Laporkan Masalah

Basudara dalam permukiman Titiwungen Selatan pasca reklamasi Pantai Manado

WAANI, Judy Obet, Promotor Prof. Ir. Nindyo Soewarno, M.Phil., Ph.D

2010 | Disertasi | S3 Ilmu Teknik

Permukiman dengan reklamasi kawasan pesisir adalah fenomena yang berkembang di Indonesia. Kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan diikuti dengan pemberlakuan otonomi daerah dengan memberikan kewenangan bagi daerah mengolah daerah pesisir, berdampak pada munculnya program reklamasi pantai. Fokus penelitian pada makna dan perilaku keruangan masyarakat dengan lokus, permukiman masyarakat Titiwungen Selatan pasca reklamasi pantai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Fenomenologi Husserl. Cara penelitian ini dilakukan dengan grand tour dan kemudian diikuti dengan mini tour. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi lapangan. Data terkumpul, kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis induktif. Tahapan analisis induktif dimulai dari unit informasi, tema, kemudian membentuk konsep. Selanjutnya konsepkonsep tersebut membentuk teori. Terdapat empat jawaban dari pertanyaan penelitian dalam disertasi ini. Pertama, makna ruang permukiman pasca reklamasi pantai terdapat dalam 7 konsep yang terbentuk dalam penelitian ini, yaitu (1) hak pasini; (2) eksistensi ruang; (3) penyesuaian diri; (4) konsensus ruang; (5) konsep penanda ruang; (6) strategi pertahanan ruang; (7) legitimasi ruang. Kedua, strategi keruangan masyarakat pasca reklamasi pantai yaitu berkaitan dengan perilaku meruang dalam usaha untuk menyesuaikan, mempertahankan, menandai dan melegitimasi ruang. Ketiga, bahwa yang menjadi dasar tindakan masyarakat dalam permukiman yaitu nilai basudara. Keempat, teori lokal yang ditemukan dari penelitian tentang ruang permukiman yaitu basudara dalam Permukiman Titiwungen Selatan Pasca Reklamasi Pantai Manado. Substansi teori permukiman pasca reklamasi pantai yaitu basudara dalam masyarakat Titiwungen Selatan adalah kesadaran yang terkait pada pemahaman baku-baku bae (saling berbuat baik), baku-baku sayang (saling menyayangi/mengasihi) dan baku-baku kase inga (saling mengingatkan). Oleh sebab itu, di dalam basudara. muncul nilai-nilai kebaikan dalam bermasyarakat seperti kebersamaan, kekeluargaan, kesehatian, toleransi, pertemanan, kompromi, kesetiakawanan, komunikasi dan ketaatan. Nilai-nilai ini, memunculkan rasa saling mengasihi dan saling bertegur sapa satu dengan yang lain. Nilai-nilai ini yang kemudian mendukung teranyamnya eksitensi ruang dalam masyarakat. Terganggunya dan berubahnya salah satu dari ruang, aktivitas dan nilai memunculkan usaha masyarakat Titiwungen Selatan. Usaha tersebut berupa strategi keruangan baik untuk mempertahankan maupun untuk melanjutkan segala aktivitas, ruang dan nilai-nilai tersebut. Kata kunci: basudara, permukiman pasca reklamasi pantai, Titiwungen Selatan

Coastal reclamation is a temporary phenomenon that developed in Indonesia in recent years, and with the passage of regional autonomy program in coastal areas has led to processing programs for coastal reclamation. Therefore in this study the authors interested in writing about a settlement post-reclamation society, such as the people of South Titiwungen. Manado- North Sulawesi. In this study, the authors use the method of Husserl's phenomenology. For this research the author has done a grand tour and mini tours. The data were gathered through interviews and field observations. Once all data has been collected, those were analyzed with an inductive analysis, starting from the unit of information, themes, concepts that ultimately form the theory. There are four answers to research questions in this dissertation. First, the meaning of post-settlement space reclamation appeared in seven concepts that formed in this study, namely (1) the right of pasini; (2) the existence of space; (3) self-adjustment; (4) consensus space; (5) the concept of space markers; (6) spatial defense strategy; (7) the legitimacy of space. Second, the spatial strategy of post-reclamation of coastal communities associated with the behavior of space in an attempt to customize, maintain, mark and legitimized space. Third, that the basis of community action in the settlements is basudara value. Fourth, a local theory which is found from this research, concerning the settlement of space that is basudara in the Settlement of South Titiwungen Manado post- coastal reclamation The substance of the theory of basudara is a consciousness of understanding relating to the understanding of baku-baku bae (mutually do good to one another), baku-baku sayang (love each other /love) and baku kase lnga (remind each other). From these understandings then bring in the values of kindness in the community, such as togetherness, brotherhood, tolerance, friendship, compromise, solidarity, communication, and obedience. Then these values had created a sense of mutual love and respect in society life of South Titiwungen. Key words: basudara, post-reclamation of the coastal settlement, South Titiwungen

Kata Kunci : Basudara,Permukiman pasca reklamasi pantai,Titiwungen Selatan

  1. S3-FTK-2010-Judy_Obet_Waani-ABSTRACT.pdf  
  2. S3-FTK-2010-Judy_Obet_Waani-BIBLIOGRAPHY.pdf  
  3. S3-FTK-2010-Judy_Obet_Waani-TABLEOFCONTENT.pdf  
  4. S3-FTK-2010-Judy_Obet_Waani-TITLE.pdf