TINJAUAN YURIDIS MENGENAI PERJANJIAN TERAPETIK PADA RUMAH SAKIT UMUM DARURAT DR. MOEWARDI DI SURAKARTA
Mahmud, Prof. Dr. Abdul Ghofur Anshori, S.H., M.H.
2011 | Tesis | S2 Magister KenotariatanTujuan penelitian ini adalah : untuk mengetahui apakah secara yuridis bentuk perjanjian terapetik antara dokter dan pasien sesuai dengan norma sudah memberikan keseimbangan hak dan kewajiban para pihak; dan juga untuk meneliti bagaimana perlindungan hukum para pihak antara dokter dan pasien di dalam perjanjian terapetik. Metoda penelitian penulis lakukan dengan metoda penelitian baik secara yuridis normatif dengan cara meneliti bahan pustaka yang merupakan bahan sekunder, yang selanjutnya disebut penelitian kepustakaan. Data diperoleh dari penelitian kepustakaan meliputi bahan hukum primer, sekunder dan tersier serta penelitian lapangan (field research) yakni penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti langsung ke lokasi penelitian untuk mendapatkan bahan-bahan atau data yang mendukung penulisan ini, dan yang terakhir penelitian dilakukan dengan wawancara secara langsung terhadap narasumber. Hasil penelitian dari â€Tinjauan Yuridis Mengenai Pejanjian Terapetik Pada RSUD. Dr. Moewardi Di Surakarta†dilihat dari standar baku persetujuan tindakan medik tersebut memperlihatkan banyak kelemahan secara yuridis formal, dimana saksi dari persetujuan tindakan medik hanya seorang saja dari pihak rumah sakit di tempat dokter bekerja yang seharusnya ada dua saksi dari kedua belah pihak. Dalam persetujuan tindakan medik yang telah ada di rumah sakit RSUD Dr. Moewardi Surakarta, merupakan kehendak sepihak bukan para pihak, dalam hal ini tidak dapat dikatakan sebagai suatu perjanjian yang sesuai dalam KUH Perdata, sehingga dalam pernyatakan persetujuan tindak medik sulit untuk dikenakan sanksi terhadap seorang dokter yang telah melakukan tindakan medik tersebut. Perlindungan hukum antara dokter dan pasien dalam perjanjian terapetik belum memberikan jaminan terhadap risiko yang terjadi setelah tindakan medik dilakukan. Hal ini dikarenakan hubungan antara dokter dan pasien obyek perjanjiannnya adalah mengusahakan kesembuhan pengobatan (inspanning verbintenis) bukan menjamin kesembuhan pengobatan (resultate verbintenis ). Di masa mendatang diperlukan suatu perjanjian terapetik yang dapat memberikan keseimbangan hak dan kewajiban serta perlindungan hukum bagi dokter dan pasien.
The purpose of this research are: to determine whether the juridical form of therapeutic agreement between doctors and patients in accordance with the norms already provide a balance of rights and obligations of the parties, and also to examine how the legal protection of the parties between doctors and patients in the therapeutic contract. The author do with research methods, both normative literature by assessing the material which is a secondary material, hereinafter referred to as library research. Data obtained from research literature covering primary legal materials, secondary and tertiary as well as field research which is a study done by examining directly to the location of the research to get the materials or data that supports this writing, and the last study was conducted by interviewing directly to the resource. The results of \" Judicial Review About Therapeutic Agreement On General Hospital Emergency Dr. Moewardi In Surakarta\" seen from the standard approval of medical action shows a lot of formal judicial shortcomings, where witness of the agreement is only one course of medical action of the hospital where doctors work, there should be two witnesses from both sides. In the approval of medical measures that have been there at the General Hospital Emergency Dr. Moewardi Surakarta, is not the unilateral will of the parties, in this case can not be said to be an appropriate agreement in the Civil Code, so that in the statement of approval of medical acts is difficult to apply sanctions against a doctor who has done such medical measures. Legal protections between doctors and patients in therapeutic agreements have not provided guarantees against losses that occur after a medical act performed. This is because the the object of agreement between doctors and patients are seeking healing of treatment (inspanning verbintenis) not guarantee the recovery treatment (resultate verbintenis). In the future we need a therapeutic agreement that can provide a balance of rights and obligations and legal protection for doctors and patients
Kata Kunci : Tinjauan Yuridis - Perjanjian Terapetik