PENDIDIKAN PERDAMAIAN UNTUK MEMBENTUK PERILAKU NON AGRESIF PADA REMAJA (Studi Kasus di Lembaga Sahabat Gloria dan Anak Wayang Indonesia di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)
Natalina Sangapta Perangin-angin, Eric Hiariej, M.Phil, Ph.D.
2011 | Tesis | S2 Magister Perdamaian & Resolusi KonflikPerilaku kekerasan oleh remaja menjadi masalah sosial yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, juga di Yogyakarta. Untuk mengatasi masalah ini, dibutuhkan strategi yang berdasar pada ekologi, yaitu melalui pendidikan perdamaian karena hanya melalui pendidikan orang dapat mengubah mindset-nya Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa bagaimana lembaga-lembaga non pemerintah melakukan pendidikan perdamaian dan bagaimana pengaruhnya, juga meneliti bagaimana pendidikan perdamaian dapat menjadi alternatif untuk membentuk perilaku non agresif pada remaja. Dengan menggunakan metode kualitatif, yaitu melalui wawancara dan observasi, penelitian ini dilakukan di 2 buah lembaga, yaitu Sahabat Gloria (SG) dan Anak Wayang Indonesia (AWI). SG melakukan pendidikan karakter berbasis multikultur melalui sanggar yang bekerja sama dengan sekolah. AWI melakukan program perdamaian untuk remaja di kampung padat, di pinggir kali Code, dengan media seni dan melibatkan orangtua dan komunitas kampung. Pengaruh pendidikan perdamaian bagi remaja dilihat dari sisi lembaga maupun remaja itu sendiri. Bagi lembaga, pengaruh dilihat dari suasana menyenangkan yang memberi dampak dan bagi remaja, mereka mampu melakukan mediasi dan berpikir kritis mengenai prasangka. Program pendidikan perdamaian yang efektif kemudian dianalisa berdasarkan prosesnya dan apa yang dilakukan oleh kedua lembaga non pemerintah memenuhi semua aspek dalam analisa proses tersebut. Pendidikan perdamaian yang dilakukan oleh lembaga non pemerintah berpengaruh positif untuk membentuk perilaku non agresif. Berdasarkan analisa, di dalamnya terkandung 3 aspek, yaitu materi pendidikan perdamaian, proses yang dilakukan, dan peran fasilitator/pendamping. Selain itu, remaja itu sendiri maupun support system yaitu teman, orangtua, sekolah, dan masyarakat, menjadi aspek penting lainnya untuk membentuk perilaku non agresif pada remaja.
Violent behaviors by adolescents become social problems increasing from year to year, also in Yogyakarta. To overcome this problem, it needs strategy based on the ecology, through peace education because only through education people can change his mindset. This study aims to analyze how non-governmental agencies doing peace education and how it affects, also examines how peace education can be an alternative to form a non-aggressive behavior in adolescents. By using qualitative methods, through interviews and observations, this research is done in 2 institutions, Sahabat Gloria (SG) and Anak Wayang Indonesia (AWI). SG conducts a character-based multicultural education through a collaboration with school. AWI makes a peace program for teenagers in the crowd village in Yogyakarta city, river side of Code, with the media arts and involving parents and village communities. Effect of peace education for adolescents analyze from institutions and adolescents themselves. For institutions, the influence of the atmosphere impact and for adolescents, they are able to mediate and think critically about prejudice. Effective peace education program then analyzed based on the process and what is done by both institututions meet all aspects of the analysis process. Peace education is carried out by non-governmental institutions have positive influence to form non-aggressive behavior. Based on the analysis, it contains three aspects, peace education materials, the process, and the role of facilitators. In addition, the adolescents themselves and support system of friends, parents, schools, and society, became another important aspect to form a nonaggressive behavior in adolescents.
Kata Kunci : remaja, perilaku agresif, pendidikan perdamaian