Laporkan Masalah

Adaptasi Kelompok Pamswakarsa di Pulau Lombok

Ahmad Husni Mubarak, Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A.

2011 | Tesis | S2 Politik dan Pemerintahan

Tesis ini bertujuan menelusuri adaptasi pamswakarsa di Pulau Lombok. Dalam studi ini pamswakarsa di lihat dalam bingkai keberlanjutan dan perubahan dari entitas yang telah ada sebelumnya. Secara metodologis, studi ini menggunakan pendekatan studi kasus sebagai metode untuk mendapatkan data. Penelusuran studi ini memperlihatkan entitas yang pada masa kini dikenal dengan pamswakarsa memiliki kesamaan dengan gerakan-gerakan protes sosial yang di usung masyarakat pedesaan pada abad ke-19. Gerakan-gerakan ini populer dikenal dengan istilah congah. Congah adalah bentuk ekspresi ketidakpuasan masyarakat atas negara yang dianggap eksploitatif dan gagal menjalankan fungsinya. Ruh gerakan ini adalah protes sosial atas negara, yang dibungkus dengan nilai-nilai kultural dan religi. Congah beradaptasi menjadi pamswakarsa. Adaptasi pamswakarsa dipengaruhi tiga faktor kunci, yakni: adanya perubahan setting politik lokal; terbukanya ruang ekspresi politik; serta adanya kontestasi elit agama vis a vis bangsawan. Keberlanjutan dan perubahan congah menjadi pamswakarsa terlihat dari kesamaan tiga unsur penting, yaitu: basis ideologis; basis elit; serta basis geografis. Pamswakarsa dengan demikian adalah bentuk protes sosial dan implikasi atas kegagalan negara menjalankan fungsi dasarnya, yakni keamanan. Institusi-institusi seperti ini akan selalu hadir manakala negara abai dan tidak mampu memberikan rasa aman. Entitas ini akan tetap ada dengan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan sosial dan politik lokal dimana ia hidup. Dalam konteks relasi negara-masyarakat, keberlanjutan dan perubahan pamswakarsa memberi ruang rekonseptualisasi labelisasi negara terutama dilevel lokal. Relasi negara-masyarakat bersengkarut dengan entitas-entitas sosial dan politik lokal. Dinamika pamswakarsa menjadi penanda negara yang tersandera oleh entitas-entitas sosial dan politik lokal. Sebagian otoritas keamanan negara terenggut oleh institusi-institusi lokal. Sehingga, pada kadar tertentu, negara mengalami pelemahan kekuasaan (powerless). Hasil studi ini lebih lanjut menunjukkan, perembesan negara ditingkat lokal hanya pada level simbolik yakni kehadiran institusi-institusi formal negara modern. Namun, institusi-institusi ini tidak mampu menegasikan nilai dan institusi lokal yang telah ada sebelumnya. Oleh karenanya, penamaan (labelisasi) tentang kapasitas negara perlu dirumuskan kembali dan diletakkan pada konteks lokalitas dengan tanpa mengabaikan kenyataan-kenyataan dinamika sejarah, sosial dan politik di tingkat lokal.*

Purpose of this study is to find out the adaptation of Independent Security Volunteers (ISV— Pamswakarsa) in Lombok Island. In the study, ISV is seen in a form of continuous change of the preexisting entity. Methodologically, the study used a case study approach as a data collection method. Result of the study revealed that the entity called as ISV had the similarity to social protest movements promoted by village communities in the nineteenth century. The movements were popular with a term of congah. Congah was one of the forms of expressing social dissatisfactions against exploitative authority. The spirit of the movements is a social protest against the State, packaged by cultural and religious values. Congah has adapted to be ISV. The adaptation of ISV was influenced by three main factors, i.e.: change in local political setting, open political expression sphere; and religious vis a vis noble elite contestation. The continuity and change of congah to be ISV was seen from the similarity to three important elements, i.e. ideological, elite, and geographical bases. Thus, ISV was a form of social protest as implication of the State’s failure to perform its fundamental function, particularly in security. Such institution will always present when the State was ignorant and unable to provide the people with adequate security. The entity would exist by adapting to change in local social and political environments where it is located. The continuity and change of ISV has given a sphere for re-labelization of the State’s capacity. A relation between State and society was closely interwoven with local social and political entities. The dynamics of ISV became a mark of the State trapped into local social and political entities. A part of the State’s authority in security was usurped by local security institution, so at a certain level the State become powerless. The permeation of the State at local level has only occurred at symbolic level, i.e. the presence of modern state formal institutions. However, all the institutions were unable to negate the pre-existing local values and institutions.

Kata Kunci : pamswakarsa, kelompok keamanan lokal, protes sosial, elit


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.