Laporkan Masalah

KAJIAN PENGGUNAAN BATU GRANIT (KABUPATEN TANJUNG BALAI KARIMUN) DAN PASIR SUNGAI INJAP(KABUPATEN BENGKALIS) SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF CAMPURAN BETON ASPAL(AC –WEARING COURSE)

HENDRA SAPUTRA, Dr. Ir. Latif Budi Suparma, M.Sc.

2011 | Tesis | S2 Mag. S. & T.Transportasi

Kabupaten Bengkalis merupakan daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar. Salah satunya adalah banyaknya sungai-sungai besar dengan kandungan pasir dan batu alam yang juga terdapat di Kabupaten Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepulauan Riau yang letaknya berbatasan dengan Kabupaten Bengkalis. Pasir dan batu alam tersebut sangat berpotensi untuk pembangunan infrastrukur jalan maupun infrastruktur lainnya. Pada saat ini, batu dan pasir dari daerah tersebut sudah mulai dimanfaatkan sebagai bahan untuk campuran aspal. Namun, dalam penggunaannya belum dilakukan uji kelayakan material apakah pasir dan batu tersebut layak digunakan sebagai bahan campuran perkerasan aspal atau tidak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dan menguji kelayakan bahan agregat dari batu granit Kabupaten Tanjung Balai Karimun dan pasir Sungai Injap Kecamatan Rupat Kabupaten Bengkalis untuk digunakan pada jenis campuran beton aspal (ACWearing Course). Penelitian dilakukan dengan cara membuat benda uji dengan rancangan campuran AC-WC. Kemudian, beberapa tahap pengujian dilakukan terhadap benda uji tersebut, yaitu pengujian karakteristik aspal dengan menggunakan alat Marshall untuk mendapatkan kadar aspal optimum, pengujian durabilitas perendaman yaitu dengan perendaman standar (0.5 jam), 24 jam dan 48 jam dengan suhu 60 °C, serta pengujian kuat tarik aspal (Indirect Tensile Strength) dengan perendaman 24 jam pada suhu 60o Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat campuran beton aspal lapis permukaan (AC-Wearing Course) dengan menggunakan pasir sungai yang berasal dari Kabupaten Bengkalis dan batu granit yang berasal dari Kabupaten Tanjung Balai Karimun memenuhi persyaratan untuk digunakan. Agregat kasar dengan nilai abrasi 33,2% dapat memenuhi ketentuan Departemen Pekerjaan Umum tahun 2007 yaitu nilai abrasi maksimum sebesar 40%. Begitu juga untuk agregat halus pasir Sungai Injap, dengan nilai penyerapan air sebesar 0.603 telah memenuhi persyaratan dari nilai maksimum sebesar 3.0 yang ditetapkan. Pengujian Marshall dengan perendaman standar (0.5 jam), 24 jam, dan 48 jam pada suhu 60 °C dengan nilai KAO 5.725 juga menunjukkan hasil sesuai dengan persyaratan spesifikasi teknis Departemen Pekerjaan Umum tahun 2007. Secara keseluruhan, hasil studi ini menunjukkan bahwa material yang berasal dari Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Tanjung Balai Karimun dapat dijadikan sebagai rujukan atau alternatif bahan untuk campuran beton aspal (AC-WC). C (ITS condition) dan tanpa rendaman (ITS uncondition). Kemudian, dari hasil pengujian perendaman dapat diketahui besarnya nilai indeks perendaman pada campuran AC-WC yang berkorelasi dengan durabilitas pada campuran tersebut.

Bengkalis Regency has high potential of natural resources including many big rivers with sands and natural stones. These materials are also found in Tanjung Balai Karimun Regency Riau Islands Province which located adjacent to Bengkalis Regency and have a great potential for the development of roads and other infrastructures. At present, stones and sands from those areas have started to be used as material for asphalt mixture. However, the feasibility test for these materials to be used as a mixture of asphalt pavements has not been performed. Therefore, this study aimed to determine the quality and test the feasibility of aggregate material from the granites of Tanjung Balai Karimun and sands of Sungai Injap Rupat Bengkalis to be used on the type of asphalt concrete (AC-Wearing Course). This research was performed by making specimens with a mixture of ACWC design. Several stages of testing was conducted on these specimens i.e., test of the asphalt characteristics by using a Marshall test to obtain the optimum asphalt content, test of immersion durability by standard immersion period (0.5 hours), 24 hours and 48 hours at 60 °C, and test of the asphalt tensile strength (Indirect Tensile Strength) by 24 hours immersion at 60 °C (ITS condition) and without immersion (ITS uncondition). Then, from the immersion test result, the index value of immersion can be defined in a mixture of AC-WC correlated with the durability of the mixture. The experimental results showed that the characteristics of the surface layer of asphalt concrete (AC-Wearing Course) using river sands derived from Bengkalis Regency and granites from Tanjung Balai Karimun Regency are eligible for use. The coarse aggregates abrasion value of 33.2% can comply with the provisions of the Public Works Department in 2007 where the maximum abrasion value was set to 40%. The fine aggregates of sands from Sungai Injap with water absorption value of 0.603 also have met their requirements of the maximum value 3.0. Marshall Test with a standard immersion period (0.5 hours), 24 hours, and 48 hours at 60 °C with KAO value of 5.725 also showed results in accordance with the requirements of technical specifications set by the Public Works Department in 2007. In conclusion, the results of this study indicated that the material derived from Bengkalis Regency and Tanjung Balai Karimun Regency can be used as a reference or an alternative material for asphalt concrete mixture (AC-WC)

Kata Kunci : Asphalt Concrete - Wearing Course, Indirect Tensile Strength, Marshall.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.