Laporkan Masalah

BIROKRAT DALAM PUSARAN POLITIK ( Studi tentang Pencalonan Birokrat Dalam Pemilukada di Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2010

Rusmawaty Bte. Rusdin, S.Sos, Miftah Adhi Ikhsanto, S.IP., Mi.OP.

2011 | Tesis | S2 Politik dan Pemerintahan

Penelitian ini membahas mengenai fenomena maraknya birokrat ikut serta mencalonkan diri dalam pemilukada di kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2010. Maraknya kandidat yang berasal dari birokrat yang masih aktif di lingkungan pemerintah Luwu Utara menimbulkan banyak kecemasan. Kandidat tersebut dicemaskan bisa menggunakan mesin birokrasi untuk memenangkan Pemilukada Luwu Utara. Tujuan dari penelitian ini Ingin mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan birokrat mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala pada pemilukada di Kabupaten Luwu Utara tahun 2010. Adapun rumusan masalahnya adalah mengapa birokrat mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah pada pemilukada di Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2010 ? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada 3 (tiga) kerangka teoritik yang dibangun yakni 1) motif politik birokrat dalam kandidasi, 2) birokrasi dan politik, 3) pemilukada dan struktur peluang birokrat . Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode eksploratif berupaya menemukan jawaban melalui teknik wawancara mendalam, pengamatan lapangan dan studi dokumentasi. Temuan penelitian ini menunjukkan birokrat mencalonkan diri pada pemilukada tahun 2010 di Luwu Utara diantaranya : pertama, ingin memperluas kekuasaan. Kedua, menjadi kepala daerah dan wakil kepada mudah mendapatkan menambah sumber daya ekonomi melalui penghasilan sumbernya yang sah seperti gaji pokok dan tunjangan serta penghasilan yang sifatnya tidak sah. Ketiga, pragmatisme politik yang terjadi pada pemilukada kehadiran birokrat untuk menjadi pemecah suara dan mendapatkan jabatan yang lebih tinggi dari jabatan yang didapatkan sekarang serta adanya petualang politik. Keempat, menaikkan prestise sosial. Selain motif birokrat mencalonkan diri pada pemilukada, birokrat mencalonkan diri karena adanya dukungan dan peluang birokrat pada pemilukada tahun 2010 di Luwu Utara. Pertama, adanya dukungan partai politik melalui dua cara yakni partai menggandeng/meminang birokrat menjadi pasangan pada pemilukada dan birokrat melakukan buying party. Kedua, adanya ruang yang diberikan regulasi memperbolehkan birokrat mencalonkan diri kepada birokrat senior mencalonkan diri sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah. Peraturan Kepala BKN Nomor 10 tahun 2005 serta birokrat hadir tidak hanya melalui jalur partai politik tetapi juga melalui jalur perseorangan. Ketiga, pengusaha menjadi fundraising selama pemilukada berlangsung dengan harapan mendapat kemudahan mendapatkan proyek dan mengurus izin. Keempat, adanya dukungan jajaran birokrasi membuat para birokrat mencalonkan diri pada pemilukada.

This thesis discusses phenomena of glow of bureaucrats to participate in regent election of North Luwu regency, South Sulawesi Province in 2010. The glow of candidates deriving from active bureaucrats of North Luwu government resulted in many problems. The candidates might use bureaucracy machine to win the regent election of North Luwu. This research aimed at finding factors making bureaucrats self-nominate as prospective regent and vice regent in the regent election of North Luwu regency in 2010. Question is: why the bureaucrats self-nominated a regent and vice regent in the election of North Luwu regency, South Sulawesi Province in 2010? To answer the question, there are 3 (three) built theoretical frameworks, these are: (1) motives of bureaucrat politics in candidate issues, (2) bureaucracy and politic, (3) regent election and structure of bureaucrat opportunity. Methods used in this research applied verification methods to find answers through in-depth interview technique, field observation and documentation study. Findings of research indicated that bureaucrats did selfnomination in the regent election of 2010 in North Luwu, such as: first, they wanted to widen power; second, they wanted to become a regent and vice regent to increase economic resources through legal source incomes, such as, basic salary and benefit and illegal incomes; third, political pragmatism occurring in the regent election of bureaucrat presentation to obtain voice and get higher position than current position because of political opportunity; fourth, to raise social prestige. In addition to motive of bureaucrats to do self-nomination in the regent election, the bureaucrats did self-nomination because of bureaucrat support and opportunity in the regent election of 2010 in North Luwu. First, support of political party through two ways as follows: parties recruited bureaucrats to be partners in the regent election and bureaucrats did buying party. Second, regulated space allowed bureaucrats to do self-nomination of senior bureaucrats to do self-nomination as a regent and vice regent. Regulation of BKN Leader No. 10 of 2005 and bureaucrats did not only present through political party but also individual parties. Third, businesspersons became fundraising during regent election in hope to get easiness to obtain projects and deal with licenses. Fourth, support of bureaucracy personnel to make bureaucrats do self-nomination in the regent election. Keywords: bureaucrats, candidates, political party, businesspersons of regent election, North Luwu.

Kata Kunci : Birokrat, Kandidat, Partai Politik, Pengusaha Pemilukada, Luwu Utara


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.