Laporkan Masalah

Tingkat kekeringan sebagai dasar pengelolaan pola tanam di agroekologi lahan kering Provinsi Jawa Timur

WAHAB, Moh. Ismail, Promotor Dr. H.A. Sudibyakto, MS

2009 | Disertasi |

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan spasio temporal karakteristik curah hujan pada 2 (dua) periode yaitu periode 1971-1989 dan 1990- 2007, menganalisis kerawanan kekeringan pada zona Agroekologi lahan kering, dan menyusun pengelolaan pola tanam di lahan kering dengan memperhatikan perubahan karakteristik curah hujan dan tingkat kekeringan di lahan kering. Penelitian dilakukan di wilayah Provinsi Jawa Timur yang difokuskan pada zona agroekologi (AEZ) lahan kering pengembangan tanaman pangan. Penelitian dilakukan dalam bentuk analisis data sekunder dan survei lapangan. Adapun tahapan penelitian yang dilakukan adalah : 1) Analisis perubahan karakteristik tipe iklim Oldman dan curah hujan periode tahun 1971-1989 dan 1990-2007, 2) penyusunan indeks kekeringan pada zona Agroekologi lahan kering; 3) penentuan pengelolaan pola tanam di lahan kering sesuai dengan tingkat kekeringannya. teknik pengambilan sampel yang dipilih adalah non-probability sampling. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan iklim di Provinsi Jawa Timur setelah periode 1990-an yang berakibat pada peningkatan kekeringan pada agroekologi lahan kering. Periode 1971-1989, tipe iklim Oldeman di Jawa Timur bervariasi dari tipe iklim B1 sampai dengan E, tetapi setelah tahun 1990-an variasi tipe iklim Oldemannya berubah menjadi hanya C1 sampai dengan D4 yang berarti sebagian wilayah Jawa Timur di agroekologi lahan kering dataran rendah (0-700 m di atas permukaan laut) sebesar 16,77% berubah menjadi lebih kering, dan sebagian wilayah yang lain (17,8%) menjadi lebih basah. Dari 106 titik stasiun penakar hujan yang dianalisis, 58,49% stasiun penakar hujan jumlah curah hujan musim kemarau makin sedikit (3 – 500 mm/musim). Sejumlah 56 stasiun (52,8%) mengalami peningkatan jumlah curah hujan musim hujan dengan kisaran peningkatan 1-600 mm/musim hujan, sedangkan 49 stasiun hujan (46,22%) mengalami penurunan jumlah curah hujan musim hujan dengan kisaran pengurangan 1-500 mm/musim Kondisi kekeringan pada bulan Juni-Agustus (MK-2) pada periode 1990-2207 semakin kering. Pada periode tahun 1971-1989, sekitar 159.055,77 ha (98,06%) lahan kering di Jawa Timur mempunyai pola tanam padi – kedelai – jagung. Setelah tahun 1990-an, pola tanam di lahan kering tersebut berubah menjadi padi – jagung/kedelai, karena tingkat kekeringan pada bulan Mei sudah tinggi (Kriteria Palmer berada pada Sedikit Kering (Nilai Indeks -0,5) sampai dengan Sedikit Basah (Nilai Indeks 0,99)), sehingga petani hanya bisa menanam 2 x dalam setahun.

This study aims to analyze spatial and temporal variation of rainfall in 2 (two) period i.e. 1971-1989 and 1990-2007, to manage zoning level of dryness in agroecology zone on dryland, and to arrange management of planting pattern in dryland based on change of characteristic rainfall and the level of drought and the behavior of farmers in managing the drought. Research was done in the area of East Java that is focused on agroecology zone (AEZ) of dry land crops. Research was conducted by secondary data analysis and field survey. The stages of the research are: 1) Analyze of the characteristics of the type climate Oldeman and rainfall in 2 (two) period i.e. 1971-1989 and 1990-2007, 2) preparation of the index drought of Agroecology zone on dry land; 3) determining planting pattern in the dryland based on the level of its dryness. Sampling procedure design used non-probability sampling. Results showed that climate change has been occurred in a part of East Java Province area since 1990’s that caused increasing of drought on dryland area. Within the period of 1971-1989, the Oldeman climate types in East Java varied from B1 to E, but after the 1990s the types have changed into only C1 to D4 that means a part of East Java area (16.7%) changed to become more dry and 17.8% area of East Java became more wet. Some of areas in East Java (58.49%) have experience in reduction of the amount of dry season rainfall ranging from 3 to 500 mm/season. Observation from 56 rainfall stations (52.8%) have reported an increase in the number of rainy season rainfall ranging from 1 to 600 mm/rainy season, while the other 49 stations (46.22%) have reported the decrease in the number of rainfall ranging from 1 to 500 mm/season. There was an indication of worsened drought during MK-2 (June-August). In the period of 1971-1989, about 159 055.77 ha (98.06%) farmers in the dryland of East Java were able to cultivate three times a year (rice - soybean – maize). However, in the period of 1990-2007, they were only able to cultivate twice a year (rice - corn/soybean) because the level of drought in May was already high and covering an area of about 81.5% of East Java.

Kata Kunci : Spasio temporal,Kekeringan,Pola tanam,Lahan kering, spatial and temporal, drought, cropping pattern, dryland


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.