PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR DI KABUPATEN NGAWI
CHANDRANINGSIH TRI WIDYANINGRUM, S.I.P., Dr. Ambar Widaningrum
2011 | Tesis | S2 Magister Adm. PublikPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui partisipasi perempuan dalam penanganan bencana banjir di Kabupaten Ngawi serta untuk menganalisis secara mendalam faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap partisipasi perempuan dalam penanganan bencana banjir di Kabupaten Ngawi. Alasan dilakukannya penelitian ini adalah karena korban mayoritas dalam bencana banjir di Kabupaten Ngawi merupakan kaum perempuan. Akan tetapi Pemerintah Kabupaten Ngawi tidak memiliki program atau kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan kapabilitas kaum perempuan dalam penanggulangan bencana sehingga keterlibatan kaum perempuan Ngawi dalam tindakan penanggulangan bencana menjadi tidak terorganisir. Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif untuk membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai hubungan antar fenomena yang diselidiki. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Purwosari Kecamatan Kwadungan dan Kelurahan Ketanggi Kecamatan Ngawi yang dipilih secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan bahwa kedua lokasi ini merupakan desa dengan tingkat kerawanan bencana banjir tertinggi pada kecamatan masing-masing. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan karakteristik dimana Desa Purwosari merupakan daerah pedesaan dan Kelurahan Ketanggi merupakan wilayah dalam ibukota kabupaten sehingga memiliki karakteristik masyarakat yang berbeda. Untuk memenuhi kebutuhan akan data dan informasi dalam penelitian digunakan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan tipe penelitian. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam penanganan banjir di kedua wilayah tersebut terlihat di semua peran yang dimiliki oleh kaum perempuan baik peran reproduktif, peran produktif, maupun peran sosial dalam masyarakat. Keterlibatan kaum perempuan dalam penanganan bencana banjir di Desa Purwosari terlihat unik karena terdapat perbedaan partisipasi antara tindakan-tindakan yang bersifat inisiatif dari masyarakat dan informal dan upaya penanganan bencana yang berasal dari pemerintah. Tingginya partisipasi perempuan dalam tindakan yang bersifat inisiatif dari masyarakat dan informal dipengaruhi oleh modal sosial yang tertanam kuat pada masyarakat. Sedangkan rendahnya partisipasi perempuan dalam penanganan bencana yang bersifat formal atau yang berasal dari pemerintah dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan dari Kepala Desa Purwosari yang tidak memberi kesempatan bagi kaum perempuan untuk berpartisipasi didalamnya. Sementara itu, partisipasi perempuan dalam penanganan bencana banjir pada Kelurahan Ketanggi terlihat tinggi baik pada tindakan-tindakan yang bersifat inisiatif dari masyarakat maupun yang berasal dari pemerintah. Tingginya partisipasi perempuan dalam tindakan-tindakan yang bersifat inisiatif dari masyarakat dan informal tersebut selain dipengaruhi oleh modal sosial juga oleh gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh Lurah Ketanggi. Sedangkan saran yang diberikan adalah Pemerintah Kabupaten Ngawi hendaknya lebih meningkatkan keterlibatan kaum perempuan dalam setiap upaya penanganan bencana banjir di wilayah Kabupaten Ngawi serta memperkuat kapasitas kelembagaan terutama kapasitas masyarakat dan kaum perempuan sehingga mampu memfasilitasi tingginya keterlibatan kaum perempuan dalam penanganan bencana banjir di Kabupaten Ngawi.
This research aims to determine women's participation and to analyze factors that influence women's participation in flood disaster management in Ngawi Regency. Women as the majority of flood victims in Ngawi Regency are becoming the main consideration of this research. However, local government does not have a program that aims to increase women's participation and capability in disaster management so that the involvement of women in Ngawi Regency’s disaster management becomes disorganized. The design of this research is descriptive qualitative. This research depends almost exclusively on interviews and secondary data. Primary data collected from group discussion, key informant interview, structured interview, as well as field observation. Secondary data will be obtained by literature study and institutional data analysis. The research is conducted in Purwosari Village of Kwadungan District and Ketanggi Village of Ngawi District. Both location were selected purposively based on the highest level of their vulnerability to flood disaster. However, there is a different community characteristic between those two village. Purwosari Village is a rural area. In the other hand, Ketonggo Village is a capital area of Ngawi Regency. The results showed that women's participation in the handling of floods in the two area are very high related to the involvement of reproductive roles, productive roles, and social roles in society. A unique women participation in flood disaster management was showed in Purwosari Village. There is a gap between in informal women initiative and formal program of local government. The high participation of Purwosari Village women in informal initiative is influenced by social capital in the community. In the other hand, the low participation of those women in formal program of local government is influenced by the leadership style of the Purwosari Village chief which do not give an opportunity for women to get along the program. Furthermore, women’s participation in flood management in Ketanggi Village seems equal both informal and formal activities. The high initiative participation is influenced by social capital as well as the leadership style of Ketanggi Village chief. Social trust, norms, and social networks in communities encourage women to establish their initiative in disaster management. The leadership of Ketanggi village chief led to women motivation to get involved in planning and implementation of flood disaster management both formal program as well informal initiatives. In short, local government should increase the involvement of women in flood disaster management and strengthen its institutional capacity. Hopefully, institutional capacity building will facilitate the high women involvement in flood disaster management.
Kata Kunci : Partisipasi Perempuan, Penanggulangan Bencana, Modal Sosial, Gaya Kepemimpinan Lokal