Laporkan Masalah

VALUASI EKONOMI CANDI BOROBUDUR DENGAN PENDEKATAN TRAVEL COST METHOD DAN CONTINGENT VALUATION METHOD TAHUN 2010

Erdah Litriani, S.E., DR. Budi Harjanto, M.Si.

2011 | Tesis | S2 Magister Ek.Pembangunan

Candi Borobudur merupakan salah satu warisan budaya dunia (World Heritage) dengan List nomor 592 tahun 1991 oleh UNESCO yang merupakan candi Budha yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Mengingat pentingnya potensi kawasan Borobudur bagi penerimaan dan pendapatan Negara maka perlu di ketahui dan di hitung nilai ekonominya. Dengan diketahuinya nilai ekonomi dari kawasan Borobudur ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan dan menentukan besarnya target penerimaan dan anggaran belanja operasional kawasan Borobudur. Oleh karena itu diperlukan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kunjungan, kesediaan untuk membayar, dan kesediaan untuk menerima. Dalam penelitian ini menggunakan tiga model. Pertama, variabel terikatnya adalah jumlah kunjungan dan variabel bebasnya adalah travel cost, pendapatan, umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, dummy subtitusi, dummy jenis kelamin, dan dummy kebangsaan. Kedua, variabel terikat adalah kesediaan untuk membayar dan variabel bebasya adalah jumlah kunjungan, pendapatan, umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, dummy subtitusi, dummy jenis kelamin, dan dummy kebangsaan. Ketiga, variabel terikat adalah kesediaan untuk menerima dan variabel bebasnya adalah pendapatan, jarak, umur, dan tingkat pendidikan. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer merupakan hasil wawancara dengan pengunjung (travel cost dan kesediaan membayar) dan masyarakat (kesediaan menerima). Data sekunder berupa jumlah pengunjung Candi Borobudur selama satu tahun (September 2009 – Oktober 2010) dan data populasi penduduk kecamatan Borobudur. Alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikatnya. Pada pemilihan model dengan membandingkan R², AIC, dan SIC diperoleh bahwa model terbaik untuk estimasi jumlah kunjungan individu ke Candi Borobudur adalah model linier dan model terbaik untuk kesediaan membayar adalah model linier sedangkan model terbaik untuk kesediaan menerima adalah model linier-log. Nilai minimal rata-rata surplus konsumen sebesar 435.283,480 dan nilai maksimal rata-rata surplus konsumen sebesar 529.650,440. Nilai ekonomi Candi Borobudur berdasarkan pendekatan TCM yaitu Rp1.105.511.218.00 – 1.345.179.705.000. Nilai ekonomi berdasarkan pendekatan CVM (WTP) diperoleh sebesar Rp103.240.837.500 dan berdasarkan pendekatan CVM (WTA) diperoleh nilai ekonomi sebesar Rp852.348.000.000.

Borobudur Temple is one of the world cultural heritage with number 592 List by UNESCO in 1991 which is a Buddhist temple located in Magelang, Central Java. Given the importance of the potential area of Borobudur for the State revenue receipts and hence need to be in the know and in calculating its economic value. By knowing the economic value of the area of Borobudur is expected to be a reference for the government to set policy and determine the amount of revenue targets and operational budget of the area of Borobudur. Therefore, research is needed to identify the factors that influence the number of visits, the willingness to pay, and willingness to accept. In this study, using three models. First, the dependent variable is the number of visits and the independent variables are the travel cost, income, age, educational level, number of dependents, substitution dummy, gender dummy, and nationality dummy. Second, the dependent variable is the willingness to pay and independent variable is the number of visits, income, age, educational level, number of dependents, substitutiondummy, gender dummy, and nationality dummy. Third, the dependent variable is the willingness to accept and the independent variables are income, distance, age and education level. Data applied in this research is primary data and secondary data. Primary data is the result of interviews with visitors (travel cost and willingness to pay) and society (willingness to accept). Secondary data in the form of number of visitors to the Borobudur temple for one year (October 2009 - September 2010) and data population of Borobudur Region. The analysis tools applied is regression analysis to identify independent variables affect the dependent variable. At choosing models by comparing the R², AIC, and SIC is obtained that the best model to estimate the number of visits an individual to Borobudur Temple is a linear model and the best model for willingness to pay is the linear model while the best model for willingness to accept is linier-log. Minimum value of the average consumer surplus amounted to 435.283,480 and the maximum value of the average consumer surplus amounted to 529.650,440. The economic value of Borobudur temple on TCM approach is Rp1.105.511.218.000 – 1.345.179.705.000. The economic value based on CVM approach (WTP) obtained by Rp103.240.837.500 and economic value based on the CVM approach (WTA) Rp852.348.000.000.

Kata Kunci : Warisan Budaya, Candi Borodudur, TCM,WTP,WTA,Nilai Ekonomi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.