PERSEPSI PEMERINTAH DAN KADER MENGENAI INSENTIF KADER SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KINERJA KADER POSYANDU DI PENAJAM PASER UTARA TAHUN 2010
Ratih Wirapuspita, Ir. I Made Alit Gunawan, M.Si.
2011 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/GKLatar Belakang : Posyandu berkembang dengan baik, namun pada tahun 2000 terjadi penurunan kinerja karena krisis ekonomi, karena penurunan kunjungan masyarakat ke Posyandu dan drop out kader. Drop out juga dikarenakan kurangnya insentif uang, sarana dan prasarana dan pelatihan, sedangkan kader memiliki masalah seperti tugas banyak, cakupan besar, dan kurangnya kemampuan sehingga tidak mampu merespon tuntutan masyarakat. Dua pedoman terakhir WHO (World Health Organization) melihat perlunya pembayaran kader sebagai keberlanjutan jangka panjang. Penajam Paser Utara merupakan suatu kabupaten baru, yang terbentuk sejak 2002. Insentif kader tersebut merupakan terbesar di seluruh Indonesia. Tujuan : Mengkaji secara mendalam peningkatan kinerja kader posyandu melalui pemberian insentif berupa uang tunai di Kabupaten Penajam Paser Utara Tahun 2010 Metode Penelitian : Penelitian kualitatif dengan rancangan fenomenologis. Informan penelitian 18 (pemerintah dan kader). Pemerintah yaitu Seketaris Daerah, Kepala Bappeda, Wakil Ketua Komisi II DPRD, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten, Kepala Bidang Pelayanan Medis, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga, Kepala Kantor Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan, Kepala Pemberdayaan Masyarakat Desa, dan Kepala Puskesmas. Kader meliputi 3 orang kader (Puskesmas Waru dan Puskesmas Sotek). Pengumpulan data dengan wawancara mendalam. Keabsahan data dilakukan triangulasi metode dan sumber. Analisis data dengan analisis isi. Hasil : Pemerintah memberikan uang sebagai bentuk insentif, yaitu penghargaan bagi kader dan penggiatan kembali posyandu. Insentif uang membuat kader memiliki semangat dalam bekerja dan adanya kompetensi antar kader. Pemerintah sangat berperan dalam peningkatan kinerja, namun masyarakat masih sangat kurang berperan. Kesimpulan : Insentif uang dapat meningkatkan kinerja kader posyandu.
Background: Posyandu has been growing well, but in 2000 there was declining performance due to economic crisis, decline in community visit to Posyandu and cadre drop out. The drop out was also caused by lack of financial incentive, facilities and training. Meanwhile cadres have problems such as too much workload and coverage and lack of capability so that they are unable to respond to demand of the community. Two latest guidelines of WHO identify the need to pay cadres as long term sustainability. Penajam Paser Utara is a new district established since 2002. Incentive of cadres is the greatest throughout Indonesia. Objective: To elaborate improved performance of Posyandu cadres through the provision of incentive in the form of cash money at District of Penajam Paser Utara 2010. Method: This qualitative study used phenomenologic design. Informant consisted of 18 people (government, and cadres). The government consisted of local government secretary, head of local planning council, Vice head of commission II of local parliament, head of district health office, head of medical service department, head of family health section, head of family planning and women empowerment section, head of villager empowerment and head of health center. Cadres consisted of 3 people (Waru and Sotek Health Center). Data were obtained through indepth interview and analysis using content analysis. Result: The government provided financial incentive to give recognition to cadres and revitalize Posyandu. Financial incentive brought spirit among cadres to work and accelerate competence. The government had major role to improve performance yet the community still had limited participation. Conclusion: Financial incentive could improve performance of Posyandu cadres.
Kata Kunci : Persepsi, pemerintah, kader, kinerja