Pemerintah kota dan masyarakat bumiputra, Kota Malang 1914-1950
HUDIYANTO, R. Reza, Promotor Prof. Dr. Djoko Suryo
2009 | Disertasi |Penelitian ini bertujuan untuk membahas perubahan masyarakat Kota Malang sebagai dampak dari impelementasi kebijakan Penguasa selama periode 1914-1950. Salah satu faktor yang mempengaruhi kebijakan penguasa kota adalah perubahan fisik kota. Di sisi lain, perubahan kebijakan itu menjadi faktor penting dalam perubahan sosial masyarakat kota. Penelitian ini diawali dengan studi literatur dan diikuti dengan pengumpulan informasi yang berasal dari surat kabar, majalah, arsip dan saksi mata. Langkah berikutnya adalah membangun fakta dan langkah terakhir adalah menginterpretasi dan menyajikan dalam bentuk tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dekade kedua abad XX, masyarakat Bumiputra di kota Malang mengalami perubahan sosial yang cukup penting. Perubahan itu dapat dibagi menjadi dua fase. Fase pertama yang terjadi pada tahun 1914-1930 ditandai dengan perubahan lingkungan dari kota agraris-perkebunan menjadi kota yang multi fungsi. Penduduk kota mulai terlibat dalam lingkungan baru yang menuntut ketrampilan dan kemampuan teknis. Fase kedua yang terjadi pada kurun 1930-1950 ditandai dengan munculnya kelompok masyarakat Bumiputra lapisan menengah atas dan lapisan bawah. Kelompok pertama berhasil masuk dan berpartisipasi dalam administrasi kota dan lembaga-lembaga lainnya di dalam kota akan tetapi kelompok kedua termarjinalisasi. Mereka menjadi korban dari kebijakan penguasa yang membatasi kesempatan mereka dalam memanfaatan ruang kota untuk kepentingannya. Dalam perkembangannya, kelompok masyarakat bawah yang sebagian besar terdiri atas penduduk kampung ini tidak dapat terusir dari kota karena memiliki kemampuan dan strategi dalam menghadapi berbagai perubahan situasi. Sementara itu, beberapa dari kelompok masyarakat lapisan menengah dan atas dari masyarakat Bumiputra berhasil memanfaatkan infrastruktur politik dan ekonomi kota dalam memperjuangakan kepentingan masyarakat Bumiputra di kota Malang.
This study aims to examine the changing of urban society in the city of Malang as the impact of implemeted policies by ruler from 1914 to 1950. In this case, the physical changes of the city had immediate effect on policies implemented by ruler. In addition, the changes of policies were also important factors of the urban social change. The study was initiated by exploring secondary sources and followed by collecting information from newspapers, magazines, archives and eye witness as informant. The next steps were building and nterpreting the facts, and the last one was presenting them in written form. The research provides evidence that native people of the city experienced important social changes in the second decade of the twentieth century. The changes were divided into two phases. The first phase occurring from 1914 to 1930 was indicated by the functional change from a simple plantation town to a multifunction city. Inhabitants living inside the city began to live with a new environment that required new skills and technical capabilities. The second phase occurring from 1930 to 1950 was marked by distinction between high-ranked and low-ranked natives inhabitants. The first succeed to involve themselves in municipal administration and other institutions in the city. On the other hand, the latter were marginalized. They were the victim of municipal government who suppressed their opportunity in utilizing city spaces to survive. In the course of time, the low-ranked people that largely consisted of kampong occupants could not be dispelled from the city because of their capability and strategy to cope with the changing situation. Meanwhile, many members of high-ranked citizens succeeded to utilize political and economic infrastructure of the city to struggle for the sake of Indonesian people in Malang.
Kata Kunci : Penguasa,Kebijakan masyarakat,Kota, Ruler Policy Society Urban