DOMINASI JARINGAN PEMASARAN ETNIS TIONGHOA PADA INDUSTRI KERAJINAN BATIK TULIS LASEM
Dyan Lestari, Drs. S. Djuni Prihatin, M.Si.
2011 | Tesis | S2 Sosiologi minat Kebijakan dan Kesejahteraan SosialIndustri kerajinan batik tulis Lasem memang telah mengalami perkembangan pesat dewasa ini. Sejarah yang menyatakan bahwa ada alkuturasi antara budaya Tionghoa dan Jawa dalam sehelai batik menyebabkan industri ini diperankan oleh pengusaha Tionghoa keturunan dan pengusaha pribumi. Akan tetapi pada faktanya pengusaha Tionghoa lebih mendominasi jaringan pemasaran batik tulis Lasem. Penelitian ini menjelaskan dominasi jaringan pemasaran batik tulis Lasem yang dilakukan pengusaha etnis Tionghoa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari informan dan perilaku yang diamati. Sumber data dalam penelitian ini adalah pengusaha batik tulis Lasem, baik pribumi ataupun Tionghoa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Jenis data dalam penelitian ini adalah segala pernyataan atau tindakan informan (data primer) dan data tentang industri kerajinan batik tulis Lasem serta profil Kabupaten Rembang dan Kecamatan Lasem (data sekunder). Teknik analisis data meliputi reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa ada dominasi dalam jaringan pemasaran batik tulis Lasem, dominasi tersebut lebih ditekankan pada dominasi kualitas dari pada kuantitas. Dominasi kuantitas adalah dominasi yang berkaitan dengan jumlah pengusaha etnis Tionghoa yang lebih banyak dari pada pengusaha pribumi, selain itu juga dapat dilihat dari jumlah produksi yaitu jumlah produksi batik yang dihasilkan oleh pengusaha etnis Tionghoa jauh lebih banyak dari pada pengusaha lokal. Sedangkan dominasi kualitas adalah dominasi dilihat dari segi kualitas batik. Batik hasil produksi pengusaha Tionghoa menurut sebagian masyarkat Lasem lebih berkualitas. Dominasi tersebut mendapat legitimasi dari pengusaha batik pribumi dan masyarakat Lasem pada umumnya karena memang orang-orang Tionghoa memiliki etos kerja, modal sosial dan penguasaan informasi yang baik. Dominasi tersebut juga berdampak positif dan negatif bagi masyarakat khususnya pengusaha batik pibumi. Berdampak positif artinya keberadaan pengusaha Tionghoa di Lasem membawa pengaruh besar terhadap perkembangan dan kemajuan industri batik tulis Lasem. Sedangkan berdampak negatif adalah pengusaha lokal dirugikan karena pengusaha Tionghoa menguasai jumlah produksi dan jaringan pemasaran. Berdasarkan hasil penelitian peneliti memberikan rekomendasi berupa : peran serta Disperindagkop untuk memfasilitasi pengusaha pribumi dalam memperluas jaringan pemasaran. Dominasi diharapkan menjadikan pengusaha batik tulis pribumi untuk semakin menggiatkan usaha batik tulis agar mampu bersaing secara kualitas maupun kuantitas.
Industry of batik tulis Lasem handicraft has undergone rapid change recently. Historical fact states that cultural acculturation between Java and Tionghoa embodied in Batik cloth becomes the main reason why this business is run by Tionghoa and Javanese businessman. However, the fact shows that Tionghoa businessmen have more domination in the marketing network of batik tulis Lasem. Thus, this research analyzes the domination of Tionghoa businessmen in marketing network of batik tulis Lasem. The research employs qualitative research method which results in descriptive data consisting of written materials and statements from the respondent as well as from the observed behavior. The data are primarily taken from businessmen involving in batik tulis Lasem whether local businessman or Tionghoa businessmen. In collecting the data for the analysis, this research involves deep interview, observation and documentation. The primary data in this research include every statement and informant behavior while the secondary data include all information about batik tulis Lasem handicraft and the profile of Kabupaten Rembang and Kabupaten Lasem. In analyzing data process, this research involves data reduction, data display and concluding step/verification. The results of this research show the domination in marketing network of batik tulis Lasem in which this domination puts more emphasis in quality of batik than its quantity. Quantity domination has closely been related to the number of Tionghoa businessman that exceeds the number of native businessmen. In addition, this domination also lies on the amount of batik produced by Tionghoa businessmen that also surpasses those that local businessmen have produced. On the other hand, quality domination refers to the quality of batik produced. In the perspective of most society, the quality of batik produced by Tionghoa businessmen is much better than batik produced by local businessmen. This domination has obtained legitimation from local businessmen and people of Lasem since the better quality is resulted from work ethics, social capital and good knowledge on information that Tionghoa businessmen firmly uphold. This domination brings either positive or negative impacts on particularly local businessmen. It brings positive effect because the existence of Tionghoa businessmen leads to significant development and improvement in batik tulis Lasem handicraft. However, it also affects in negative way since Tionghoa businessmen dominate production and marketing network. Therefore, based on the research that has been conducted, there are some recommendations that can be given: it needs participation of Department of Industry and Corporation to facilitate local businessmen in an attempt to expand marketing network. It is expected that domination leads local businessmen to foster their handcraft industry so they will be able to compete in quality and quantity.
Kata Kunci : Dominasi, Pengusaha Etnis China dan Industri Batik Tulis Lasem