Laporkan Masalah

MENJADI MUSLIM TETAP DANI Potret Kehidupan Orang Dani Islam di Kampung Walesi Papua

Ade Yamin, S.Sos., Prof. Dr. Irwan Abdullah, M.A.

2011 | Tesis | S2 Antropologi

Perdebatan tentang fenomena keagamaan berwajah lokal akhir-akhir ini semakin mengemuka, membuat masyarakat saling berhadap-hadapan untuk menyatakan kebenarannya masing-masing. Saling tuding, salah menyalahkan, bahkan saling serang atas nama ajaran agama menjadi tontonan sehari-hari di berbagai media masa. Tulisan ini mengungkapkan salah satu fenomena keagamaan berwajah lokal pada masyarakat Indonesia, di salah satu kampung terpencil di Tanah Papua, dengan menampilkan potret kehidupan sehari-hari masyarakat Dani Muslim, di Kampung Walesi Dusun Assoyaleget Wamena, yang masih hidup dengan tradisi, meskipun telah mengakui Islam sebagai agama mereka. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan pendekatan kualitatif dalam proses pengambilan dan analisis datanya, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah partisipant-observation, in-depth interview, fokus diskusi kelompok (FGD) dan dokumentasi. Untuk kepentingan pengumpulan data ini juga maka peneliti tinggal dilokasi penelitian dan mengikuti hampir seluruh kegiatan masyarakat lebih khusus yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Islam sampai ke Pegunungan Tengah pada masyarakat Dani dibawa oleh para sukarelawan bentukan pemerintah yang bernama Pelopor Pembebasan Irian Barat (PPIB) yang berasal dari Jawa Tengah, memiliki tugas pokok mengamankan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat di Irian Barat saat itu. Para relawan pemerintah ini mayoritas beragama Islam dan dalam kehidupan sehari-hari memberikan teladan yang baik, sehingga menarik generasi muda Dani yang masih berbusana tradisional untuk mengikuti mereka dan akhirnya memeluk Agama Islam. Dalam proses peneriman Islam sebagai agama baru dalam masyarakat Dani, banyak tradisi masyarakat yang berjalan sesuai dengan anjuran agama Islam, namun muncul persoalan ketika tradisi tersebut bertentangan dengan ajaran Agama Islam, tradisi menikah secara adat yang terus dilakukan oleh masyarakat, memutilasi anggota tubuh ketika ada kerabat yang meninggal, membakar mayat meskipun telah memeluk Islam, dan yang paling ekstrim adalah hidup dengan babi. Untuk masalah babi secara khusus hewan ini hampir mengendalikan semua aspek kehidupan masyarakat Dani, karena babi, menjadi simbol kebesaran seseorang, babi dapat dijadikan alat pemersatu, penghubung kekerabatan, juga dapat dijadikan media pengobatan. Akhirnya sebagai akibat pertemuan tradisi dan ajaran agama Islam memunculkan resistensi, adopsi, adaptasi, akulturasi dan asimilisai yang berjalan secara perlahan dalam masyarakat Dani Penegasan identitas sebagai seorang Dani, juga sebagai seorang Muslim adalah pilihan yang diambil oleh masyarakat Dani Muslim di Dusun Assoyaleget Kampung Walesi, karena dengan melakukan hal tersebut mereka tidak akan kehilangan babi yang merupakan salah satu simbol ke-Dani-an paling utama, juga mereka tidak akan kehilangan aliansi dengan kelompok lebih besar, yaitu kelompok Islam yang selalu membantu mereka dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Disputes on the phenomenon of locally insight of religiousness have upraised slightly recent days. On the other hand, it has dictated society to state frontally the truthfulness of their belief. This phenomenon has affected groups of society to accuse, to trump up and to fight cross over each other on behalf of a religion and witnessed publicly over people through wide ranges of media. This paper intends to discover the phenomenon of locally insight on religiousness through visualizing the daily life of Dani Moslem in Assoyeleget, a country side`s of Walesi village-in Wamena, in which the people still living their life in traditional ways, even though they have confessed Islam as their religion. This research is conducted ethnographically with qualitative approach in the process of data collecting and analyzing. Data are collected by using participant-observation, in-depth interview, focus group discussion (FGD) and documentation. Moreover, regarding on research purpose, researcher have stayed in the research field and followed almost every community activities, particularly the activities which are related to the research purpose. This research suggested that preaching of Islamic teaching from the urban city to the hinterland in Wamena as well as the Dani`s people believe today was preached by the volunteers group arranged by Indonesian government named Pelopor Pembebasan Irian Barat (West Irian Liberation Pioneer) that consist of Javanese people. Majority of them were Moslem and they have main duty to secure the process of Act of Free Choice in West Irian and. Since then, in their daily life, they show good attitude and behaves which attracted the young generation of Dani whom still dressed on traditional way, and finally they were getting closer and converted their belief into Islam. During the process for accepting Islamic teaching as a new religion for Dani`s people, they found that most of Islamic teaching are mutual accord with local tradition, however, in some cases, problem are arise when local tradition view contradicted to Islamic teaching, such us marriage, cutting off body`s parts when a member of family die, cremation and the most extremely tradition is living together with pig. Particularly in the case living together with pig that pig is and extraordinary mammal for them and controlled almost life aspects of Dani people because pig is a symbol of power for a man, pig can take a role as a unifier factor, kinship bridging and also for medical therapy. Therefore, Dani people were addressed into resistance, adoption, adaptation, acculturation and assimilation that slowly underway as the result of two encountered values, local tradition and Islamic teaching. The Dani Moslem in Assoyeleget village was stand in between options which they must be taken. The option that not only to strengthen their identity as Dani`s tribe but also to strengthen their belief as Moslem. Only by doing both reasons, they would not lose their pigs as one of the main symbols of Dani man and also not lose their alliances with the other larger group, that’s groups of Moslem society which usually give a hand due to their livelihood.

Kata Kunci : Agama, Identitas, Dani Muslim, Babi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.