ANALISIS BIAYA DAN VARIABEL YANG BERPENGARUH TERHADAP BIAYA PENGOBATAN PASIEN GAGAL JANTUNG RAWAT INAP DI RSUD SLEMAN YOGYAKARTA PERIODE TAHUN 2009
Herlin Sulita, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D.
2011 | Tesis | S2 Mag.Manaj.FarmasiLatar Belakang : Gagal jantung merupakan penyakit kronis yang memiliki risiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Prevalensi dan mortalitas gagal jantung diperkirakan akan meningkat dari waktu ke waktu. Gagal Jantung merupakan penyakit yang memerlukan perawatan jangka panjang, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan gagal jantung sangat tinggi. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata biaya pengobatan total serta komponen penyusunnya, mengetahui jenis biaya yang memberikan proporsi yang paling besar pada masing-masing komponen dan mengidentifikasi variabel-variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan biaya total pada masing-masing jenis pembiayaan. Metode : Penelitian menggunakan rancangan deskriptif non eksperimental. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif melalui catatan medik, instalasi farmasi dan bagian keuangan RSUD Sleman Yogyakarta. Kriteria inklusi adalah pasien dengan diagnosis utama gagal jantung dengan atau tanpa penyakit penyerta yang menjalani rawat inap selama periode 1 Januari hingga 31 Desember 2009. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan statistik menggunakan metode analisis korelasi bivariat dan multivariat. Data dikelompokkan berdasarkan jenis pembiayaan dan jumlah penyakit penyerta. Hasil dan Pembahasan : Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata biaya pengobatan total (perhari) pasien gagal jantung tanpa penyakit penyerta, atau dengan 1 penyakit penyerta, 2 penyakit penyerta, dan lebih dari 2 penyakit penyerta secara berurutan adalah Rp.151.152±90.567; Rp.174.801±65.087; Rp.222.280±86.202; Rp.287.658±166.480 pada kelompok pasien Miskin dan Rp.201.241±87.373; Rp.215.141±77.109; Rp.308.275±180.343; Rp. 366.027±196.802 pada kelompok pasien Non Miskin. Komponen penyusun biaya total adalah biaya obat (obat gagal jantung, non gagal jantung, dan infus) dan biaya non obat (biaya administrasi, UGD, rawat inap, visite dokter, laboratorium, tindakan, Alat Medis Habis Pakai dan Bahan Medis Habis Pakai). Proporsi biaya terbesar pada pasien Miskin tanpa atau dengan penyakit penyerta secara keseluruhan adalah biaya laboratorium dengan persentase secara berurutan 31,85%, 27,32%, 23,17%, 21,79%. Pada kelompok pasien Non Miskin, biaya laboratorium menempati proporsi biaya terbesar pada pasien tanpa penyakit penyerta (29,80%) dan dengan 1 penyakit penyerta (25,93%), sedangkan pada pasien dengan 2 penyakit penyerta proporsi biaya terbesar adalah biaya obat (21,99%), dan biaya rawat inap (23,21%) pada pasien dengan lebih dari 2 penyakit penyerta. Hasil uji korelasi antar karakteristik pasien menunjukkan enam variabel dengan hubungan signifikan. Uji korelasi antara karakteristik pasien dengan biaya total menggunakan analisis multivariat menunjukkan variabel yang berhubungan bermakna dengan biaya total adalah jumlah penyakit penyerta pada pasien Miskin dan pada pasien Non Miskin adalah jumlah penyakit penyerta dan LOS. Kesimpulan : Rata-rata dan proporsi biaya pengobatan total gagal jantung secara keseluruhan pada pasien Non Miskin lebih besar daripada pasien Miskin dan nilainya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penyakit penyerta.
Background : Heart failure is a chronic disease that has high risk of morbidity and mortality. Prevalence and mortality of heart failure are estimated to increase over time. Heart Failure is a disease requiring long care, so cost for heart failure treatment is very high. Objective : The aim of this study is to understand mean of heart failure treatment total cost as well their component, and to identify variables whice have significant correlation in each of costing system. Method : This study design choosen is a descriptive non experimental. Data were collected retrospectively through medical record, pharmacy department, and finance department of RSUD Sleman Yogyakarta. Inclusion criteria of this study was diagnosed heart failure with or without comorbid, hospitalization from January 1st to December 31st 2009. Data was analysed by descriptive quantitative, and statistical method using correlation bivariat and multivariate analysis. Data were classified based on costing system and number of comorbid. Result : Result of this study showed that mean total cost (perday) of heart failure treatment without comorbid, or with 1 comorbid, 2 comorbid, and more than 2 comorbid sequentially is about Rp.151.152±90.567; Rp. 174.801±65.087; Rp. 222.280±86.202; Rp. 287.658±166.480 for Miskin group and Rp. 201.241±87.373; Rp. 215.141±77.109; Rp. 308.275±180.343; Rp. 366.027±196.802 for Non Poor group. Total cost of therapy consist of medicine cost (heart failure medicine, non heart failure medicine, and infuse) and non medicine cost (administration cost, ICU/Intensive Care Unit cost, hospitalization cost, visite cost, laboratory cost, treatment cost, disposable medical device cost, and disposable medical material cost). Laboratory cost dominate total cost for Poor group without or with comorbid with percentage sequentially is 31,85%, 27,32%, 23,17%, 21,79%. While for Non Poor group is labotory cost on patient without comorbid (29,80%,) and with 1 comorbid (25,93%), on patient with 2 comorbid is medicine cost (21,99%) and on patient with more than 2 comorbid is hospitalization cost (23,21%). Correlation test among patient characteristic indicating that six variable have significant correlation. Correlation test using a multivariate analysis showed that variable which significantly correlated with total cost on Poor group is number of comorbid, and on Non Poor group is number of comorbid and LOS. Conclution : The mean and proportion of overall total costs of heart failure on Non Poor patients is greater than Poor patients and its value more increases along with increasing number of comorbid.
Kata Kunci : Gagal Jantung, biaya, jenis pembiayaan, jumlah penyakit penyerta