Efisiensi relatif dan perilaku petani terhadap risiko usahatani bawang putih dan bawang merah di Kabupaten Karanganyar
SRIYADI, Promotor Prof. Dr. Ir. Sri Widodo, M.Sc
2009 | Disertasi |Penelitian bertujuan untuk menganalisis : tingkat risiko pendapatan, perilaku petani terhadap risiko, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani terhadap risiko, penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien, tingkat efisiensi relatif, dan pengaruh perilaku petani terhadap efisiensi relatif usahatani bawang putih dan bawang merah. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karanganyar dengan menggunakan metode Multistages Cluster Sampling, dengan mengambil 200 sampel petani dengan menggunakan metode Simple Random Sampling. Untuk menganalisis tingkat risiko pendapatan digunakan analisis koefisien variasi. Analisis perilaku petani terhadap risiko menggunakan fungsi utilitas bentuk kuadratik dan pangkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani terhadap risiko dianalisis dengan menggunakan persamaan linier berganda. Efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi dianalisis dengan model maksimisasi keuntungan. Tingkat efisiensi relatif dianalisis dengan model maksimisasi keuntungan dinamis, sedangkan pengaruh perilaku petani terhadap efisiensi relatif dianalisis dengan menggunakan regresi model perpangkatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa risiko usahatani bawang merah lebih tinggi dari bawang putih. Sebagian besar petani berperilaku enggan terhadap risiko. Petani semakin enggan terhadap risiko jika semakin luas lahan, semakin tua umur, semakin tinggi tingkat pendidikan, pengalaman usahatani belum matang, jumlah anggota keluarga sedikit, tingkat kegagalan rendah, dan pendapatan dari usahatani kecil. Penggunaan faktor produksi luas lahan dan tenaga kerja pada usahatani bawang putih belum efisien, sedangkan bibit, pupuk organik, pupuk Urea, pupuk TSP, pupuk NPK, pupuk POSKA, pestisida Curacron EC, pestisida Score, pestisida Sellestol, dan pestisida Dithane M-45 tidak efisien. Sementara penggunaan faktor produksi luas lahan, tenaga kerja dan pupuk organik pada usahatani bawang merah belum efisien, sedangkan bibit, pupuk Urea, pupuk TSP, pupuk NPK, pupuk POSKA, pestisida Curacron EC, pestisida Score, pestisida Sellestol, dan pestisida Dithane M-45 tidak efisien. Usahatani bawang merah sudah efisien sedangkan usahatani bawang putih belum efisien. Semakin meningkat keengganan petani pada risiko semakin efisien usahatani bawang putih dan bawang merah. Untuk pengembangan usahatani bawang putih dan bawang merah perlu digunakan lebih banyak pupuk organik yang layak pakai dan pestisida organik serta dilakukan penanaman tepat pada waktunya.
This research aims to analyse : the income risk, the farmers behavior toward risk, the factors influencing the farmers behavior toward risk, the efficiency allocation of resources, the level of relative efficiency and, the farmers behavior toward relative efficiency of garlic and shallot farming. This research was done in Karanganyar, using multistage cluster sampling method, of 200 sample farmers using simple random sampling method. The income risk was measured by variance. The farmers behavior toward risk is using of quadratic and power utility function. The factors influencing the farmers behavior toward risk is analysed by multiple linear equation. The resources allocation efficiency is analysed by profit function. The level of relative efficiency analysed by profit dynamic maximize, while the farmers behavior toward relative efficiency is analysed by power function. The analitical result shows that the risk of shallot farming was greater than garlic farming. Most farmers were risk averse. Greater aversion toward risk is related to larger farm size, older age, lower education, lack of experience in farming, smaller size of households, low rate of failure, and smaller farm income. Farm size and labor allocatively efficient in garlic farming, while seed, organic fertilizer, Urea fertilizer, TSP fertilizer, NPK fertilizer, POSKA fertilizer, Curacron EC pesticide, Score pesticide, Sellestol pesticide, and Dithane M-45 pesticide are inefficient. Farm size, labor, and organic fertilizer of shallot farming are allocatively efficient, while seed, Urea fertilizer, TSP fertilizer, NPK fertilizer, POSKA fertilizer, Curacron EC pesticide, Score pesticide, Sellestol pesticide, and Dithane M-45 pesticide are inefficient. The shallot farmings are efficient and garlic farmings are inefficient. The greater aversion toward risk is the more efficient of garlic farming and shallot farming. To develop the garlic and shallot farming required more feasibly-applied organic fertilizer, bio pesticide, and on time planting.
Kata Kunci : Efisiensi relatif,Perilaku,Risiko,Bawang putih,Bawang merah,relative efficiency, behavior, risk, garlic, and shallot