URGENSI AKTA NOTARIIL DALAM PERJANJIAN SEWA-MENYEWA KIOS ANTARA TWCP DENGAN PARA PENYEWA KIOS DI UNIT PRAMBANAN
Priyo Santoso, SH, RA. Antari Innaka T., S.H., M.Hum.
2011 | Tesis | S2 Magister KenotariatanTesis ini berjudul Urgensi Akta Notariil Dalam Perjanjian Sewa- Menyewa Antara TWCP Dengan Para Penyewa Kios di Unit Prambanan merupakan sebuah riset yang dilaksanakan untuk mengetahui urgensi /pentingnya akta Notariil dalam perjanjian sewa-menyewa dan bagaimana pelaksanan perjanjian sewa-menyewa, sekaligus bagaimana penyelesaian hukumnya apabila terjadi wanprestasi dalam perjanjian sewa-menyewa antara TWC Prambanan dengan para penyewa kios di Unit Prambanan. Untuk mencapai hal tersebut dilakukan dengan cara studi pustaka dan penelitian lapangan. Studi lapangan dilakukan dengan menguji beberapa dokumen dengan materi bahan hukum primer dan sekunder. Penelitian lapangan dilakukan dengan cara mewancarai beberapa responden , yaitu Kepala Seksi Oprasional, dan para penyewa kios Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanan perjanjian sewa-menyewa antara TWC Prambanan dengan para penyewa kios di Unit Prambanan dilakukan dengan Perjanjian akta dibawah tangan artinya tidak dilakukan dihadapan pejabat yang berwenang. Seharusnya demi keamanan dan kepastian hukum kedua belah pihak dalam melakukan perjanjian itu dilakukan dihadapan pejabat yang berwenang, walaupun telah ada klausulla apabila terjadi wanprestasi kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan dengan cara musyawarah.mufakat, akan tetapi perjanjian tersebut tidak mempunyai kekuatan eksekutorial.
The titel of this thesis, which is urgency notarial act in the lessee convenant between Prambanan Temple Tourism Park and the stall tenants in unit of Prambanan, is a research which is held to know urgency / importance of the lessee converant of notarial act and how to realize the lessee covenants, all at once is to know how to solve in law if wanprestasi occurs in the notarial act of lessee convenant between Prambanan Temple Tourism Park (TWPC) and stall tenants in unit of prambanan. To achive this research is searched by literature study and field research. The field resarch is conducted by testing some documents on scoope of the primary and secundary subject matter. It is obtained via interviewing some respondents, that are the chief of oprational section and stall tenants. The researct result points that the way of treating of natural act of lessee convenant between Prambanan Temple Tourism Park (TWPC) and the stall tenants in unit of Prambanan is commited on underhanded agreement, that means does not conduct in front of the competent functionary. It is a requirement for safety and definitely of law, for the two sides of the agreement, it is better held in front of the competent functionary. Although there is a clause if the wanprestasi occur between both of them, there is a deal to result by deliberation of convention, however that agreement does not have a executorial power.
Kata Kunci : Perjanjian, kesepakatan para pihak