PELATIHAN PEMAAFAN UNTUK MENINGKATKAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA REMAJA YANG ORANGTUANYA BERCERAI
DIAN R ZUHDIYATI, Drs. Subandi, MA., Ph.D., Psi
2011 | Tesis | S2 Magister Profesi PsikologiAngka perceraian semakin meningkat dari tahun ke tahun. Remaja yang orangtuanya bercerai rentan dengan berbagai permasalahan psikologis, diantaranya kekecewaan dan kemarahan karena keluarganya tidak lagi utuh dan merasa tidak puas akan hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat subjective well-being remaja yang orangtuanya bercerai cenderung rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pelatihan pemaafan dapat meningkatkan tingkat subjective well-being pada remaja yang orangtuanya bercerai. Subjek dalam penelitian ini adalah 4 orang remaja yang berusia 14-15 tahun yang mempunyai tingkat subjective well-being rendah. Metode penelitian akan dilakukan dalam bentuk control group design with pre-test & post-test.Pengukuran akan dilakukan 3 kali, yaitu sebelum pelatihan, sesudah pelatihan dan pada saat tindak lanjut, yaitu 2 minggu setelah pelatihan. Skala yang diberikan adalah skala tingkat pemaafan dan skala kepuasan dan skala afektif untuk mengukur tingkat subjective well-being. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan pemaafan dapat meningkatkan subjective well-being pada remaja yang orangtuanya bercerai. Perubahan subjective well-being tetap signifikan pada saat tindak lanjut.
Divorce rate is increasing from year to year. Adolescents whose parents divorced are vulnerable to various psychological problems, such as disappointment and anger because their family no longer intact and are not satisfied with their life. This shows that the level of subjective well-being teenagers whose parents divorce tend to be low. The purpose of this study was to determine whether forgiveness training can increase levels of subjective well-being in adolescents whose parents are divorced. Subjects in this study is 4 teens aged 14-15 years who have this level of subjective well-being low. Methods of research conducted in the form of control group design with pre-test and post-test. Measurement be done 3 times, that is, before training, after training and at follow-up, 2 weeks after training. Scale used the level of forgiveness and scale to measure subjective well-being, namely satisfaction scale and affective scale. The results showed that forgiveness training can improve the subjective well-being in adolescents whose parents are divorced. Changes in subjective well-being remained significant at follow-up.
Kata Kunci : pemaafan, perceraian, subjective well-being