MAKNA BERSEKOLAH BAGI SISWA-SISWA BERISIKO di SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK): Studi Kualitatif Fenomenologis
ANITA LISTIARA, Prof. Dr. Asmadi Alsa
2011 | Tesis | S2 PsikologiSiswa-siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mudah dinilai masyarakat sebagai siswa berisiko karena kurang bersemangat dalam melakukan praktik kerja, sering membolos, dan terlibat dalam perkelahian pelajar. Dengan aktivitas bersekolah yang mereka jalani selama ini sebenarnya apa yang ingin mereka raih? Penelitian ini bertujuan untuk memahami, mendeskripsikan, dan menemukan esensi dari pengalaman yang dimaknai sebagai bersekolah di SMK dalam perspektif siswasiswanya yang berisiko. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif fenomenologis. Subjek yang terlibat sejumlah lima orang siswa. Pengumpulan data terutama dilakukan dengan wawancara mendalam yang bersifat semi terstruktur. Analisis data dilakukan dengan cara melakukan koding, menyusun deskripsi fenomena individual, melakukan identifikasi episode-episode umum, eksplikasi tema, dan melakukan sintesis tema. Hasil penelitian meliputi munculnya tema-tema, baik yang bersifat unik maupun umum, dan esensi dari pengalaman bersekolah di SMK. Keterlibatan diri yang dipaksakan merupakan esensi dari pengalaman yang dimaknai sebagai bersekolah oleh siswa-siswa SMK yang dikategorikan berisiko. Bersekolah dipahami sebagai aktivitas yang membosankan, namun menjadi cara yang harus dilakukan untuk memperoleh kemudahan dalam mencari pekerjaan setelah lulus nanti. Pelajaran praktik yang merupakan kekhususan dari SMK dipersepsi sebagai matapelajaran yang melelahkan dan membuang waktu. Dengan menggunakan Teori Tujuan Berprestasi, maka dapat diketahui beragam tujuan belajar siswa-siswa berisiko tersebut, yaitu ingin mudah mencari kerja setelah lulus, ingin nilai bagus, supaya terhindar dari rasa malu, supaya terlihat memiliki kemampuan yang sama seperti teman-teman yang juga dapat bersekolah, ingin mempelajari keterampilan-keterampilan yang lain dalam kejuruannya, dan supaya orang tua tidak marah. Tujuan berprestasi tersebut mendorong mereka untuk tetap meneruskan sekolahnya.
The purpose of this phenomenological study was to describe and find out the structural essence of school experience from the perspective of students at risk in Sekolah Menengah Kejuruan. This study also explored their achievement goal. A semistructured interview format was utilized to gaining data from five participants which known as students at risk. The use of criterion sampling gives the researcher access to in-depth information on the target topic recorded from the perspective of a specific group of participants who have considerable experience with the phenomenon. The results focused on the following points: (a) the specific and general themes of school experience; (b) the essence of school experience; and (c) the variation of their achievement goal. The essence of school experience is involuntary involvement. The school learning is perceived as a boredom situation. The students decided to leave the class, or to procrastinate homeworks as soon as when they did not feel in the class. Productive subject matters or practices as the specific curriculum of SMK were valued tiring and wasting time. From the perspective of the achievement goal theory, there are several goals which motivate them to keep and continue their school, which known as to get an easy way to find a job after graduation, to achieve good scores, to learn more subjects as possible as they can, to avoid of being punished from parents, to avoid of feeling ashamed and incompetence from others, and to be as equal as others.
Kata Kunci : siswa berisiko, bersekolah, tujuan berprestasi, sekolah menengah kejuruan