Laporkan Masalah

ANALISIS INFORMASI ASIMETRIS KREDIT PADA MASYARAKAT PEDESAAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Lestari Rahayu Waluyati, Ir.,MP., Prof. Dr. Ir. Masyhuri

2011 | Disertasi | S3 Ekonomi Pertanian

Pasar kredit merupakan pasar yang tidak sempurna karena adanya informasi asimetris antara pemberi pinjaman dengan peminjam. Informasi asimetris dalam pasar kredit pedesaan menyebabkan terjadinya credit rationing/pembatasan kredit.Tujuan penelitian ini untuk mengkaji informasi asimetris yang dimiliki oleh pemberi pinjaman, mengkaji hubungan informasi asimetris terhadap biaya transaksi, agunan dan tingkat bunga, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi credit rationing, moral hazard dan pemilihan sumber kredit. Metode penelitian adalah deskriptif analitis, dengan metode sampling cluster dusun di Kabupaten Sleman dan Gunungkidul DIY. Diambil seluruh rumahtangga dalam 4 dusun terpilih. Analisis data menggunakan analisis varians (ANOVA) dengan test post hoc LSD dan analisis multinomial logit. Adanya informasi asimetris dalam kredit pedesaan ditunjukkan dari minimnya penguasaan informasi pemberi pinjaman terhadap karakter dan usaha masyarakat pedesaan. Adanya informasi asimetris dalam kredit pedesaan menyebabkan adanya perbedaan yang nyata dalam hal biaya transaksi yang teraktualisasi dalam jarak geografis, kecepatan pelayanan, jumlah kredit yang diambil, biaya administrasi dan tingkat bunga. Jarak geografis kredit informal lebih dekat, pelayanan lebih cepat. Jumlah kredit formal lebih besar dengan biaya adminstrasi lebih besar.Tingkat bunga kredit informal lebih tinggi. Seluruh pengambil kredit formal memberikan agunan baik berupa sertifikat tanah, BPKB maupun SK pegawai. Sebagian besar pengambil kredit formal terjadi moral hazard ketidaksesuaian pemanfaatan kredit, Faktor yang berpengaruh mendorong terjadinya probabilitas moral hazard adalah besarnya kredit. Dengan adanya monitor dapat mengurangi secara nyata probabilitas terjadinya moral hazard ex ante. Masyarakat pedesaan lebih banyak yang termasuk dalam katagori non price rationing. Semakin jauh jarak geografis maka probabilitas pembatasan kredit semakin besar. Semakin luas pemilikan lahan, aset yang dimiliki dan pendapatan rumahtangga menjadikan probabilitas pembatasan kredit semakin menurun. Probabilitas memilih kredit formal lebih besar karena memiliki luas lahan semakin luas, jumlah agunan yang semakin besar, jangka waktu kredit lebih lama dan lebih kecilnya tingkat bunga bank. Jika tingkat bunga turun 2% probabilitas masyarakat memilih kredit formal naik 1,8%. Jika tidak ada agunan, probabilitas masyarakat mengambil kredit meningkat 19,2%. Informasi asimetris yang dimiliki bank perlu disimetriskan antara lain melalui peningkatan pengetahuan dan wawasan pegawai bank tentang ekonomi pedesaan khususnya pertanian. Bagi koperasi perlu memaksimalkan peran sebagai jembatan antara kredit formal dengan masyarakat pedesaan. Bagi kelompok penyedia kredit informal yang memiliki informasi simetris perlu pengembangan dana untuk memenuhi kebutuhan kredit masyarakat pedesaan.

Credit market is an imperfect market due to the existence of asymmetrical information between lenders and borrowers. Asymmetrical information in rural credit market caused credit rationing. The objectives of this research are to analyze unsymmetrical information of lenders, analyze the relation of asymmetrical information to transactional cost, warrant, and interest rate in both formal financial institution/bank and informal ones, indentify determining factors of credit rationing, moral hazard, and elections of credit sources. In this research, descriptive analytical method is used alongside sampling cluster method to acquire sample in villages in Kabupaten Sleman and Gunungkidul DIY. Sample data were taken in four chosen villages. Data are analyzed with variant analysis method (ANOVA) with LSD post hoc test and multinomial logit analysis. The existence of asymmetrical information in rural credit is shown by lender’s minimal control of information to individual character and businesses of rural society. The existence of asymmetrical information in rural credit caused distinctive differences in actualized transactional cost in geographical range, service’s speed, amount of credit taken, administration cost, and interest rate. Informal credit has closer geographical range and faster service. While larger formal credit came with higher administration cost. Interest rate in informal credit is higher. All formal credit’s acquirement requests warrant in form of land certificate, either BPKB or employee’s SK. Majority of formal credit’s acquirement contains moral hazard due to dissonance of credit usage. The determining factor which encourages moral hazard’s probabilities is the amount of credit. Monitoring function could distinctively reduce moral hazard ex ante’s probabilities. The majority of rural society is considered as non price rationing category. Further geographical range constitutes higher probabilities of credit’s access limitation. Immense land selection, owned asset, and household income could reduce probabilities of formal credit’s access limitation. Probabilities of selecting formal credit is higher with immense land properties, higher value of warrant, longer credit term, and lower bank interest rate. Asymmetric information that had by the bank need to be symmetrical with increasing the knowledge and the insight of a bank employee about the rural economy, especially agriculture. For cooperatives need to maximize the role as a bridge between formal credit to rural communities. For the group of informal credit providers that have symmetric information need the development of funds to fulfill the credit needs of rural communities.

Kata Kunci : pembatasan kredit, kredit pedesaan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.