Laporkan Masalah

Hubungan kinerja penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dengan angka kekerapan kecelakaan kerja dan jaminan kecelakaan kerja :: Kajian khusus terhadap perusahaan kelompok jenis usaha III peserta program jaminan kecelakaan kerja pada PT Jamsostek Cabann Medan tahun 2005

SILABAN, Gerry, Promotor Prof. Dr. dr. Soebijanto

2010 | Disertasi | S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Angka kecelakaan kerja dan jaminan kecelakaan kerja perusahaan kelompok jenis usaha III tertinggi dibanding perusahaan empat kelompok jenis usaha lainnya peserta Program Jaminan Kecelakaan Kerja pada PT Jamsostek Cabang Medan tahun 2005. Kondisi ini tidak terlepas dari masalah penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sebagaimana ditetapkan dalam Permenakertrans RI No. 05 Tahun 1996 yang wajib untuk dilaksanakan perusahaan. Rendahnya kinerja penerapan SMK3 mengakibatkan angka kekerapan kecelakaan kerja dan jaminan kecelakaan kerja tidak dapat ditekan serendah mungkin. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap kinerja penerapan SMK3 dan mengkaji hubungannya dengan angka kekerapan kecelakaan kerja dan jaminan kecelakaan kerja perusahaan kelompok jenis usaha III peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei dengan rancangan sekat lintang (cross-sectional). Sampel penelitian sebanyak 55 perusahaan kelompok jenis usaha III peserta Program Jaminan Kecelakaan Kerja pada PT Jamsostek Cabang Medan yang tenaga kerjanya mengalami kecelakaan kerja selama kurun waktu 1 tahun (1 Januari - 31 Desember 2005). Data kecelakaan kerja dan jaminan kecelakaan kerja dikumpulkan dari Formulir Jamsostek 3 Bentuk K.K. 3 (Laporan Kecelakaan Tahap I) dan Formulir Jamsostek 3a Bentuk K.K. 3 (Formulir Laporan Kecelakaan Tahap II), sedangkan angka kekerapan kecelakaan kerja dihitung berdasarkan data jumlah kecelakaan kerja dan jumlah jam kerja. Kinerja penerapan SMK3 diukur melalui audit SMK3 dengan menggunakan daftar periksa yang terdiri dari 12 unsur dengan 166 kriteria audit SMK3. Analisis variansi (repeated measure) disertai dengan multiple comparison digunakan untuk menguji perbedaan kinerja 12 (dua belas) unsur audit SMK3 dan 5 (lima) prinsip penerapan SMK3. Analisis regresi dengan pendekatan analysis factor untuk menguji hubungan kinerja 12 (dua belas) unsur audit SMK3 dan 5 (lima) prinsip penerapan SMK3 dengan angka kekerapan kecelakaan kerja dan jaminan kecelakaan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja penerapan SMK3 perusahaan kelompok jenis usaha III peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan sangat rendah dilihat dari tingkat pencapaian pemenuhan kriteria audit SMK3. Terdapat 2 (3,64%) perusahaan yang memenuhi sebesar 60 - 84% dari 166 kriteria audit SMK3 dan 53 (96,36%) perusahaan yang memenuhi sebesar 0 - 60% dari 166 kriteria audit SMK3. Ada perbedaan kinerja 12 (dua belas) unsur audit SMK3, kinerja unsur 5 (pembelian) sangat signifikan (p < 0,01) tertinggi. Ada perbedaan yang sangat signifikan (p < 0,01) kinerja 5 (lima) prinsip penerapan SMK3, kinerja prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) sangat signifikan (p < 0,01) tertinggi. Ada hubungan yang signifikan (p < 0,05) kinerja 12 (dua belas) unsur audit SMK3 dengan angka kekerapan kecelakaan kerja, hanya kinerja unsur 3 (peninjauan ulang disain dan kontrak), unsur 4 (pengendalian dokumen), unsur 5 (pembelian), unsur 6 (keamanan bekerja berdasarkan SMK3), unsur 7 (standar pemantauan), unsur 9 (pengelolaan material dan pemindahannya), dan unsur 12 (pengembangan keterampilan dan kemampuan) mempunyai hubungan yang signifikan (p < 0,05) terbalik dengan angka kekerapan kecelakaan kerja. Ada hubungan yang signifikan (p < 0,05) kinerja 5 (lima) prinsip penerapan SMK3 dengan angka kekerapan kecelakaan kerja, kinerja prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) mempunyai hubungan yang sangat signifikan (p < 0,01) terbalik dengan angka kekerapan kecelakaan kerja. Tidak ada hubungan yang signifikan (p > 0,05) kinerja 12 (dua belas) unsur audit SMK3 dan kinerja 5 (lima) prinsip penerapan SMK3 dengan jaminan kecelakaan kerja. Disimpulkan bahwa penerapan SMK3 tidak komprehensif, konsisten, dan berkelanjutan. Oleh karena itu mana jemen harus meninjau ulang pelaksanaan penerapan SMK3 yang disertai dengan komitmen untuk meningkatkan kinerja penerapan SMK3 menuju nihil kecelakaan kerja yang pada akhirnya menurunkan angka kekerapan kecelakaan kerja dan jaminan kecelakaan kerja. Di samping itu diperlukan pembinaan dan pengawasan yang intens dari pegawai pengawas K3 terhadap penerapan SMK3 dan peran serta dari pihak yang terkait dan berkompeten dalam membantu penerapan SMK3.

The number of occupational accidents and occupational accident benefits at enterprises classified into business group III were the highest compared to four other business groups, which were the members of Occupational Accident Benefits Program of PT Jamsostek Medan Branch Office in 2005. This condition is inseparable from the implementation problems of Occupational Health and Safety Management System (OHSMS) as determined in Decree of the Ministry of Manpower and Transmigration Republic of Indonesia No. 05 Year of 1996 regarding OHSMS that must be implemented by the enterprises. The lower level of OHSMS implementation performance caused the accident frequency rate and occupational accident benefits could not be pushed down to the lowest level. The objectives of the research are to figure out the OHSMS implementation performance and to study its relationship with the occupational accident frequency rate and occupational accident benefits at enterprises classified into business group III, which were the members of Occupational Accident Benefits Program of PT Jamsostek Branch Office of Medan. This is a survey research with cross-sectional design. Samples of the study were fifty- five enterprises classified into business group III, which were the members of Occupational Accident Benefits Program of PT Jamsostek Medan Branch Office in 2005, whose employees experienced occupational accidents during one year (January 1st until December 31st, 2005). Data on occupational accidents and occupational accident benefits were collected from Jamsostek Form 3 Type K.K.3 (the Occupational Accident Report Phase 1) and from Jamsostek Form 3a Type K.K.3 (the Occupational Accident Report Phase II), meanwhile the accident frequency rate was calculated based on the data on the number of occupational accidents and working hours. The OHSMS implementation performance was measured through OHSMS audit using audit checklists that consisted of 12 elements with 166 OHSMS audit criteria. Analysis of variance (repeated measure) followed by multiple comparison was used to test the performance differences among 12 (twelve) OHSMS audit elements and 5 (five) OHSMS implementation principles related to the accident frequency rate and occupational accident benefits. The research findings show that the OHSMS implementation performance at enterprises classified into group business III, which were the members of Occupational Accident Benefits Program of PT Jamsostek Medan Branch Office of 2005, is strongly low based on the achievement level of OHSMS audit criteria. Two (3.64%) enterprises met 60 - 84% of 166 OHSMS audit criteria and fifty-three (96.36%) enterprises met 0 - 60% of 166 OHSMS audit criteria. There is a difference in performance of 12 (twelve) OHSMS audit criteria, in which performance of element 5 (purchasing) is significantly the highest of all (p < 0.01). There is a significant difference (p < 0.01) in the performance of 5 (five) OHSMS implementation principles, in which the performance of principle 3 (implementing occupational health and safety policy) is significantly the highest (p < 0.01). There is a significant relationship (p < 0.05) between 12 (twelve) OHSMS audit elements and the accident frequency rate; with only performance of element 3 (review of the design and the contract), element 4 (document controlling), element 5 (purchasing), element 6 (working safety based on health and safety management system), element 7 (monitoring standard), element 9 (managing and moving the materials), and element 12 (skill and expertise development recovering) having an inversely significant relationship with (p < 0.05) with accident frequency rate. There is a significant relationship (p < 0.05) between 5 (five) OHSMS implementation principles and the accident frequency rate with only performance of principle 3 (implement the health and safety principles) having an inversely significant relationship (p < 0.01) with accident frequency rate. There is no significant relationship (p > 0.05) between the performance of 12 (twelve) OHSMS audit elements and 5 (five) OHSMS implementation principles with the occupational accident benefits. It can be concluded that the OHSMS implementation had not been comprehensive, consistent, and sustainable. Therefore, it is a must for the management to review the implementation of OHSMS as an effort of realizing zero accident which in turn reduce the accident frequency rate and occupational accident benefits. In addition, intensive deve lopment and monitoring of OHSMS implementation by occupational health and safety inspectors and participation of the related and competent parties in helping implementing OHSMS are required.

Kata Kunci : Kinerja penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja,Angka kekerapan kecelakaan kerja,Jaminan kecelakaan kerja, OHSMS implementation performance, accident frequency rate, occupational accident benefits


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.