Etika Buddhisme awal :: Relevansinya terhadap etik global
WARDOYO, Dharmaputra Aris, Promotor Dr. M. Mukhtasar Syamsuddin
2009 | Disertasi |Penelitian Buddhisme awal khususnya dalam bidang filsafat moral bertujuan menjelaskan Buddhisme awal dengan sudut pandang teori etika umum. Penelitian diawali dengan kajian filsafati terhadap Buddhisme awal. Analisis terhadap Buddhisme awal dengan metode filsafat kritis, intuitif, bahkan hermeneutik dipergunakan untuk memahami sistem filsafat Buddhisme awal. Kajian heuristis dan sintesis juga dilakukan untuk memaparkan relevansi etika Buddhisme awal terhadap etik global. Buddhisme awal merupakan salah satu sistem filsafat India yang muncul pada abad ke 6 S.M. dan bertahan hingga saat sekarang ini. Sumber pengetahuan Buddhisme awal adalah pencerahan Buddha saat memahami kebenaran Dhamma, fenomena segala sesuatu yang terdapat dalam alam. Karakteristik kebenaran berupa prinsip kausalitas atau sebab-akibat sebagai pembentuk keberadaan segala sesuatu. Kausalitas menjadikan timbulnya ketidak-kekalan, ketidak-sempurnaan, dan ketanpaintian sebagai corak keberadaan segala sesuatu di alam semesta ini. Hidup manusia mengalami penderitaan psikis, sebab pada umumnya manusia menggunakan hasrat nafsu untuk menanggapi corak keberadaan tersebut. Hasrat nafsu serakah, benci, dan gelap-batin sangat tidak tepat apabila dipergunakan untuk hidup didalam corak keberadaan itu. Justru ketiadaan serakah, benci, dan gelap-batin akan sangat sesuai bagi hidup, sehingga manusia bisa bebas dari penderitaan psikis dan mengalami kebahagiaan psikis. Serakah, benci, dan gelap-batin dapat ditiadakan dengan cara melatih diri dalam kebijaksanaan, kemoralan, dan kesadaran. Moralitas Buddhisme tidak bisa dipisahkan dengan kebijaksanaan dan kesadaran, sebab kebijaksanaan memberi arah tujuan moralitas tersebut, dan kesadaran akan membangkitkan kesadaran moral yang akan memperkuat penerapan moralitas. Etika Buddhisme awal merupakan sistem filsafat moral yang mempunyai arah tujuan ketiadaan hasrat nafsu, oleh karena itu disebut etika pembebasan nafsu. Kesadaran moral Buddhisme awal memperjelas perbedaan antara pembebasan hasrat nafsu dengan perbudakan hasrat nafsu. Nilainilai keutamaan etis Buddhisme awal adalah cinta-kasih, welas-asih, simpati, dan keseimbangan psikis. Etika Buddhisme awal memberi kontribusi terhadap etik global, sebab kaidah utama atau kaidah emas etik global terdapat dalam Buddhisme awal, yaitu perlakukan setiap manusia seperti memperlakukan diri sendiri, demikian pula empat norma etik global terdapat dalam norma-norma etika Buddhisme awal, yaitu menghindari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, dan perkataan tidak benar. Jadi etika Buddhisme awal menyumbangkan pandangannya terhadap muatan dan tujuan etik global untuk mengatasi penderitaan hidup. Tidak mungkin terjadi perdamaian dunia, tanpa ada perdamaian agama dan budaya masyarakat. Etik global merupakan prinsip etis masyarakat dunia untuk bersama-sama menyelesaikan berbagai masalah dunia. Etik global sebagai tempat pertemuan etis dan budaya masyarakat dunia. Kata kunci: Buddhisme awal, Penderitaan, Etika Pembebasan Nafsu, Etik Global, Perdamaian
The research on early Buddhism especially on the moral philosophy is aim to describe early Buddhism in its relevance with the theory of common ethics. The research was started with the philosophical approach to early Buddhism. Early Buddhism is analyzed base on philosophical method namely critisism, intuition, or even hermeneutics is used to understand the philosophical system of early Buddhism. Heuristic and synthesize approach is also used to describe the relevance of early Buddhism with global ethic. Early Buddhism was one of Indian philosophical systems which appeared in the sixth century BCE and still exists until now. The source of early Buddhism was the enlightenment of Buddha in which he conceived the truth of Dhamma, a phenomenon of all over the universe. The characteristics of the truth was the causality principle or cause and effect in forming any conditions. Causality causes the appearance of impermanence, suffering, and no-soul as the characteristics of everything in the universe. Man’s life experiences a psychological suffering, because generally man uses desire to face those characteristics. The desire of greed, hatred, and delusion are extremely improper when used in all existences. On the contrary, the absence of greed, hatred, and delusion will be extremely proper for living, so that man can be free from psychological suffering and experience a happiness in life. Greed, hatred, and delusion can disappear by self training of wisdom, morality, and awareness. Buddhist morality can’t be separated from wisdom and awareness, because wisdom gives the orientation to that morality goal, and awareness will raise the moral consciousness which can strengthen moral practice. Early Buddhism ethics was a moral philosophical system which has a goal to erase the desire, therefore it is called ethics free from desire. Early Buddhism moral consciousness makes a clear difference between freedom from desire and slavery of desire. The moral superiority value of early Buddhism is loving-kindness, compassion, sympathy, and mental equanimity. Early Buddhism ethics give a contribution to global ethic, because the superiority rule or golden rule of global ethic existed in early Buddhism, that is treating every person as treating oneself, likewise the four norms of global ethic existed in the early Buddhism norms, namely avoid killing, stealing, immoral sexual conduct, and false speech. Thus, early Buddhism ethics contribute a view about the contents and the goal of global ethic to abolish life suffering. It is impossible to make world peace without having peace among religions and cultures of the society. Global ethic constitutes the ethical principles of the world society together to solve the world problems. Global ethic is like the meeting place of the ethics and cultures among the world society.
Kata Kunci : Buddhisme awal,Penderitaan,Etika pembebasan nafsu,Etik global,Perdamaian,Early Buddhism, Suffering, Ethics free from desire, Global ethic, World peace