ANALISIS WACANA BERITA KORUPSI DALAM SITUS LOKAL (Konstruksi Gagalnya Bupati Tobasa Menjalankan Pemerintahan Yang Bebas Korupsi Dalam BersamaToba.Com Periode April - November 2009)
HILDA DAMAYANTI, Dr. Phil. Ana Nadhya Abrar, M.E.S.
2011 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Ilmu KomunikasiPenelitian ini didasari untuk membongkar makna berita korupsi yang dilakukan oleh seorang Bupati periode 2005-2010 di daerah Toba Samosir, Sumatra utara, Monang Sitorus, pada web lokal yang bernama BersamaToba.com. Jenis penelitian yang digunakan untuk menganalisis berita adalah kualitatif dengan metode studi analisis wacana (discourse analysis) versi Teun Van Dijk. Objek penelitian ini, yaitu berita korupsi yang diunggah dalam kanal korupsi BersamaToba.com periode April, Mei, September dan November 2009. Masingmasing bulan terdapat satu buah berita korupsi. Tobasa, daerah yang baru dikukuhkan sebagai Kabupaten pada tahun 1999 telah dipimpin oleh dua orang Bupati. Sudah sepatutnya jika seorang pemimpin memiliki jiwa yang bertanggung jawab dan melakukan hal-hal terbaik demi terbentuknya visi dan misi Kabupaten yang telah ditetapkan sejak awal. Namun kenyataan yang ada, kedua Bupati ini memiliki rekaman jejak perjalanan yang tidak baik dalam memimpin masyarakat Tobasa. Keduanya disinyalir melakukan tindak pidana korupsi. Ramainya media massa memberitakan hal ini, diikuti pula oleh salah satu web lokal setempat yang hanya mengusung informasi seputar web tersebut berada, yakni BersamaToba.com. Media yang dimiliki oleh individu ini berusaha menyampaikan informasi sesuai dengan apa yang dilihat dan diperolehnya dari lapangan melalui proses kerja jurnalistik, yakni mengumpulkan, mengolah dan menyiarkan. Selama empat bulan, terdapat berita menarik terkait kasus korupsi ini yang diunggah dalam kanal yang khusus dibuat oleh pemilik BersamaToba.com untuk menampung berita korupsi. Kanal tersebut bernama “korupsiâ€. Keempat berita yang diunggah mulai bulan April, Mei, September, dan November 2009 ini merepresentasikan sebuah realitas hingga membentuk sebuah wacana yang sejatinya adalah ungkapan dari penulis berita sekaligus pemilik web BersamaToba.com, Ivan Napitupulu. Pada akhirnya, empat berita tersebut membentuk makna: keinginan penulis untuk menjalankan fungsi media massa yang sesungguhnya, yakni menginformasikan kepada khalayak luas akan adanya (kasus korupsi yang melibatkan Bupati Toba Samosir periode 2005-2010, yakni Bapak Monang Sitorus, yang kini menjadi tersangka) Artinya di sini adalah bahwa Monang Sitorus, sebagai pemimpin periode kedua daerah Tobasa setelah Bupati yang pertama Tambu Simbolon gagal dalam menjalankan pemerintahan Tobasa yang baru terbentuk dan berada pada masa pemekaran wilayah. Visi dan misi yang telah ditetapkan dari sejak awal didirikannya Kabupaten ini pada tahun 1999 yakni menjadikan Tobasa sebagai daerah yang bersih dari korupsi belum dapat tercapai. Sehingga masyarakat Tobasa harus lebih jeli dalam memilih sosok pemimpin masa mendatang agar wilayah ini dapat berkembang menjadi wilayah yang sesuai dengan harapan masyarakat luas Tobasa.
This research is based on the purpose to reveal the corruption news conducted by a Regent in the period of 2005-2010, in the regency of Toba Samosir, North Sumatera, to wit, Monang Sitorus, on a local web called BersamaToba.com. The type of research used to analyze the news, is qualitative, with a Teun Van Dijk version’s of discourse analysis study method. The object of this research is the corruption news which was uploaded on the corruption canal of BersamToba.com, in the period of April, May, September and November 2009. Each month contains one corruption news. Tobasa, a region which was recently established as Regency in 1999, has been administered by two Regents since it was legally affirmed. A leader is properly known to have a responsible attitude and willing to conduct goodness for the sake of implementing all visions and missions hold by the Regency since the beginning. But the fact which occurred showed that both of these Regents own their track record of deceitfulness in ruling the Tobasa people. Both men were suspected to conduct a criminal act of corruption. The bustling mass medias in covering these news, was followed by a local web, which focused in gathering information in the area where they were, the website was called BersamaToba.com. This is an individual company media, with their purpose to distribute information exactly as what they witness and collect from the field, through journalistic processes, which are, collecting, analyzing and announcing the news. For the whole four months, their web posted very interesting news relating to a corruption case that was uploaded on a special canal made by the owner of BersamaToba.com to accommodate any corruption news. That canal went under the name of “corruption.†These four news posted by them, started in April, May, September, and ended in November 1999, represented a reality that eventually formed into a real discourse, these were the speech made by the writer of that news, whom also known as the owner of BersamaToba.com website, Ivan Napitupulu. Eventually, these four pieces of news formed a certain meaning: the will of its writer to implement the real function of mass media, that is, to inform people with this corruption news occurring in Toba Samosi, with the suspect of their own Regent period 2005-2011, Monang Sitorus. This means that Monang Sitorus, as the second leader in Tobasa after the first Regent Tambun Simbolon, failed in conducting Tobasa government that is recently formed and in the expansion area. The vision and mission determined since the regency was existed in 1999 by making Tobasa as corruption-free regency has not achieved. Therefore, Tobasa people must be more selective in choosing the next leader so this regency can develop to be the regency like what Tobasa people hope.
Kata Kunci :