/, /s/, /z/, /š/, /h/, /c/, /j/, /m/, /n/, /ň/, /ŋ/, /l/, /r/, /w/, /y/, /a/, /i/, /u/, /e/, /ə/, /o/; diftong /ai/, /au/, /oi/; dan klusters /tr/ dan /pr/. Peristiwa fonologis yang terjadi adalah apokop yakni hilangnya bunyi [h] pada posisi akhir. Bentuk-bentuk ujaran yang dapat ditemukan dalam percakapan antaralain kalimat, klausa, frase, dan kata. Tiap-tiap ujaran memiliki maksud, antara lain untuk bercerita, meminta, melarang, merespon permintaan lawan bicara, dan percakapan diri-sendiri. Berkaitan dengan gangguan berbahasa, terjadi peristiwa rekontekstualisasi dalam percakapan. Peristiwa ini terjadi dalam wujud peralihan topik dalam konteks perjalanan darat. Topik alihan berupa bus atau kereta api yang kemudian berkembang menjadi topik yang berkaitan, antara lain nama bus atau kereta api, jadwal, jurusan, lalu lintas, dan pemberhentian bus atau stasiun kereta api. Model-model peralihan topik dapat berupa peralihan dari topik alihan satu menuju topik alihan lainnya atau kembali pada topik awal. Adapun faktor yang dapat menyebabkan terjadinya peristiwa rekontekstualisasi adalah pengalaman perjalanan, kebosanan terhadap topik percakapan, keinginan untuk mengambil alih topik percakapan, dan faktor dalam diri Subjek. Untuk meningkatkan kompetensi berbahasa, Subjek sebaiknya diberikan latihan mejawab pertanyaan dengan jawaban yang panjang, menceritakan cerita pendek secara runtut menggunakan media seperti gambar, menjaga pergiliran cakap, dan fokus terhadap suatu hal dalam waktu yang lama. Ada baiknya anak autis mendapatkan masukan bahasa yang heterogen sehingga dapat memperkaya pemahaman terhadap lingkungan sekitar dan mampu berkomunikasi seperti anak pada umumnya.
Language disorder as a symptom of autism has been found in many autistic children. Yet, one to another has different characteristics of language disorder. In this thesis, language disorder is defined as incapability of narrating social events in sequence utterances. The research was done by recording Subject’s casual conversation in school days with many topics spoken. The conversation was transcribed and classified into Subject’s utterances and discourses of any topics in the conversation. The data was analyzed to be able to describe language competence referring to phonologic competence and forms of the utterance, including the meaning of the utterances, and pragmatic recontextualization which may happened during the conversation. The result of language competence of the Subject was there were phonemes can be mastered by the Subject, such as /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/, /f/, /s/, /z/, /š/, /h/, /c/, /j/, /m/, /n/, /ň/, /ŋ/, /l/, /r/, /w/, /y/, /a/, /i/, /u/, /e/, /ə/, /o/, the diphthongs /ai/, /au/, /oi/; and also clusters /tr/ dan /pr/. There was phonological process called apocop of [h] in the final position. The forms of utterances were sentences, clauses, phrases, and words. The utterances aimed to retell story, ask for something, ask others to do something, give prohibition, respond to others, and self-conversation. Relating to the language disorder, there was pragmatic recontextualization which may occur in the conversation. There was failure to give coherent discourse. It was in the form of topic shifting of the context of road trip. The shifted topic was about bus or train. Then it was developed into some related topics such as the name of means of bus or train, departure and arrival schedule, bus and train way, traffic jam, and bus stop or train station. The model of recontextualization can be shifting from one shifted topic to another shifted topics, or return to early topic either with any interruption or without it. The factors which may cause the recontextualization were past experience of road trip, being bored to a topic, the longing of taking over the topic, and self-inside factor of no-sequence thinking groove. To improve developing language skill of the Subject, he needs to be treated uttering long answer of other’s questions, arranging short story by using some media such as pictures, maintaining turn-taking in the conversation, and focusing on a thing in long period. An autistic child should take heterogeneous language input to enrich his understanding to things surround. Thus, he may develop his capability of communicating with others as common child.
Kata Kunci : gangguan berbahasa, autis, kompetensi berbahasa, rekontekstualisasi