ANALISIS PEMILIHAN MODA ANTARA KERETA API PRIANGAN EKSPRESS DENGAN BUS JURUSAN BANJAR - JAKARTA (Studi Kasus Rencana Pengoperasian KA. Priangan Ekspress Rute : Banjar - Jakarta)
DANI HARDIANTO, Prof. Dr. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc.
2011 | Tesis | S2 Mag. S. & T.TransportasiPelayanan angkutan umum yang tersedia untuk melayani mobilitas masyarakat Banjar, Ciamis dan Tasikmalaya yang akan bepergian ke daerah Bandung ataupun Jakarta hanyalah angkutan Bus, sehingga pada 12 Agustus 2009 PT. Kereta Api Indonesia secara resmi mengoperasikan Kereta Api (KA) \"Priangan Ekspress\" jurusan Banjar - Pasar Senen Jakarta (PP). Setelah 3 bulan beroperasi, PT. Kereta Api Indonesia akhirnya menghentikan pengoperasian kereta tersebut karena tingkat okupansinya hanya 30 persen. Saat ini berkembang wacana tentang akan dibukanya kembali KA. Priangan Ekpress. Penelitian ini menitik beratkan pada pengkajian karakteristik dan menganalisis tingkat permintaan Kereta Api Priangan Ekspress, yaitu dengan cara mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan moda KA. Priangan Ekspress. Dilakukan analisis selisih utilitas Kereta Api Priangan Ekspress dengan Bus regular menggunakan metode stated preferences, sehingga ditemukan model pemilihan moda (modal split model) diantara kedua moda tersebut. Probabilitas pemilihan moda antara KA. Priangan Ekspress dengan Bus Reguler diukur dengan fungsi logit binomial. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor – faktor yang paling mempengaruhi pemilihan moda angkutan Kereta Api Priangan Ekspress adalah tarif (biaya perjalanan), waktu tempuh dan kenyamanan. Berdasarkan Aplikasi model pemilihan moda yang dilakukan pada 8 skenario, apabila diterapkan sistem Kereta Api Priangan Ekspress maka pada skenario 1,2,3,4,5 dan 6 pengguna angkutan Bus sebagian besar “pasti memilih†dan “mungkin memilih†angkutan Bus. Sedangkan pada skenario 7 dan 8, jika diterapkan sistem kereta Api sesuai skenario tersebut maka pengguna angkutan Bus \"mungkin memilih\" Kereta Api tersebut dengan peluang berkisar 54% - 58%. PT. KAI hanya membutuhkan demand sebesar 24,38% dari pangsa pasar saat ini untuk memenuhi kuota Kereta Api Priangan Ekspress. Berdasarkan hal tersebut, maka dengan menerapkan nilai atribut di skenario 8 (ΔWk. Tempuh -90 dan ΔKenyamanan 0), dengan besar Δtarif sebesar Rp. 34.500,- pun, PT. KAI sudah dapat memenuhi kuota Kereta Api. Pada kondisi yang sama, apabila PT. KAI menerapkan nilai atribut di skenario 8 (ΔTarif 20.000,- dan ΔKenyamanan 0), PT. KAI sudah dapat memenuhi kuota Kereta Api yang dibutuhkan dengan ketentuan ΔWk. Tempuh berubah menjadi hanya -65 menit.
Public transport service available to serve community in Banjar, Ciamis and Tasikmalaya who would travel to the area of Bandung or Jakarta was only Bus. Thus, on August 12, 2009 PT. KAI officially operated Train “Priangan Ekspress\" services from Banjar to Pasar Senen Jakarta. After 3 months of operation, Priangan Express train stopped operating because the occupancy rate was only 30 percent. Currently, there is a discourse about reopening Train Priangan express. This research focuses on the study of characteristics and analyzes the level of train Priangan Express demand. It is done by identifying factors which influence the mode choice of Priangan Express. Difference analysis between Train Priangan Express and regular bus is done by using stated preferences method. Thus, the mode choice model is found (split capital model) between the two modes of transport. The probability of mode choice between train Priangan Express and Regular Bus is measured with the binomial logit function. The result shows that most influential factors are travel expenses, travel time and travel convenience. Based on the mode choice model application with 8 scenarios, if Train Priangan Express system is implemented then at scenario 1,2,3,4,5 and 6 Bus passengers \"definitely choose\" and \"maybe choose†Bus. While in scenario 7 and 8, if Train Priangan Express system is applied according to the scenario, Bus passengers \"maybe choose\" Train with opportunities ranging from 54% - 58%. PT. KAI only need 24,38% demand of all market shares to meet the quota of train Priangan Express. Based on this, then by applying the attribute value in the scenario 8 (ΔTravel Time -90 and Δcomfort 0), with Δtariff as much as Rp . 34 500,- PT. KAI has been able to meet quota. At the same condition, if the PT. KAI applies attribute value in the scenario 8 (ΔTariff 20.000 and Δcomfort 0), PT. KAI has been able to meet the required quota with the provision Δt_travel is changed to only -65 minutes.
Kata Kunci : model pemilihan moda, stated preferences, probabilitas